Karena Hidup Tak Pernah Bisa Sendirian

Keramaian kadang membuat kita mudah lelah dan marah, bahkan rasanya hidup semakin penat ketika kita menghadapi berbagai permasalahan rutinitas harian yang tak kunjung reda. Mencoba melakukan senyum palsu sebisanya untuk menghargai orang disekitar kita, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa kita ingin menyendiri untuk mendamaikan hati untuk sementara.

Setiap kita pasti pernah berpikiran bahwa Sendiri itu menyenangkan. Misalnya ketika sedang menikmati panorama alam di puncak ketinggian ataupun menikmati hembusan angin pantai yang menenangkan.

Tentu akan menyebalkan jika disaat kita ingin sendiri, ada banyak keramaian yang mengusik di sekitar kita. Rasanya ingin sekali bahwa kita bisa hidup sendiri tanpa ada campur tangan orang lain di sekitar kita.

Namun pada kenyataanya, Manusia tidak bisa hidup sendirian. Tuhan pasti punya banyak alasan kenapa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang membutuhkan bantuan orang lain. Padahal Manusia adalah makhluk paling sempurna dibanding makhluk Tuhan yang lainnya.

Manusia diberi akal yang bisa menciptakan sesuatu yang diinginkannya. Misalnya saja tentang menciptakan makanan bernama “kue”. Di zaman sekarang, sudah tidak terhitung lagi nama-nama kue yang beredar, dan semua itu tercipta dengan ide-ide kretif yang dimiliki oleh manusia.

Dengan kelebihan seperti itu, tak bisakah manusia benar-benar bisa hidup mandiri? Pada kenyataannya hidup tak pernah bisa sendiri.

Pada Hakekatnya Manusia Itu Lemah

Allah Subhanahu wata’ala mempunyai sifat Qiyamuhu Binafsihi, yang artinya Allah berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain dan tidak berkehendak pada tempatNya berdiri. Sedangkan manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang lemah.

Manusia butuh dengan TuhanNya, manusia butuh dengan tempatnya berdiri, manusia juga butuh dengan makhluk Tuhan lainnya, terutama kita butuh bantuan orang lain.

Kita dilahirkan saja butuh seorang Ibu untuk mengeluarkan kita dari rahim ke dunia ini. Butuh orang tua juga untuk merawat kita hingga menjadi lebih dewasa dan mandiri dengan keputusannya sendiri. Jadi sejak awal kita tidak akan bisa hidup sendiri di dunia ini.

Dunia Ini Begitu Luas, Butuh Orang Lain Untuk Membantu Kita Melihatnya

Source image by Pixabay.com

Pada kenyataannya kita hanyalah “sebongkah upil” yang karam di tengah samudra Hindia, begitu kecil dan tak berdaya. Kita tidak akan bisa mengetahui segala hal yang ada di dunia ini tanpa bantuan orang lain.

Misalnya saja ketika kita ingin melihat pemandangan indah di belahan bumi yang lainnya. Meskipun kita punya timbunan uang di bank Swiss, tetap kita tak akan mampu mengunjungi semua tempat di belahan bumi yang luas ini.

Beruntunglah kita hidup di zaman teknologi yang memungkinkan kita melihat pemandangan indah seperti yang kita inginkan tanpa harus berkunjung kesana terlebih dahulu.

Namun Dunia ini tak sebatas daratan, lembah, gunung dan lautan saja, ada banyak hal yang belum kita ketahui bahkan di sekitar kita sendiri kalau bukan tanpa bantuan orang lain.

Misalnya saja tentang sudut pandang kita terhadap sesuatu, kita tidak akan pernah tau kalau belum mencoba, bukan? Namun dengan bantuan orang lain, kita bisa mengetahuinya dan mempelajarinya dari pengalaman mereka.

Seperti contoh, kita bisa tahu rasanya “seblak” tanpa harus makan terlebih dahulu. Tentu kita bisa mengetahui dan memahami tentang “seblak” entah itu dari ucapan orang lain maupun kita sendiri melihat ekspresi orang lain saat memakan seblak.

Begitu juga tentang rasanya sakit hati dan dihianati, meskipun kita tak pernah merasakannya, tentu kita akan memahami dan mengerti bagaimana rasanya saat kita mendengarkan ataupun menyaksikan sendiri pengalaman orang lain di depan mata kita.

Kita tidak akan bisa memahami isi dunia ini sendiri, bahkan waktu yang kita habiskan seumur hidup, masih tetap kurang rasanya untuk bisa melihat dan memahami dunia ini yang sebenarnya. Kaarena dunia yang sebanarnya sangatlah luas, lebih dari perkiraan kita.

Baca juga : