Nasib Menjadi Buruh Pabrik “Diam Salah, Ngejawab Cari Gara Gara”

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatu

Dimarahi Atasan
Dikutip Via Google

Apakah anda seorang karyawan?

Apakah anda pernah dimarahi atasan? Sering kali, wkwkwkw 😛

Pasti serba salah ketika kita mendapat masalah, diam disalahkan dan ber argumen juga tetap masih salah

Ya beginilah susahnya jadi bawahan dengan segala tuntutan untuk menjadi sempurna dengan nol kesalahan dimata atasan yang membuat kita tak menjadi diri sendiri.

Tapi mau bagaimana lagi, mereka atasan kita, mereka juga merasakan hal yang sama saat menhadapi tingkatan jabatan yang lebih tinggi dari mereka.

Yang menyebalkan di perusahaan yang mempekerjakan saya adalah adanya “Sistem Kemarahan Berantai“. Sistem ini biasanyaberlaku saat terjadi problem atau masalah di produksi.

Contoh dari sistem ini apabila dalam sebuah produksi terdapat sebuah masalah besar. Mulai dari manager memarahi kepala produksi, setelah itu kepala produksi memarahi leader-leader. Dan tidak sampai disitu saja, kemarahan itu berlanjut dari  para leader dengan mencari-cari kesalahan bawahannya termasuk saya untuk dijadikan alasan memarahi dan melampiaskan kekesalan.

Masalah sekecil apapun bisa jadi besar kalau sudah dipicu dengan sistem kemarahan berantai tersebut. Ada saja alasan untuk bisa memarahi kami. Sedangkan kami sebagai bawahan yang paling bawah hanya bisa berdiam dan bertanya tanya apa kesalahan kami?

Loyalitas tanpa batas
Dikutip Kampleng.com

BT, jengkel dan marah itulah ekspresi diri ketika menghadapi kemarahan yang sebetulnya bukan sepenuhnya salah kita sebagai bawahan.

Terkadang kesalahan tersebut dari material yang telat membuat proses produksi harus ditingkatkan demi mengejar target. Situasi ini juga bisa menimbulkan Lembur Paksa’an, Lembur Paksa’an ini pernah saya kutip di artikel yang berjudul “Lembur Yang Tak Dirindukan

Nah masa masa seperti itu adalah waktu yang sangat rawan melakukan kesalahan, sebab jika salah sedikit saja maka kemarahan bukan berfokus kepada kesalahan itu malah melebar ke masalah lain bahkan mengungkit kesalahan masa lalu.

Jadi ingat pertama kali kerja dimana emosi masih sangat kental melekat di jiwa. Jadi disetiap saya terkena marah besoknya saya tidak masuk kerja biasanya, Memang tidak profesional banget mengingat dulu bekerja hanya untuk sebuah formalitas dan sarana mendapatkan uang saja.

Berbeda dengan sekarang, mungkin sudah terlalu sering dimarahin jadi sudah terbiasa dan saya tidak begitu memperdulikannya. Serta rasa tanggung jawab mencari nafkah untuk keluarga.

Maksudnya tidak memperdulikannya diatas bukan sepenuhnya tidak peduli begitu saja, jadi tetap mendengarkan ceramah yang dikumandangkan leader. Akan tetapi tidak begitu memikirkan dalam dalam yang bisa membuat sakit hati.

Kalau tidak pedulinya itu seperti pada saat dimarahi saya malah kabur dan meninggalkan leader sendirian, Pasti leader saya tambah marah besar, bisa–bisa saya dipecat jadi karyawan karena hal yang saya lakukan itu.

Karena sudah lama bekerja di perusahaan ini, jadi sedikit memahami karakter para atasan dan bagaimana cara menyikapi suatu masalah dengan tenang. Dan beberapa trik yang berpedoman kepada pengalaman sering kali berhasil menangani masalah masalah yang sulit.

Terutama trik untuk tidak begitu peduli  itu sangat berhasil menurut saya, disamping saya tidak harus kepikiran dan mendendam, hati saya pun jadi lebih damai. Sampai sekarang masih mengunakan trik yang sama dalam menghadapi kemarahan atasan.

Tip Menghadapi Atasan Yang Suka Marah-Marah

Trik inilah yang biasa saya lakukan ketika menghadapi Bos yang tak mau mengalah dan sukanya marah-marah:

  1. Jangan panik. Buatlah diri kita lebih tenang, sadarkan diri kita bahwa kita adalah bawahan dan yang memarahi kita adalah atasan kita, sama halnya dengan dia, atasan kita juga punya atasan lagi.
    Jangan Panik, don't panicBahkan dia lebih parah kena marah dan makian dari atasannya lagi. Jadi jika dia memarahi kita mungkin memang sudah tugasnya dia sebagai atasan kita.
  2. Keep smile. Bukan berarti saat dimarahi kita senyam-senyum, lihat kondisi juga. Dengan senyum beban yang ada akan sedikit teratasi. Karena “Senyum sangat berguna untuk menghadapi hal yang merepotkan” (kata-kata Sai dalam komik Naruto).
    Keep Smile
    Dikutip Via Google

    Mendengarkan semua ceramah yang diberikan dengan selalu memperhatikan leader kita, walaupun tak harus dipahami dan dimengerti juga. Karena dengan mendengarkan orang lain berbicara, itu sudah cukup membuat dia merasa dihormati dan dihargai.

  3. Mengalah bukan berarti kalah, jadi ketika dia memberi ceramah yang menyebalkan kita cukup bilang “IYA, IYA dan IYA”. Maka masalah yang ada tidak akan makin panjang.
    Sebab apapun argumen yang kita berikan untuk membela alasan kita, kita akan tetap kalah dan akan semakin panjang dan meruncingkan masalahnya.
    Dan yang paling mudah adalah “mengakui kesalahan kita” itu sudah cukup buat leader sedikit berkomentar, paling yang dia bilang “Jadikan ini sebagai pengalaman, biar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi”. Dan masalah berakhir disitu dan kita menang….

    Mengalah bukan Berarti Kalah
    Dikutip Via Google
  4. Tarik Ulur. Jangan salah, bukan berarti tarik ulur hanya digunakan untuk mendapatkan hati seorang cewek saja, cara seperti ini juga bisa membuat leader kita menyukai kita.
    Seperti yang nomer 3 tadi, paling mudah cukup bilang iya iya dan iya kalau kita bisa berargumen saja tanpa ada fakta-fakta atau bukti yang memperkuat.
    Tapi jika ada fakta-fakta tersebut seperti masalah yang melibatkan pengalaman yang pernah kita alami, debat lebih tepat dari pada mengalah begitu saja.
    Disamping kita mendapat “VALUE” yang bisa membuat leader menghargai kita dan juga kita bisa sedikit merubah mindset leader untuk menerima jawaban atau usulan kita karena itu berdasar dengan pengalaman.
    Mau tidak mau dia akan  menerimanya karena dia mengerti kita lebih paham dan menguasai materi dibanding leader kita yang jarang langsung turun ke lapangan.

Alhamdullillah dengan saya melakukan cara seperti itu, saya bisa lebih akrab dengan atasan saya dan lebih tenang dalam bekerja.

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatu

Share This :

0 Replies to “Nasib Menjadi Buruh Pabrik “Diam Salah, Ngejawab Cari Gara Gara””

  1. […] menjelaskan bagaimana cara menghadapi atasan seperti yang pernah saya bahas di artikel “Diam salah, Ngejawab Cari Gara-gara“. Dan lain sebagai […]

  2. […] dan keadaan ekonomi yang tak mengharuskan saya melanjutkan kuliah, jadi akhirnya saya hanya menjadi buruh di sebuah perusahaan, mungkin memang saya tidak ditakdirkan menjadi guru seperti yang saya impikan. Tapi tetap saya bisa […]

  3. […] Baca Juga : Nasib Menjadi Buruh, Diam Salah Ngejawab Cari Gara-gara […]

  4. […] Baca juga : Nasib menjadi buruh pabrik, Diam salah, Ngejawab cari gara-gara […]

  5. […] Baca juga : Nasib menjadi Buruh Pabrik “Diam salah, Ngejawab cari gara-gara” […]

  6. […] manusia yang mempunyai keinginan tentang  sebuah kemudahan dalam mencari nafkah. Jika menjadi buruh pabrik mengharuskan mengorbankan waktu 8 jam sehari, aku sangat berkeinginan mempunyai penghasilan sendiri dirumah, dan tetap selalu bersama […]

  7. […] Baca juga : Nasib menjadi buruh pabrik, Diam salah nge-jawab cari gara-gara […]

  8. […] Baca juga : Nasib menjadi buruh “Diam salah, ngejawab cari gara-gara” […]

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.