Jangan Menikahi Seseorang Hanya Karena Kasihan

Jika ada perasaan ingin membantu seseorang, maka tuluslah dalam membantu. Jangan pamrih apalagi perihal menikah dengan dalih β€œmembantu”.

Bisa saja calon istri menerima tawaran menikah tersebut karena tidak enak dan ingin membalas budi karena sudah ditolong. Namun apakah pernikahan bisa berjalan baik setelahnya? Apakah pernikahan tanpa adanya rasa sayang dan cinta bisa menjadi keluarga yang sakinah?

Tapi kan banyak juga yang nikah tanpa pacaran sebelumnya dan bisa bahagia setelah menjalani pernikahannya.

Namun permasalahannya, taaruf itu tahap pengenalan, seseorang boleh menolak pinangannya, saat dalam masa taaruf tidak ada kecocokan. Yang salah itu tetap menerima pinangan meskipun tidak ada rasa suka maupun hasrat untuk menikahinya.

Hanya karena alasan agar hubungan baik kedua keluarga tetap terjaga atau karena kasihan dan ingin membalas budi misalnya. Jika pernikahan tersebut tidak berujung baik dan pada akhirnya terjadi perceraian, apakah hubungan baik kedua kueluarga besar akan baik-baik saja?

Tentu jauh lebih baik menghentikan pernikahan sejak awal, karena pernikahan itu tidak dijalani satu bulan atau satu tahun saja, namun untuk seumur hidup. Jika sejak awal kita tidak bahagia dengan pernikahan kita, bagaimana kita bisa menjalani tiap harinya?

Ingat! Menikah itu untuk BAHAGIA bukan?

Atau bisa saja menikah karena kasihan dan rasa iba itu hanya sebuah alasan!

Pernah saya mendengar seseorang yang ingin menikahi seorang gadis atau janda karena merasa kasihan. Entah kasihan karena gadis tersebut ditinggal kedua orang tuanya dan tak ada yang merawat dan menghidupi dia lagi ataupun seorang janda yang memiliki anak yang masih kecil yang tidak ada yang memberi nafkah.

Saya yakin bukan karena kasihan! pasti ada modus dibalik itu semua.

Dengan keadaan seperti itu, bisa dijadikan alasan dan waktu yang tepat untuk masuk dalam kehidupan si gadis ataupun si janda sebagai pahlawan yang ingin menolong dan mengangkat derajat wanita tersebut.

Padahal mah bukan menolong tapi memang doyan..

Jika ingin menikahi seseorang, kenapa harus ada embel-embel kasihan? kenapa tidak jujur saja kalau memang suka dan ingin menikahi dia. Itu jauh lebih simple, karena menikah itu karena atas dasar suka dan ada hasrat untuk memilikinya bukan?

Baca juga : Hal-hal Yang Mungkin Akan Anda Alami Setelah Menikah

Apalagi kalau menikah karena kasihan menjadi landasan sebuah poligami.

Misalnya gini, ada seorang pria yang sudah berkeluarga ingin menikahi janda yang ditinggal mati oleh suaminya dan meninggalkan dua anak yang masih sangat kecil.

Pria tersebut merasa kasihan dan ingin menghidupi janda dan kedua anaknya tersebut dengan dijadikan istri keduanya? Alasannya sih karena ingin berbuat baik dengan mengangkat status dan derajat keluarga janda tersebut.

Tapi apa benar karena kasihan? Bukan karena kepincut kemolekan dan kecantikan si janda? Terus bagaimana dengan keluarga sendiri, yakin mengizinkan?

Tapi kan laki-laki boleh beristri lebih dari satu?

Nah kan, niat awalnya kan memang untuk poligami, bukan hanya karena menolong.

Lagian tidak adil juga kalau hanya mau menolong janda itu saja yang dinikahi, kenapa tidak sekalian saja janda satu komplek di tolong juga? Semakin banyak yang tertolong kan semakin banyak pahalanya. hahahaha πŸ˜€

Baca juga : Apa Yang Membuatku Memutuskan Menikah Denganmu

Cerita lain juga pernah saya dengar dari pembimbing saya tentang seorang pria yang ingin menikahi seorang PSK agar si wanita ini bisa keluar dari pekerjaan hinanya.

Secara nalar, itu memang perbuatan yang mulia, namun bagaimana kalau yang ingin menolong dan menikahi PSK tersebut sudah mempunyai keluarga?

Yakin niatnya tulus karena ingin menolong dan ingin mengentas si PSK ini dari kegelapan? Atau karena nafsu dan hasrat kepada si PSK ini?

Kenapa tidak sekalian seluruh PSK yang ada di Prigen ditolong juga? mereka kan juga kasihan melakukan pekerjaan itu karena ada yang terpaksa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kalau niatnya mau menolong, tolong saja! tidak usah pakai embel-embel menikah. Bilang saja kalau memang punya hasrat kepada si PSK itu, tidak usah bawah-bawah dalih ingin menolong” tutup pembimbing saya menuntaskan ceritanya.

Menikah itu bukan tentang tolong menolong, namun nikah itu selain sebagian dari ibadah dan sunnah bagi seorang muslim dan muslimah. Nikah juga merupakan sarana pemenuh nafsu dan hasrat diri dengan cara yang bertanggung jawab.

Nah kalau kalian? Nikah untuk apa?

Share This :

8 Replies to “Jangan Menikahi Seseorang Hanya Karena Kasihan”

  1. Membantu g’ mesti dengan menikahi.

    Setuju ma mas yang satu ini.

  2. SETUJUUUUUUU

  3. Aku menikah karna aku dan dia saling mencintai..

    Udah itu aja.. πŸ˜‚

    1. Iya bang, gitu aja cukup….
      tapi tetep nunggu restu orang tua juga loh bang πŸ™‚

  4. Menikah memang tidak hanya sekedar tentang menyatukan dua insan ya… tapi ada dua keluarga juga dibelakangnya yang bisa terpengaruh dari hubungan keduanya…
    Kalau menikah karena kasihan pasti malah akan melukai kedua belah pihak di kemudian hari πŸ™

    1. Bener mas, yang justru berpotensi lebih lama bermusuhannya justru pihak keluarga dari pada dua indan yang menjalani

  5. Setuju banget, ntar klo rasa kasihan itu udah hilang, yaudah deh gak tau itu naasib pernikahannya gimana πŸ˜₯

  6. Kasihan itu bisa saja tetapi kalau soal menikah harus dipertimbangkan juga dong keluarga kita. Masakan menduakan istri hanya karena kasihan sama seseorang.
    Jika memang kasihan dengan kemiskinan, ayo perjuangkan keadilan sosial dan hilangkan kapitalisasi sumber daya.
    Alhasil tidak ada lagi yang pantas dikasihani….
    Salam….

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.