Ternyata Mengcover Tugas Ibu Rumah Tangga Itu Tidaklah Mudah

Pernahkah kalian berfikir bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga itu tidak mudah? Apalagi kalau ibu rumah tangga tersebut harus ikut bekerja untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga juga.

Setiap kita pasti akan mengalami roller coster dalam kehidupan, kadang kita berada di atas terkadang kita juga berada di bawah. Mungkin saja yang saya alami ini saya berada di bawah.

Eh bukan! Kurang tepat rasanya kalau saya bilang berada di bawah, sebab pada dasarnya kehidupan saya (terutama tentang ekonomi) tidaklah terlalu buruk, sebab saya dan keluarga masih bisa mencicipi enaknya pizza dan kentucki di KaEfCi ataupun di EmToEm.

Dalam kehidupan berumah tangga, ada kalanya kita akan menghadapi ujian dalam hidup, misalnya saja saat istri marah atau kesalahpahaman yang menjadikan kita berdua menjadi renggang. Yang paling sering itu ujian ekonomi keluarga, misalnya saja terlilit hutang, diberhentikan dari pekerjaan atau hal lainnya yang menyebabkan ekonomi keluarga jadi tidak stabil.

Mungkin rumah tangga saya dalam fase seperti itu. Saya sendiri cukup sabar dalam menghadapinya, karena saya yakin dari ujian yang diberikan pasti akan ada hikmah dan tujuan yang bisa saya ambil pelajaran nantinya.

Itulah cara fikir dari sudut pandang laki-laki yang kebanyakan pasrah dan ikhlas menerima cobaan. Bukan berarti saya tidak memikirkan jalan keluarnya, namun masih proses atau anggap saja usaha saya tidak begitu optimal hingga tak menghasilkan apa-apa.

Tapi tidak dengan pola pikir wanita?

Wanita sebagai ibu rumah tangga memiliki cara pikir yang panjang dan penuh perhitungan. Dengan prediksi dan ilmu matematika yang di pelajarinya di bangku sekolah, para ibu rumah tangga memprediksi dan mengkalkulasi pendapatan suami secara mendetail dan dimasukkan dalam daftar list pengeluaran dalam sebulan. Hasilnya akan diketahui bahwa pendapatan keluarga ini akan stabil atau tidak.

Secara garis besar pendapatan yang saya peroleh dari pekerjaan tidak memenuhi syarat untuk bisa memenuhi kebutuhan selama sebulan. Apalagi ada masalah internal yang membuat pengeluaran jadi membengkak setahun belakangan ini.

Istri saya tidak tega melihat suaminya tercinta ini banting laptop dan keyboard untuk memenuhi kebutuhan keluarga sendiri, akhirnya dia memutuskan untuk ikut bekerja. Awalnya saya ingin melarangnya namun saya tak kuasa untuk membendung keinginannya.

Dapatlah istri sebuah pekerjaan di sebuah perusahaan. Awalnya saya kasihan melihat keluhan rasa capek yang diderita, mungkin karena sudah lama tidak pernah bekerja, namun melihat keceriaan saat bisa berjuang dengan teman-teman seperjuangan di tempat kerja, saya mulai ikhlas menerimanya untuk bekerja.

Sebagai ganti karena ketidakmampuan saya mencukupi kebutuhan keluarga, saya mencoba untuk mengcover pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga di rumah.

Oh iya, saya masih dalam kondisi di liburkan oleh perusahan karena suatu masalah. meskipun begitu, saya masih dapat gaji cuma-cuma sih meskipun tidak sepenuhnya.

Karena saya jadi pengangguran di rumah, jadi saya ingin mengcover pekerjaan istri selama dia bekerja agar bebannya sebagai ibu rumah tangga tidak terlalu berat. Dan oleh karena itu, saya memahami bahwa pekerjaan ibu rumah tangga itu berat.

Jadi, Dilan salah kalau mengatakan Rindu itu berat, karena pekerjaan Ibu rumah tangga lebih berat dari pada rindunya Dilan.

Berikut pekerjaan istri yang saya cover selama beberapa minggu ini terutama saat istri masuk malam.

