Jika Jodoh Adalah Cerminan Diri, Berarti Cukup Mempelajari Sifat Cerminkan?

Jika jodoh adalah cerminan diri, mengapa harus susah payah untuk mencarinya, Kan sudah jelas dia berada tepat di depan kita.

Yah nggak gitu juga ding.

Jika kita memperbaiki diri dan memantaskan diri, Bukankah dengan begitu Jodoh kita juga akan memantaskan diri untuk bertemu kita kan? Tentu saja

Tapi sampai kapan?

Sampai kapan kalian akan di pertemukan, jika tidak ada usaha untuk saling menemukan?

Single sampai halal adalah sesuatu keputusan yang sangat luar biasa bagi seseorang, Tetap menjaga pandangan dan tak membiarkan menyentuh tangan yang bukan haknya.

Tapi dengan semua itu, kita terlalu percaya diri akan datangnya jodoh dengan sendirinya, Tak semua kehidupan seperti itu, kita diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang tidak sama, Dan pastinya, dengan jalan kehidupan yang berbeda pula.

  • Ada yang di pertemukan saat masih muda.
  • Ada yang dipertemukan saat sudah parush baya
  • Ada yang dipertemukan saat sudah tak lagi muda
  • Dan ada juga yang dipertemukan disaat sesudah menjalani kehidupan keluarga sebelumnya.

Itu kan sudah di takdirkan begitu?

Yah, memang jodoh merupakan takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Tapi, apa dengan begitu, kamu mau menunggu dan tak mengupayakan sesuatu?
Tentu tidak kan.

Kamu boleh berpikir Single itu bahagia, tapi pernahkah kamu berpikir kalau yang double itu lebih membahagiakan?

Terus apa hubungannya sifat cermin dengan jodoh?

Seperti judul yang aku bahas kali ini, yaitu tentang jika jodoh adalah cerminan diri, bukankah akan lebih mudah dengan memahami calon pasangan kita dengan mempelajari sifat dari cermin.

Apa hubungannya memahami calon pasangan dengan mempelajarisifat cermin?

Nggak ada, hahahaha

Oke, kita bahas satu-satu.

Jarak Pada Bayangan Cermin Sama Dengan Bayangan Benda

Jodoh itu harus dicari loh?

Sifat pertama cermin adalah jarak benda dan jarak bayangan pada cermin itu sama. Eh sebelum itu aku klarifikasi yah, cermin yang aku gunakan ini adalah cermin datar bukan cermin cekung atau cembung.

Intinya, jika kamu bercermin pada cermin datar. Disaat kamu berjalan mendekati cermin, bayanganmu di cermin juga akan mendekat terhadap cermin. Begitu kan?

Sama halnya dengan jodoh, jika kita bergerak mencari jodoh, maka jodoh kita akan berusaha mendekat juga.

Tapi dengan cara apa kalian dipertemukan, adalah hasil dari usahamu untuk bertemu dengan jodohmu.

Contoh:

Aku adalah seorang lelaki yang sering jalan dengan banyak wanita sewaktu single dulu, bukan pacaran. Aku susah untuk berkomitment seperti itu.

Aku hanya ingin mempelajari, bagaimana sih wanita itu. Mungkin itu tujuanku pertama. Juga berharap dengan mendekati lawan jenis, siapa tahu salah satunya adalah jodohku.

Dan disaat bersamaan, Istriku juga sama, didekati oleh banyak lelaki, dia juga sempat pacaran dengan salah satu lelaki.

Dan kita dipertemukan disaat sama-sama terluka dengan tingkah laku masing-masing. Kita sama-sama memperbaiki diri dengan kasalahan masa lalu bahkan sudah berada di ujung keputus asaan

Dia yang ditinggal menikah oleh beberapa lelaki yang pernah mendekatinya, dan aku juga terluka saat itu dan memutuskan untuk berdiam diri.

Dan di ujungnya, kita dipersatukan di waktu yang tepat dan dalam kondisi yang sudah membaik dari rasa kecewa dan terluka.

Intinya, ketika kita saling mencari dengan cara masing-masing, seperti aku dengan mendekati banyak wanita, begitupun dengan calon jodoh kita yang didekati banyak pria.

