Melangkahkan Kaki Di Tahun Baru 2018

Melangkahkan kaki di Tahun baru 2018

Libur tahun baru kemarin ngapain aja? Khususnya disaat malam pergantian tahun?

“Aku gak kemana-mana, aku kan muslim, jadi haram hukumnya ikut merayakan pergantian tahun baru itu!”
Yeah, pertanyaanku bukan “merayakan” loh, tapi menanyakan apa yang kalian lakukan saat libur tahun baru tersebut, juga tentang disaat malam pergantian tahun baru apa yang biasa kalian lakukan?

Bagiku, mengisi liburan tahun baru, bukan berarti “merayakan” tahun baru juga. Menurutku semua yang kita lakukan tergantung pada niatan masing-masing.

Seperti contoh, jika kita disaat liburan ke Bali dan bertepatan hari raya Galungan bagi umat Hindu. Bukan berarti kita melihat perayaan tersebut termasuk ikut serta dalam “merayakan” hari itu.

Juga disaat kita liburan ke candi-candi yang ada di Indonesia, dan bertepatan ada ritual khusus ditempat itu, kemudian kita hadir disana untuk melihat-lihat. Bukan berarti tindakan itu diartikan dengan “merayakan” loh.

Kan tidak adil juga jika melihat kembang api di tahun baru diartikan “merayakan” gemerlapnya tahun baru masehi. Atau liburan di tahun baru juga sama halnya diartikan “merayakan” juga.

Kadang orang itu lebih suka melihat kesucian diri sendiri ketimbang melihat noda kecil dalam hati. Bahkan menganggap apa yang dilakukan orang itu salah atas keyakinan pribadi, padahal semua itu sudah kehendak-Nya yang sudah mengatur segala hal di dunia ini.

Bukannya ada Tuhan yang sudah mengatur segala hal didunia ini, kenapa harus berlagak mengatur hidup orang lain seperti yang dilakukan Tuhan.

Sudahlah, mari kita lihat dan perbaiki diri sendiri ketimbang ngurusin orang. Toh segala hal yang dilakukan orang, tetap akan kembali pada diri masing-masing.

Ok, semua pembahasan diatas adalah pemanasan diluar topik yang ingin aku bahas. Tadi sedikit ingin berkomentar disaat ada salah satu temanku yang beralasan demikian saat ditanya “tahun baru ngapain aja?”.

Padahal lebih enak di jawab “Aku dirumah saja” ketimbang harus menyangkut pautkan “islam” didalamnya. Aku tahan dan aku keluarkan semua unek-unek ku disini, biar tidak terjadi perdebatan yang ujung-ujungnya sama-sama tidak ada yang benar. Maafkan…

Libur Tahun Baru, Kalian Ngapain Saja?

Kalau aku sih memang lebih banyak dirumah saja disetiap Tahun Baru, Alasan pertama tentu karena punya keluarga. Bagiku, menikmati malam pergantian tahun itu lebih enak berada didalam hangatnya keharmonisan keluarga.

Ajakan untuk keluar rumah saat malam pergantian tahun baru juga sering aku dapatkan, ajakan tersebut dari teman kerja, teman sekolah dan terkadang dari adik sepupu aku juga sering mengajak untuk keluar.

Tapi aku tetap dalam pendirianku, bahwa dirumah lebih menyenangkan ketimbang harus keluar pas malam tahun baru. Alasannya simple, karena malam tahun baru pasti jalanan macet, Biasanya turun hujan, Bakar jagung sendiri dirumah lebih murah ketimbang beli jagung bakar di jalan, bakar jagung untuk keluarga lebih menyenangkan, lihat kembang api dari rumah juga kelihatan kok, dirumah lebih hangat ketimbang di jalanan, apalagi dalam dekapan istri sambil lihat drama korea, eaaaahh.

Baca juga : Malam tahun baru enaknya kemana?

Tapi, tahun baru kali ini berbeda. Biasanya aku menghabiskan malam tahun baru di rumah aku sendiri. Sekarang aku ingin menikmati tahun baru dirumah baru kakak ipar di desa kelahirannya istri.

Tempatnya sepi dan jauh dari keramaian tahun baru seperti di tempatku tinggal. Memang untuk melihat kembang api, tidak akan terlihat dari tempat tinggal kakakku, tapi sekali-kali mencari suasana yang beda kan boleh.

Tahun baru dirumah kaka ipar
Tahun baru dirumah kaka ipar

Awalnya, aku jalan-jalan ke Wisata Bhakti Alam pada hari minggu kemarin, Disaat pulang aku tidak langsung pulang kerumah, tapi aku pulang kerumah kakak iparku. Aku juga mengetik artikel tentang wisata Bhakti Alam kemarin dan aku ketik artikelnya pinjam laptopnya keponakanku.

Nulis artikel sambil makan jagung bakar
Nulis artikel sambil makan jagung bakar

Sambil menunggu pergantian malam tahun baru, aku dan keluarga menyiapkan jagung bakar, kopi panas, dan tentu makanan yang siap disantap tengah malam nanti. Selesai mengetik artikel liburan kemarin, dan aku tidak sempat untuk upload foto. Aku beralih profesi menjadi tukang kipas jagung bakar.

Jagung bakar
Jagung bakar seharga 2 juta rupiah per potong, di buat dengan segenap cinta, dibalur dengan bumbu kasih sayang, dan dimasak oleh koki terkenal “suami idaman” yeaahhh #NggakBolehprotes

Tepat tengah malam, memang suasana di desa kakakku ini cukup sepi. Hanya segelintir kembang api saja yang terlihat di langit-langit malam itu. Sangat jauh berbeda saat berada di pandaan yang disetiap sudut langit, terlihat gemerlapnya kembang api.

Setelah kenyang dengan makan jagung bakar dan sedikit nasi di tengah malam, akhirnya kita sekeluarga tidur pulas disekitar setengah 2 pagi tahun 2018.

Oh iya, sebenarnya selain tahun baru, tanggal 1 januari ini cukup spesial bagi keluarga kakak ipar. Karena tepat tanggal 1 januari, anak pertamanya lahir di malam tahun baru seperti ini. Jadi tiap tahun baru, keluarga kakakku selalu membuat syukuran seperti ini.

Saat pagi, aku bangun dan melihat sekitaran rumah sudah basah oleh hujan rintik-rintik sejak dari subuh tadi. Seminggu sebelumnya, hujan enggan turun dan jarang-jarang juga malam tahun baru bisa seterang ini. Biasanya, malam tahun baru itu dihiasi oleh hujan rintik-rintik mulai sore hingga malam, terus air mengalir di hotel-hotel, wkwkwkw #abaikan yang ini.

Dan setelah hujan reda, matahari pun terbit di tahun 2018. Pelangi pun muncul dengan indah.

Pelangi di 1 januari 2018
Pelangi di pagi tahun baru 2018

Semoga di tahun baru ini, merupakan awal bagi mereka yang merasakan tahun sebelumnya tidak begitu berpihak kepadanya. Seperti yang belum dapat jodoh, moga ditemukan dengan jodoh yang terbaik menurut-Nya. Yang belum lulus, semoga bisa insaf dan fokus untuk skripsi dan menyelesaikan studinya dengan yang terbaik yang bisa dilakukan.

Dan terakhir, Semoga ditahun baru ini, Rahmat dan Hidayah-NYA selalu menyertai kita dan menjadi jalan petunjuk bagi kita agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih dewasa dan baik menurut-NYA. Aamiin

[AI]

Share This :

17 Replies to “Melangkahkan Kaki Di Tahun Baru 2018”

  1. Saya juga di rumah saja mas ir

    1. iya mas, lebih enak dirumah. 😀

    2. Tapi gak enak sendiri di rumah 🙇 istri lagi pulang

  2. Saya juga biasanya habisin tahun baru di rumah.
    Tapi dah dua tahun semenjak kerja di sini, malam tahun baru diisi dengan bakar-bakar ayam bareng teman-teman. Hhee

    1. lebih enak gitu yah mas, sudh hangat, kenyang lagi, heehe

  3. saya dirumah mas Ir, tidur. 😀

    1. 😀
      kalau ditempatnya mbk umi, apa ramai seperti kembang api gitu

    2. Tidaak Mas Nur. Dirumahku (desaku) sepi. Tp beberapa desa tetangga ramai kembang api. 😀

  4. Saya dirumah tapi tetep bisa liat kembang api gratisan *efek rumah dekat dengan hotel dan mal 😂

    1. wah, enak yah
      tempat tinggalku di kota kecil sih, cuma kalau masalah kembang api, ramai sekali meski bukan di hotel dan mal

    2. Mau di kota besar atau kecil yg penting bisa menikmati suasana tahun baru ya, meskipun ga turut berpartisipasi 😂

    3. iya mbak, setuju..
      yang penting tetap bahagia:)

  5. Bakar jagung haram juga loh mas, haha….

  6. Jadi pen jagung bakar mas huhuhu

    1. Udah habisss… 😛

    2. Kami tak bakat jangung si, kalau skrng uda susah nyari jangung

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.