Menyiapkan Dan Merawat Anak

Selama ini saya terkadang ikut andil merawat anak saat sore hari ataupun saat libur kerja. Namun kali ini berbeda, saya harus menyiapkan dan merawat kedua anak saya sendiri.

Dimulai dari membangunkan anak pertama, memandikannya, menyuapinya (kadang anak minta makan sendiri) dan mengantarkan ke sekolah. Yang sedikit rewel adalah anak kedua apalagi kalau mandi pagi hari.

Saat makanpun juga tidak kalah seru, dari yang menyuapi sambil lari sana-sini, makan dimuntah-muntahin dan disembur-semburin juga sering kali tidak mau makan nasi hanya mau lauknya saja. Memang untuk menyuapi anak kecil itu butuh kesabaran extra apalagi kalau anak tersebut memang susah saat di ajak makan dan pilih-pilih makanan yang disukainya.

Yang paling susah adalah perihal mengikat rambut. Memang benar kalau iklan di TV pernah bilang bahwa “Ayah itu tidak bisa mengikat rambut dan memperbaiki boneka”. Dan saya mengalami sendiri saat anak mau berangkat sekolah, saya harus meminta bantuan Mbah ukhti-nya atau minta bantuan tantenya.

Mengcover Tugas Pekerjaan Rumah

Saya baru menyadari bahwa pekerjaan rumah itu lebih berat ketimbang pekerjaan yang saya lakukan di perusahaan tiap harinya.  Kalau di perusahaan cukup dengan mengerjakan sesuai surat perintah kerja, dan itu tidak terlalu berat karena di kerjakan oleh dua orag atau satu tim dalam satu bagian.

Sedangkan pekerjaan rumah meskipun tidak ada surat perintah kerja, namun tugas rumah itu tiap hari ada dan di kerjakan sendiri. Saya mencoba mengcover pekerjaan tersebut dan itu tidaklah mudah bagi saya sendiri.

Misalnya saat menyiapkan anak seperti point pertama tadi, butuh kesabaran dan trik-trik khusus agar anak bisa di ajak kerjasama. Mungkin kalau anak pertama masih bisa di ajak kerja sama, berbeda anak kedua yang baru berumur 22 bulan.

Setelah menyiapkan anak-anak, lanjut lagi ke menyelesaikan baju-baju kotor. Kalau hidup berdua sih mungkin tidaklah banyak baju kotor tiap hari, lah ini berurusan dengan dua anak kecil yang masih sering pipis di celana. Alhasil tiap hari ada 2 ember besar tumpukan baju kotor kemarin.

Ah, istri saya tiap hari mencuci sebanyak ini. Dan saya mencoba mencucinya dan itu cukup menguras sarapan yang saya makan pagi ini.

Belum lagi kalau anak-anak lagi bermain, kebayang tidak betapa hancurnya rumah sat mereka bermain. Saya berkali-kali merapikan mainan yang berserakan, namun si kecil lagi-lagi memberantakkan berulang kali..

Saat menyuapinya makanpun tidak hanya diam di tempat,tidak semua anak saat makan mereka diam dan menurut hingga selesai makan. Anak saya ini susah disuruh makan nasi, maunya ngemil-ngemil gitu. Solusinya tentu kita sebagai orang tua harus bersabar dan mengajak si anak bermain, disela-sela permainan itu kita bisa menyuapinya sampaii habis.

Pekerjaan rumah itu memang tidaklah mudah, saat di perusahaan, saya hanya bekerja selama 7-9 jam kerja tiap harinya. Sedangkan di rumah, waktu kerjanya dari bangun tidur sampai tidur lagi. Nah kebayang bukan beratnya pekerjaan rumah tersebut.

Drama Saat Menidurkan Anak

Selama ini saya dan istri tidur sendiri-sendiri (jangan tanya kapan waktu bermesraan kalau tidur sendiri-sendiri), anak pertama tidur dengan saya dan istri dengan anak kedua. Semenjak istri bekerja, otomatis keduanya tidur bersama-sama dengan saya.

Menidurkan mereka berdua tidaklah mudah terutama anak kedua saya yang hobi sekali tidur hingga larut malam.