Begitupun saat aku sedang terluka karena kesalahan diri sendiri, begitupun dengan dia.

Jodoh adalah cerminan diri

Jika bayangan pada cermin akan mendekat dengan cara yang sama seperti pemilik bayangan yang sedang menghapiri cermin tersebut.

Tapi jika kita menjauh, maka bayanganpun juga akan ikut menjauh.

Baca juga : Jodoh itu dicari atau di nanti

Bayangan Di Cermin Terbalik

Source image by Stocksnap.io

Bayangan di cermin itu terbalik, kayak kanan kita akan menjadi kiri di bayangan cermin itu.
Inti sarinya, dengan mempelajari sifat cermin, kita harus legowo dengan bedanya sifat dengan pasangan.

Jodoh itu unik, Selayak cerminan diri,

Terkadang begitu terbalik dengan diri. Ketika perbedaan sifat tak menjadi kendala yang berarti. Karena di setiap perbedaan yang terjadi, disitulah banyak keberagaman yang menguatkan ikatan suci dimasing masing pribadi.
Seperti halnya perbedaan istri dengan Aku.

Aku adalah perokok, dan istriku pembenci rokok. Dari sini aja terdapat hal gila tentang bagaimana membuat orang yang benci rokok bisa mencintai orang perokok.

Itu seperti hal mustahil tapi tetap berhasil. Walau beberapa kali masalah tentang hal itu terjadi diantara kita, tapi tetap kita bisa menyelesaikannya dan bahagia setelahnya.

Banyak hal di kornbankan untuk itu, dan harus aku akui bahwa Cinta itu butuh pengorbanan untuk bisa berbahagia bersama.

Baca juga : Jika dia sudah datang, bagaimana dia tidak hilang

Bayangan Pada Cermin Bentuknya Sama Dengan Bentuk Benda

Bayangan kita pada cermin akan selalu sama, tak mungkin kan saat aku bercermin malah muncul wajah cantik Pevita pearce yang muncul.

Itu mustahil.

Walaupun Bisa saja sih, dengan menempelkan poster pevita pearce di depan cermin. Hahaha

Bayangan pada cermin akan memantulkanΒ bentuk yang sama dengan benda aslinya. ketika kita sudah mandi dan berkaca, maka bayangan di cermin juga terlihat sumringah dan seger juga.

Coba kalian bercermin disaat habis begadang dan baru tidur sekitar jam 3 pagi dan terbangun subuh. dan cobalah menghadap ke sebuah cermin. Apa yang akan terjadi?

Semoga tidak teriak melihat bayangan kalian sendiri, hihihihi

Sama halnya dengan jodoh, ketika kita berbuat yang terbaik saat sedang mencari jodoh, maka jodoh kita juga akan melakukan hal yang sama untuk bisa bertemu dengan kita.

Begitu juga dengan sebaliknya.

[AI]

Share This :

46 Replies to “Jika Jodoh Adalah Cerminan Diri, Berarti Cukup Mempelajari Sifat Cerminkan?”

  1. Tulisan yang cerdas, Bang Ainur Irawan. Salut!

    1. makasih mbak… πŸ˜€

  2. Duuuh tulisanya ttg jodoh lagiπŸ˜₯

    1. hahaha…
      biarin…
      biar kompornya tetap menyala terus, wkwkwkw πŸ˜›

    2. Udah kyak api tak kunjung padam aja, nyala terus πŸ˜…

    3. Aku mengompori sudah aku anggap ibadah..
      jadi yah, akan kuteruskan dengan membara, hahahahaha *tertawaJahat 😈😈😈

  3. Aku catat baik-baik poin pentingya. Nanti aku buktikan juga sendiri.
    #lagijadimuridbaik #rajinnyatet

    1. Yes…
      2 – 1 score sementara … Huhuhu
      *tertawa bahagia penuh kemenangan

    2. πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘

    3. Aku tambah lagi skorku nanti. Tenang saja. Jangan merasa menang dulu Mas Nur 😌

    4. Nikmati aja dulu, urusan nanti belakangan :3

    5. Yak, selamat menikmati 😌

  4. Tapi aku suka kaget kalau bercermin deket2 bang, tp klu mundur ga keliatan ga pake kacamata, terus ini jodohnya gimana? *lah. *

    1. Jodohnya gak peka… Wkwkwkk
      Terhalang jeda dan pledoi (walaupun aku lupa apa arti pledoi)

  5. Tinggal nyanyi afgan aja “jodoh pasti bertemu”

  6. Waaah

  7. “Bayangan pada cermin sama dengan benda”, mulai saat ini kayaknya harus berhenti ngarepin pangeran arab, nih. Hehehehe

    1. Hahaha…
      Yah gutu juga..
      Tidak menitik beratkan pada wajahnya…
      Tapi lebih dari perbuatanya…
      Kalau ganteng dan cantik itu relatif, itu tergantung dari sudut pa dang

  8. Setuju. Karena pada dasarnya jika kita tidak memahami diri sendiri bagaimana akan memahami orang lain.

    1. *catet
      Hu’um mbak didi…
      Setuju bingits

  9. Saya suka banget dg sifat byngan cermin yg terbalik itu dlm kaitannya dg jodoh/psangan, sebab begitulah shrusnya, krn berbeda itulah mka prlu bersatu, krn beda dan berkebalikan itulah, mka perlu kasih dan mengasihi, yg lmbut prlu jg yg agak keras/tgas, yg lemah prlu yg kuat, sbab ibratnya Tahu ketemu Tahu apa jadinya, gitu kli ya…

    1. hahahaha..
      aku manggut-manggut aja bang.. wkwkwkw

  10. Mbak Nur…kau membuat kejombloanku terasa di ujung tanduk! 😒😒😒

    1. mbak?…
      πŸ€”πŸ€”πŸ€”

    2. eh maaf maaf…koq jadi mbak sih?
      Perasaan td pggilnya mas, koq berubah sndiri πŸ˜…πŸ˜†πŸ˜‚

    3. 😞😞😞

    4. hehe jangan manyun dunk mas Nur. Kan…ga sengaja πŸ˜πŸ˜‚πŸ˜…

  11. Ini jleb
    #nangislagi πŸ˜‚

    1. Hahahaha πŸ™‚

    2. Lagi2 tentang jodoh, hrs gmana dong #nangislagi

    3. sabar yah mbak. kadang aku bikin artikel juga untuk self reminder kok

    4. Iya mas, semoga slalu diberikan kesabaran dan keikhlasan yaa Aamiin

    5. Aamiin πŸ™‚

  12. Tia Nirmalasari says: Balas

    Terimakasih dah mengingatkan, Mas Nur :’)

    1. sama sama πŸ˜€

  13. Aku pernah bertanya tanya .
    apa yang sebaiknya aku lakukan. hanya diam ataukah brusaha mengenal dia. dan apakah pacaran itu termasuk usaha?

    1. Usaha mengenal dia (taaruf)
      Baru ngajak nikah.
      Gitu sih lebih enak, jauh dari dosa…

    2. mungkin itu cara yang sah menurut agama.
      dan sayapun pernah mengalaminya .dan untuk hari ini belum berhasil. .hhh
      ta’aruf itupun masih ada hukum2 tertentu yang mengikatnya. dan pacaran itu bukanlah ta’aruf. melainkan hanya hal yang madhoroti (merugikan) saja..itu saja menurut saya…

    3. nah tuh, udah tau gitu bang… hehehe
      πŸ™‚

  14. Haha . .iya sih konsep dasarnya tau . .tapi terkadang prakteknya yang tak sejalan dengan yang di harapkan.

  15. Kreeen kta2 nya ijin share ya

    1. Silakan πŸ˜€

  16. […] Baca juga : jika jodoh adalah cerminan diri, mengapa tidak mempelajari sifat cermin […]

  17. Hari ini aku menyapa Mas Nur dengan ketulusan bersama senyuman karena bahagia menemukan tentang jodoh ada di sini.
    Kronologinya, setelah mengetikkan “Jodoh adalah…” di google, akhirnya nyampe sini dech, hehe πŸ˜€
    Terima kasih yaa Mas Nur, udah share sebagai pelajaran hidupnya. πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

    1. hahaha, bener kah itu?
      senengnya artikelku ada di google πŸ™‚

    2. Iyuup, coba adja ketik Mas Nur, ada ketemu khan? Selamett yaa. πŸ˜€

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini