Bagaimana Menjawab Pertanyaan Anak Tentang Allah

pertanyaan anak yang kritis tentang Allah

Sudah seminggu lebih saya tidak mengisi sebuah tulisan di blog ini, padahal selama seminggu libur lebaran kemarin, juga terdapat banyak cerita yang ingin saya ceritakan. Namun semua itu hanya menjadi judul-judul ide di kepala yang tak kunjung menjadi sebuah tulisan. #TerbangBegituSaja

Oh iya, Minal aidin wal faidzin yah kawan blogger 🙏🙏🙏🙏. Jika ada salah-salah kata yang pernah saya tulis di blog ini maupun melalui komentar-komentar yang membuat kalian marah, kecewa dan sakit hati. Saya selaku author blog Penadiri mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Ok back to topic…

Pernah tidak? Kalian mendapat pertanyaan sederhana namun kritis dari anak ataupun adik-adik kita yang masih berumur di bawah 5 tahun.

Pertanyaannya semacam “Haid itu apa?”, “Manusia diciptakan dari apa?”, “Allah itu di mana?” dan sebagainya.

Saya tidak ingat apakah saya menanyakan hal demikian pada orang tua saya sewaktu masih kecil dulu. Yang jelas beberapa hari yang lalu, Anak saya yang pertama sangat gencar menanyakan pertanyaan kritis semacam itu kepada saya.

Pertanyaannya semacam ini :

“Allah itu di mana yah?”

“Kenapa kita tidak bisa melihat Allah?”

“Terus manusia diciptakan dari apa” dan sebagainya.

Dalam fase pertumbuhannya, anak-anak memang suka melontarkan pertanyaan yang sederhana namun kritis bagi kita (orang dewasa) untuk menjawabnya. Mereka memang dalam fase pertumbuhan dan mulai belajar memahami berbagai pemahaman yang dia dapat melalui visual, pendengaran dan hal-hal yang menarik bagi mereka.

Namun sebagai orang tua yang merupakan madrasah pertama anak, kita sebaiknya menjawab dengan sangat hati-hati dan sekiranya mudah dipahami oleh anak-anak kita. Memang tidak mudah menjelaskan kepada mereka, sebab cara berpikir mereka juga tidak sama seperti kita.

Tapi banyak juga orang tua yang justru memarahi anaknya lantaran pertanyaan tersebut, ataupun tidak memperdulikan pertanyaan-pertanyaan itu sehingga anak-anak jadi semakin penasaran.

Jika sikap kita seperti itu, bisa jadi anak-anak akan mencari jawaban dari orang lain yang belum tentu itu benar. Dan bisa juga akan mengurangi rasa percaya yang dimiliki anak kepada orang tuanya.

Baca juga : Renungan diri menghadapi Pertanyaan Padang Mahsyar

Pertanyaan anak tentang Allah
Source image by Muslimahzone.id

Terus bagaimana cara kita menjawab pertanyaan kritis dari seorang anak?

Untuk menjawab pertanyaan kritis anak memang dibutuhkan ilmu dan wawasan yang luas. Orang tua perlu banyak membaca dan belajar pendidikan yang berkaitan dengan tarbiyatul aulad.

Saya sendiri juga bukan seorang yang memiliki keduanya itu (ilmu dan wawasan yang luas). Saya bukan lulusan pondok dan saya juga tidak begitu banyak membaca buku-buku tentang keagamaan.

Namun kuncinya adalah tetap memperhatikan si anak dengan antusias menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh anak dengan kata-kata yang sederhana.

Kita cukup menjawabnya dengan jujur sesuai kebisaan dan pemahaman kita. tak perlu menjawab dengan istilah-istilah yang tidak bisa dimengerti anak yang mungkin saja dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan kritis lainnya.

Misalnya saja pertanyaan tentang haid. Pertama-tama kita jabarkan saja tentang proses dewasa atau istilah kerennya baligh. Misalnya :

“Jika suatu hari kakak sudah besar, nanti kakak akan mengalaminya sendiri. Disaat haid itu sudah datang, kakak tidak boleh sholat, mama juga mengalami hal demikian, makanya mama tidak sholat”

Ataupun tentang bagaimana bayi dilahirkan :

“Kakak kan tahu sendiri saat adik dilahirkan, Adik berada di perutnya mama. Dari perut mama buncitnya masih kecil hingga perutnya mama makin besar. Kakak kan juga tahu adik nendang-nendang sewaktu di perutnya mama. Disaat sudah waktunya, nanti adik keluar dari rahimnya mama dan jadilah adik bayi seperti sekarang”.

Yang paling sulit memang pertanyaan perihal Allah, misalnya tentang “Allah itu dimana?”.

Saya sendiri awalnya juga kebingungan mau jawab apa, namun ini adalah moment untuk memberi tahu anak tentang keyakinan dia terhadap Tuhan-Nya.

“Allah itu ada di mana-mana kak, Allah kan Maha Besar”

“Jadi Allah itu besar ya yah! Terus kenapa saya tidak bisa lihat”

“Allah itu tidak sama dengan makhluk-Nya, seperti manusia, hewan dan tumbuhan. Allah itu yang menciptakan alam semesta ini bukan? Jadi, Allah tidak berada dalam ruangan seperti kita, Karena Beliau yang menciptakan alam semesta ini, jadi Allah tidak memerlukan tempat seperti dunia kita ini”

“Jadi dimana Allah yah? Apakah Allah itu ada di surga”

“Allah itu ada disini (tunjuk dada). Allah itu ada di hati kita. Surga itu tempatnya makhluk yang baik kayak kakak, jadi kalau kakak sudah besar dan jadi orang baik nanti di tempatkan di Surga, sedangkan Allah tidak butuh tempat seperti surga, kan Surga juga ciptaannya Allah sama seperti kita dan dunia ini”

“lah terus di mana yah (sambil pegang dadanya)

“Coba bernafas (sambil memperagakan bernafas), Apa yang kakak rasakan?”

“Ngak tahu”

“Kakak tau angin kan? Apakah kakak bisa melihat angin?” (dia mengeleng-ngelengkan kepalanya)

“Meskipun kakak tidak melihat angin, namun kakak tau itu angin bukan? Dari merasakan hembusanya, atau dari menghirup udaranya. Tidak terlihat namun Ada bukan?” (dia mulai mengangukkan kepalanya)

“Allah pun sama, Kita tidak bisa melihat Allah, namun kita tetap bisa merasakan sifat-sifatnya Allah, yakni Allah itu ada (Wujud). Dan disinilah (sambil menunjuk hati) kita bisa menyakini bahwa Allah itu ada di mana-mana termasuk di dalam hati kita).

Akhirnya pertanyaan kritis itupun terhenti dan sempat deg-deg-an juga kalau muncul pertanyaan lainnya.

Meskipun saya yakin dia juga tidak begitu mengerti apa yang saya ucapkan, setidaknya kita memberikan jawaban yang baik dan positif agar terekam dalam memorinya dan suatu saat akan terbuka sendiri dan muncul benih-benih yang baik.

Baca juga : Bagaimana Sholat Yang Baik dan Benar itu?

Dari sinilah saya memahami bahwa belajar mengaji (agama) itu penting, selain untuk diri sendiri dalam menjalani kehidupan ini, juga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis semacam ini.

Jadi kesimpulannya, carilah jodoh pasangan yang mau belajar mengaji agar suatu saat nanti bisa jadi madrasah yang baik bagi anak-anak kita nanti.

Yuk cari jodoh yang baik 😄😄😄

[AI]

Share This :

One Reply to “Bagaimana Menjawab Pertanyaan Anak Tentang Allah”

  1. Aduuuh kesimpulannya ya broo, menohok! hahaha..
    .
    .
    Btw anak-anak itu otaknya pada kritis ya? Masyaallah di usia segitu sudah menanyakan hal-hal krusial. Saya tuh tau masalah haid pas SMP! wkwkwkwkwk dan menanyakkan sama guru SMP juga, hahhaa.
    Seingat saya, dulu waktu kecil kalau bapak saya mengajak shalat pasti ngomongnya begini “shalaaaat, nanti marah Allah”..
    Marahnya bapak saya saja sudah mengerikan, apalagi marahanya Allah :D.

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.