Anak saya yang pertama cukup mudah untuk menidurkannya, sejak kecil anak pertama memang tidak begitu rewel apalagi perihal tidur. Sedangkan anak kedua, selain tangisannya yang cukup kencang juga sering sekali mengajak begadang saat tidur di malam hari.

Selama ini istri saya yang kebagian menidurkan si anak kedua ini, dia sering ikut begadang hingga jam 11 malam sambil tiduran di depan TV. Apalagi jika keduanya tidur bersama-sama, pasti akan lebih susah lagi menidurkan mereka berdua.

Yang paling usil itu adiknya, Kakaknya sudah mulai mengantuk karena kebiasaannya tidur di bawah jam 9 malam. Di saat kakaknya malas untuk bermain dengan adiknya karena mengantuk, adiknya mulai jahil. Dari menendang-nedang kakaknya, memainkan rambut kakaknya dan menyentuh bagian pipi, hidung dan sekitar daerah mata kakaknya.

Setelah mengalami sendiri, saya baru mengerti kenapa istri sering merasa mengantuk di pagi hari.

***

Dari pengalaman ini saya rasa pekerjaan sebagai Ibu rumah tangga itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasti sangat hebat bagi seorang ibu (janda beranak) yang bisa mengatur anak-anaknya dan tugas rumah tangga sekaligus mencari nafkah untuk kebutuhan rumah tangganya sendiri.

Yah semoga saja keadaan bisa kembali kesemula, dan Istri bisa menjadi penjaga harta karus saya yang paling berharga 🙂

[AI] 

*Note : Ditulis mulai hari selasa namun baru selesai hari sabtu, itupun karena anak-anak lagi ada undangan ulang tahun, jadi ada kesempatan untuk menulis.

Share This :

13 Replies to “Ternyata Mengcover Tugas Ibu Rumah Tangga Itu Tidaklah Mudah”

  1. Saya doakan badai cepat berlalu ya mas. Saya terharu membaca ini, karena bagi saya suami yg keren itu adalah yg mau membantu pekerjaan rumah tangga yg biasa dilakukan istri. Anda keren 😎👍

    1. Makasih doanya mbak 🙂

  2. Dari semua tulisan bang Irawan, rasanya ini ini paling romantis, semoga bisa jd referensi buat calon suami dluar sana heheu.

    Dari judul aku uda ketawa sih, apalagi bagian ikat rambut, sussah yaaa?! bapakku juga, makanya rambutku pendek trs wktu kecil haha

    1. Haisss, jadi malu saya, wkwkwk
      dan rasanya memang susah deh ikat rambut itu, pasti tidak serapi saat istri yang ngikat

  3. Sy slalu suka membaca ttg sudut pandang suami ttg ibu rumah tangga. Dan membaca ini membuat sy senyum2 n segera ingib menunjukkan tulisan ini ke suami sy.. Hihi

  4. Bener banget jadi ibu runah tangga itu nggak mudah. Aku pernah ngalamin.

    Dan bentar lagi jg kayaknya bakal ngalamin lg 😁😁😁

  5. Dari terbuka mata sampai akan terpejam lagi.

  6. Semangat Nur, 🥘🍲🥗🍜🍛🍝🍳

  7. semangat mas nur 🍝🍛🍜🥗🍲🥘

  8. Ibu rumah tangga itu ngurusnya dari A sampai Z, teramat kompleks.

    Semoga kondisi lekas normal ya mas. Mas bisa bekerja, dan istri mas bisa khsusu mengurus pekerjaan rumah.

  9. Betul. Cover tugas seorang ibu itu ga mudah apalagi buat bapak-bapak. Saya pun ngerasain perjuangan nidurin bocah walau ga sampe begadang.

  10. Beneran deh capek jadi mama

  11. Dulu kami pernah tinggal di rumah tante dan dia punya anak yang lasak banget. Moment mengatur mainan itu bisa terjadi berulang-ulang kali dalam satu hari.
    Kadang kami, meminta mereka untuk merapikannya, kadang di turuti tetapi kadang tidak. Berurusan dengan anak-anak memang cukup merepotkan.
    Salam santun….

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini