Melangkah Di Sekolah Pertama

Beberapa kali membaca artikel teman tentang curhatannya saat pertama kali masuk sekolah, akhirnya aku juga ingin ikut-ikutan untuk curhat tentang zaman sekolah dulu.

Sudah 10 tahun yang lalu aku terakhir kali menginjakkan kaki ke tempat umum menuntut ilmu. Dan sudah 10 tahun juga aku tidak pernah belajar ataupun mengerjakan tugas rumah dari seorang Guru.

Aku sudah lupa bagaimana rasanya “tegang” saat menghadapi ujian sekolah, dan sepertinya aku dulu juga tidak setegang itu saat ujian sekolah macam apapun. Justru aku lebih tegang saat melamarmu maupun saat mengucapkan janji suci di depan penghulu.

Aku lupa bagaimana perasaanku saat pertama kali memasuki sekolah pertama, Zaman dulu masih belum ada PAUT maupun Playgroup. Adanya sih Taman Kanak-kanak (TK). Bahkan aku lupa kenangan saat masuk TK dulu, kenangan itu terhapus seperti album foto saat kecilku dulu yang rusak termakan kelembapan.

Entah kenapa, memoriku hanya sampai pada kelas 3 Sekolah dasar. Kenangan sewaktu kelas 1 dan 2 seakan hilang termakan zaman. Aku tidak bisa mengingat hal yang aku lakukan sewaktu berada di kelas 1 dan 2. Apa aku selugu itu atau memang pikiranku yang tak mampu mengingatnya.

Di kelas 3, aku baru menyadari bahwa aku punya kelebihan dalam mengerjakan soal tanpa harus belajar. Disaat anak-anak lain sibuk dengan mencari tempat les privat maupun minta di ajarin orang tua. Aku hanya sibuk dengan main disiang hari, sore mengaji, ba’da maghrib juga mengaji lagi, dan isya menonton televisi hingga terlelap.

Aku hanya membuka bukuku disaat aku mempunyai pekerjaan rumah yang ditugaskan oleh guru. Selebih itu, aku tidak ada minat untuk belajar, apalagi dirumahku tidak ada yang bisa mengajari aku. Bapakku hanya sekolah sampai kelas 3 SD, Bahkan Ibuku juga tidak pernah tau baca tulis karena tidak bersekolah.

Mungkin kecerdasan itu anugerah yang luar biasa yang diberikan Tuhan kepadaku. Dan aku menyesal tidak menghargai semua itu.

Karena hal itu, aku banyak dikenal oleh murid lain, bahkan teman-teman sekelas berbondong-bondong kerumahku untuk mengerjakan PR bersama. Ah tidak, bukan mengerjakan bersama, aku yang mengerjakan, dan mereka menulis sama seperti apa yang aku tulis.

Bahkan saat ujian, kebanyakan murid yang duduk disebelahku. Rela memberikan uang kepadaku agar aku bisa berbagi jawaban kepadanya. Aku menerimanya dengan senang hati, karena bagiku dulu, aku bisa bahagia dengan bisa membeli jajanan yang aku sukai tanpa harus meminta kepada orang tua.

Baca juga : Inilah metode belajar yang baik dan efisien

Selepas lulus Sekolah Dasar, lanjut ke tingkat SMP. Lagi-lagi aku mendapat hal special dengan bersanding teman-teman luar biasa di kelas special. Yah kelas anak-anak kutu buku dan kebanyakan anak dengan ekonomi yang berada dan sangat nurut kepada Gurunya.

Dengan berada di kelas anak-anak dengan pemikiran logis dengan menghabiskan waktu istirahat hanya diam dikelas atau perpus. Tubuhku mulai memberontak. Rasanya aku tidak cocok berada dalam kelas unggulan ini.

Terlalu banyak kompetisi antara siswa, terlalu banyak tekanan yang mengharuskan setiap siswa harus bisa, dan sebagainya. Sedangkan aku apa? Aku hanya sekumpulan besi yang terbuang.

Justru dengan bersanding dengan mereka, aku lebih malas lagi untuk belajar, Pekerjaan rumahpun aku kerjakan pagi-pagi sekali dengan mencontek siapapun yang datang pagi dikelas itu.

Aku beruntung sekali saat aku kelas 3, aku di tendang dari kelas panas itu. Aku lebih leluasa dengan kelas baru yang dihuni oleh sekumpulan preman-preman sekolah. Preman sekolah = murid yang biasanya keliling untuk mengumpulkan uang keamanan yang dia peroleh dari siswa-siswa lain yang pengecut dan berduit.

Aku merasa nyaman sekali dengan mereka, dari candaanya, dari rame-nya. Dan rasanya, dikelas 3 itu, aku merasa betah dan semangat sekali untuk bersekolah. Sama seperti waktu SMA, yang dihuni manusia luar biasa yang menjadikanku tumbuh seperti saat ini. Lebih hancur dan gila, wkkwkwkw.

Tapi nggak masalah, terkadang sebuah pelajaran hidup tidak bisa dipelajari hanya dari tumpukan buku yang sudah kita baca. Seperti tagline di blogku ini ”Terkadang sebuah cerita tercipta dengan sendirinya”.

Maksudnya, Aku adalah sebuah buku kosong, yang akan aku tulisi dengan perjalanan hidupku sendiri. Aku tak harus menulis sesuai cerita yang pernah ada di buku maupun di dongeng-dongeng. Aku adalah aku, yang terus berjuang memahami arti diri ini.
Dan untuk anakku yang baru kemarin menginjak bangku sekolah di Taman Kanak-kanak.

Carilah ceritamu sendiri, buat ceritamu lebih menarik ketimbang kisah kedua orang tuamu. Jadilah anak yang selalu membanggakan orang tuamu. Kamu tak harus jadi pintar dan juara, karena aku tau, kamu akan mewarisi kecerdasan kami dan kami tidak mengharuskanmu selalu mendapat rangking dikelas.

Aku hanya ingin kau berbaktilah kepada orang tuamu dan juga gurumu, karena hal itu  yang tak bisa dilakukan oleh orang tuamu, khususnya aku sebagai ayahmu yang sering memberontak kepada gurunya.

17 Juli 2017 - Hari pertama Naila berseragam sekolah
17 Juli 2017 – Hari pertama Naila berseragam sekolah

#Curhat #MasaSekolah #Obrolin
Ainur Irawan

Share This :

0 Replies to “Melangkah Di Sekolah Pertama”

  1. Yeeey sekolah, aku jd keinget dlu hr prtma sklah sd, sm tk tmn tmn pda nangis pas d tgl ortunya😂

    1. Aku lupa, dulu masih ada albumnya, sekarang udah hancur.. aku juga udah tidak begitu ingat kejadiannya hiks :'(

  2. Mas Ir waktu kls 3 SD pinter ya wlau jrang blajar, haha….tp kisah di SMP dan SMA gmn ya..kok jd “gitu”?
    Tnang aja, Naila bs lbih baik kok dari papanya. Krn jman sdh berubah. Lain dulu lain skrg.
    Disana msuk skolah hri prtma kmrin ya mas? Kmi tgl 10 Juli yg lalu.

    1. iyaahhh.. baru kemarin.
      tanggal 11 sebenaranya masuk untuk tingkat SD, cuma ngambil raport saja
      aamiin, moga jadi anak yang membanggakan orang tuanya

  3. Seragamnya sama waktu Aura TK dulu. Nakal nakal dikit mah gak papa lah, biasa itumah. Justru anak nakal biasanya setelah besar bosan nakal. Jangankan mas nur, aku saja yang cewek pas sma lbh nyaman di kelas sosial yang kalau guru tak ada ikut kabur lompat pagar. Besoknya orang tua dipanggil ke sekolah.
    Setelah dipanggil Ayah cuma akan bilang, selama bukan pacaran atau mabuk2an bolehlah dilakukan.

    1. yes… mabuk dan pacaran sama-sama memabukkan, wkwkwk
      iya mbak..
      aku juga mencoba tidak membatasi ruang gerak anak, cukup aku pantau dari jauh secara nyata dan doa. hihihih

    2. Kasian anak kalau terlalu dikekang. Mereka sebagaimana kita pasti tahu batasan koq.

    3. iyah… aku juga belajar dari bagaimana bapak dulu membiarkan aku untuk memilih jalan yang aku sukai kok.
      asalkan tetap bertanggung jawab. seperti menikahi anak orang, wkwkwkw

    4. Duh Bun bosan nakal itu… Haha saya sekarang malah pengen nakal karena duli dari TK sampai SMA termasuk murid baik-baik haha *repot

    5. 😀😀😀, jangan dicoba nanti malah betah nakal

    6. Haha nyoba dikit aja nanti tobat 😂

  4. saya juga waktu sma kmarin sempat masuk semacam kelas unggulan, tapi saya sama sekali ga betah karena kebanyakan orang disana belajaar terus dan suasana nya terlalu serius. Saya jadi bawaanya bosen banget di kelas hahahaha lebih enak kalau sekelas sama teman yang engga terlalu serius ada bercanda sedikit jadinya lebih seru aja gt hahaha

    1. kita sama bang…
      tos dulu dah, wkwkwkwk

  5. Selamat sekolah Naila cantik. Temukan hal-hal menyenangkan di sana dan kalau sudah besar jangan tiru papamu yang suka bikin baper di blognya hehe 😊😁

    1. hahahaha… 😀
      kok ujung2nya aku lagi.
      tenang kalau anak cewek harusnya lebih niru sama ibunya kan

    2. Haha roasting Om Ir 🌋

    3. Hahahaha dendam banget kayaknya sama aku, wkwkwk 😀

    4. Gak lagu nanti kuwalat 😽🙊

    5. Wooaah.. setujuuu 😀

    6. ini juga jahat….
      dendam banget ama aku, hahaha 😀

    7. Aku enggak dendam mas Nur 😀 😀 😀
      Sudah kubilang, ini ngitung kebijakan, buat nanti spesial thanks. wkwkwk.

    8. hahahaha 😀
      terzerah lah..

    9. hahaha.

  6. Saya juga nggak banyak ingat kejadian di kelas 1 atau 2 SD. Cuma ingat waktu itu hampir semua teman diantar ortunya masing-masing sementara saya brangkat sendirian di hari pertama hiks….

    1. aku juga udah berangkat sendiri bang saat SD, soalnya banyak teman sedesa juga yang berangkat jalan kaki ke sekolah

  7. Dulu pas SD kayaknya jaman-jaman mau ngapain gak pake banyak mikir. 🙂

    1. iya bang, soalnya kita juga gak punya banyak pikiran aneh-aneh semacam pacaran kayak zaman sekarang itu. hahahah
      pikiran kita, bisa beli jajan itu udah bikin bahagia, hahahah

    2. Omaaaaak. Hahaha. . Ya mau gimana lagi mas, kayak pramuka juga semakin tua kebanyakan kegiatan di ruangan. gak sering-sering diluar lagi. :mrgreen:

  8. Hai Naila, aku yakin dirimu tak membaca komentar ini. Pastilah bapakmu yang membacanya bersama rekanan blogernya. Semoga kelak lelaki yang naksir dirimu dan bertekad menjadikanmu pasangan hidup tidak jiper duluan menemui bapakmu yang sangar ini. Sangar karena berhati Rinto, berbodi Rambo. #peace

    1. Haissh.. padahal kita belum ketemu loh bang Dip… 😆😆
      entah suatu saat aku ingin menunjukkan blog ini kepada anakku kelak. 🙂

  9. ish ihss komenku sebelumnya masuk ke spamm..

    1. enggak kok, ada moderasi nya emang.. 🙂

  10. imut banget Naila kak

    1. iya, kayak aku. hahahaha 😛

  11. Wah sudah masuk sekolah saja Si Naila. Selamat menghadapi kerasnya dunia persekolahan Naila!
    Wahahaha.. Kelas unggulan di SMA saya dulu anaknya tetap bandel-bandel bang ainur. Yang membuat saya awalnya iri karena nggak bisa bergabung ke sana. Dan hebatnya kelas unggulan itu, biarpun bandel nilai rata-rata kelasnya jauh berada di atas kelas lainnya. Adanya kelas unggulan memacu niat belajar siswa. Alhasil diukur secara nilai, mereka terlihat jauh lebih baik

    1. iya, dulu waktu SMP di unggulan. aku cuma dapat peringkat 13 dikelas, itupun sama dengan perigkat 5 besar di kelas lain

  12. Sama nih, anak aku jg baru masuk sekolah TK.. Belum ad drama kompetisi kelas hingga mcm2 sih.. Namanya juga msh TK.. Intinya belajar adaptasi tahap 1 dulu..bermain dan bersosialisasi.. Belajar lain2 sih urusan belakangan.. 😄

    1. iyaaa… asalkan anak bahagia, itu udah cukup yak

  13. Siapa teman yg bikin postingan sekolah, mas? 😆

    1. Ya siape lagi kalo bukan Mas Tamvan..
      aku kan selalu ngikutin blog benih geol geol, wkwkwkw

  14. […] Baca juga : Melangkah di sekolah pertama […]

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini