Cinta Itu Tidak Harus Membutuhkan Alasan

Cinta itu butuh alasan? Sama seperti hidup yang harus ada alasan, seharusnya akan ada banyak alasan untuk bisa mencintai seseorang. Misalnya mencintai seseorang karena dia cantik ataupun tampan, karena dia baik, karena dia penuh perhatian dan lain sebagainya.

Sudah hal wajar disaat seorang mencintai pasangannya berawal dari alasan seperti itu. Namun kalau menurut saya pribadi, perasaan seperti itu lebih tepat disebut dengan menyukai. Cinta itu levelnya jauh lebih dalam dari perasaan suka.

Anggap saja jika cinta itu butuh alasan, kemudian di tengah jalan beberapa alasan yang menguatkan seseorang untuk mencintai itu hilang, apakah cinta itu tetap bisa bertahan?

Misalnya saja kita mencintai seseorang wanita karena beberapa alasan. Dari wajahnya yang cantik, imut, baik, penuh perhatian, dan memiliki suara yang sangat menyejukkan hati seperti si Nisa Sabyan.

Pada dasarnya perasaan tertarik pada lawan jenis memang berupa visualisasi panca indra, namun itu masih dalam tahap suka. Mencintai itu berada di level yang berbeda dari perasaan suka ataupun tertarik.

Misalnya saja kita memiliki alasan mencintai seorang wanita seperti ini :

Saya mencintainya karena dia cantik dan imut sekali

Saya mencintainya karena dia baik dan penuh perhatian

Saya mencintainya karena suaranya yang merdu saat melantunkan sholawat seperti Nisa Sabyan

Saya mencintainya karena senyumnya meluluhkan hati

Namun terjadi sebuah perubahan dengan si wanita, anggap saja si wanita ini mengalami kecelakaan.

Sebagian wajah cantiknya menghilang karena bekas luka di wajah yang tak bisa hilang, Dia kehilangan salah satu kakinya, dan suaranya juga hilang karena terlalu sering menangisi keadaan.

Jika seandainya terjadi seperti itu, dan kita terlalu fokus pada “alasan” dari mencintai seseorang. Apakah bisa kita menerima di wanita itu seutuhnya?

Dia sudah tidak cantik lagi, dia juga tidak bisa menunjukan perhatiannya seperti dulu, bahkan suaranya tidak begitu merdu, terlebih dengan hilangnya senyum karena luka itu. Mungkin itu sudah cukup menjadi alasan kenapa saya tidak bisa mencintaimu lagi.

Jika cinta itu butuh alasan, berarti akan ada ribuan alasan untuk tidak mencintainya lagi bukan?

Baca juga : Mengapa Harus Takut Jatuh Cinta

Mencintai Itu Harusnya Tak Banyak Syarat

Setiap orang pasti memiliki tipe-tipe ideal dalam mencari pasangan hidup. Bukankah kita semua juga menginginkan pasangan yang terbaik bagi kita?

Membuat sebuah “syarat” dalam mencari pasangan hidup memang tidaklah salah, namun jika kita terlalu mementingkan ego untuk menemukan pasangan sesuai “syarat”, Itu bukanlah cinta. Coba dengarkan lagunya Element yang judul lagunya “cinta tak bersyarat”.

Tak ada sedikitpun sesalku,Tlah bertahan dengan setiaku

Walau diakhir jala, Kuharus melepaskan dirimu

Ternyata tak mampu kau melihat, Dalamnya cintaku yang hebat

Hingga ada alasa, Bagimu tuk tinggalkan setiamu oow …

Demi nama cint, Telah kupersembahkan hatiku hanya untukmu

Tlah kujaga kejujuran dalam setiap nafasku

Karna demi cint, Telah kurelakan kecewaku atas ingkarmu

Sebab kumengerti cinta itu tak mesti memilik…

Andai saja bisa kau pahami, Layaknya arti cinta sejati

Karna cinta yang sungguh, Tiada akan pernah mungkin bersyarat ooh….

Itu lirik lagu dalem banget, jadi baper menuliskannya.

Sering kali kita menunggu orang yang benar-benar “ideal” untuk menjadi pasangan hidup. Meskipun ada banyak juga pilihan di sekitar kita yang dirasa cukup baik untuk dijadikan pasangan hidup nantinya. Namun kita terlalu fokus pada menunggu sosok yang sempurna versi kita.

Sumber gambar di Pixabay.com

Dalam hidup, mencari pasangan itu seperti memilih bus di jalan. Akan ada banyak bus yang berhenti dan menawarkan jasa mengantar kita ke tempat tujuan.

Disaat bus pertama datang, kita melihat keadaan bus tersebut yang disesaki banyak penumpang. Kita enggan menaikinya sembari  berkata dalam hati “mungkin bus berikutnya”.

Bus kedua datang, tidak banyak penumpang namun penampilan busnya tidak begitu menarik, terlihat tua dan banyak cat yang terkelupas di dinding bisnya. “Mungkin bus berikutnya bisa lebih bagus”.

Datanglah bus ketiga, penampilannya bagus namun tidak ber-Ac. Pasti gerah dan panas menaiki bus tersebut, mungkin bus berikutnya lagi.

Datanglah bus keempat, Busnya bagus, tidak disesaki penumpang, ber-AC dan ada televisinya juga. Akhirnya kita menaiki bus tersebut. Dudukan busnya nyaman dan interiornyaterlihat sangat bagus.

Saking nyamannya, kita tertidur di dalamnya, hingga akhirnya kita sadar setelah terbangun bahwa kita menaiki bus yang salah. Sudah tidak sampai tujuan bahkan jaraknya semakin jauh dan membutuhkan banyak biaya untuk bisa kembali ke tujuan awal.

Sering kali kita mengalami hal tersebut, berharap menemukan sesuatu yang “ideal” menurut kita, justru kita mendapatkan hasil yang lebih buruk. Seperti tentang menunggu bus tadi, sudah salah tujuan serta rugi waktu dan biaya.

Tidak ada salahnya memiliki persyaratan dalam mencari pasangan, toh dengan syarat itu kita mendapatkan sesuatu yang sesuai keinginan kita. Namun tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita, tentu dengan memastikan jurusan yang sama seperti yang kita tuju.

Apabila di tengah jalan kita tidak cocok, setidaknya kita sudah mencoba. Dan kita masih bisa berteriak “Kiri”! Setelah itu keluar dengan sopan dan memberi kesempatan pada yang lainnya.

Baca juga : Ketika Dihadapkan Sebuah Persimpangan, Memilih Itu Wajib

Mencintai Dengan Level Terdalam

Cinta itu tentang sebuah ketulusan. Seberapa sering kita terluka akan kekecewaan, perasaan cinta itu tetap masih ada dan bertahan dalam dada. Meskipun pada akhirnya kita terluka akan penghianatan, setidaknya kita pernah mencoba untuk bertahan dengan sebuah ketulusan.

Cinta itu rumit, kadang seperti jelangkung. Datang tidak di undang, pulang tidak di antar.

Terkadang cinta itu datang dengan sendirinya, tidak perlu memakai alasan kenapa kita mencintainya. Bahkan sering kali kita mencintai seseorang di luar dari syarat yang selalu kita kokohkan dalam akal.

Karena cinta itu rumit, kita perlu rumus untuk menyederhanakannya.

Kita tak perlu bersikukuh mengunakan teori Issac Newton tentang gravitasi agar hubungan tetap lengket seperti hubungann bumi dan bulan. Ataupun dengan teori Pythagoras agar bisa mencegah hubungan cinta segitiga di antara kalian. Itu terlalu rumit apalagi bagi kalian yang tidak menyukai matematika.

Sederhanakanlah dengan cara yang sederhana, yakini  dengan mencintai pasangan sebagaimana kalian mencintai diri sendiri. Sebab kalian akan mengerti bahwa mencintai itu tentang perasaan untuk bisa membahagiakan dan tak ingin dilukai muapun melukai.

Yah sesederhana itu.

Cinta yang tak perlu banyak alasan dan syarat untuk bisa berbahagia dengan orang yang kita cintai. Hanya Aku, Kamu Dan Keputusan untuk saling mencintai

[AI]

Share This :

21 Replies to “Cinta Itu Tidak Harus Membutuhkan Alasan”

  1. Yeay! Malam minggu ada yang ngomongin cinta. 😀

    Iya sih q setuju, cinta emang ga butuh alasan karena jika alasan hilang cinta pun hilang, apalagi setelah pernikahan, bukan lagi masalah cinta tetapi lebih kepada komitmen untuk mempertahankan rumah tangga dan tanggung jawab yang kelak akan dipertanyakan Allah di hari akhir…ini q nyontek bukunya pak Ahmad Rifa’i Rif’an

    *Duuuh koq baper ya? 😅

    1. Wuih, cinta malin bijak dan dewasa nih…
      Jadi, udah bisa move on nih?
      #pertanyaan yang tidak adq hubungannya

    2. udaaaahhhh duuuuunnnnkkkk 😄, trnyata rumus move on hanya satu mas Nur Ir, let it flow aja, ga usah dipaksa

    3. yeah… bener cinta..

  2. Setuju mas.. cinta itu levelnya lebih tinggi dari suka..

  3. Dan Mas Ir kembali membahas cinta-cintaan yang bikin baper, pwikitiwww

    1. padahal artikelmu tentang kang garem juga bikin baper, terutama para jones loh…

  4. Cinta itu alamiah ya mz ir, pemantiknya bisa berupa hal-hal kecil kayak tatapan atau ucapan selamat pagi. Hal hal kecil kaya gini yang justru bikin perasaan itu awet eeasssh

    1. Ini pasti pengalaman…. wkwkwk

  5. kalau aku sih percaya banget kalau cinta emang gak butuh alasan apa-apa. sesuatu yang gak bisa dikasih tahu kenapa.

    1. Iya, kadang kita bingung bagaimana bisa jatuh cinta kepada dia. dengan kenyataan bahwa semua yang dia miliki tidaklah sesuai pengharapan kita

  6. cinta selalu sulit untuk dimengerti… kadang suka bingung sendiri ini perasaan suka atau memang benar-benar cinta….. *eaa baper sendiri wkwkwk XD

  7. ‘Aku cinta dia karena Tuhan’

    Itu termasuk alasan gak mas Nur? 😅

    1. hah itu berat…
      rasanya jarang yang mempunyai alasan seperti itu murni dari hatinya, lebih banyak sih untuk terlihat image religinya saja.
      menurutku sih gitu, pernah ngalami juga..

    2. Wah, berarti kalau ada orang yg berkata begitu benar-benar tulus dari hatinya, langka banget dong, mas (?)

    3. Sepertinya iya, mungkin kalau wanita sih banyak, kalau laki-laki yang mengucapkan demikian, 90% itu gombalan, wkwkwkw

    4. Jadi kalau laki-laki yang ngomong begitu perlu dipertanyakan 😅

    5. bisa jadi gitu, hahaha

  8. cinta kayak jelangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar. 😀

    kok baper sama lagunya yaa…

    1. Sama truk gandengan kayaknya mbk ikha juga baper deh, wkwkwkw #Piss

    2. Wkwkwk.
      Ah, ga juga. 😏😏

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini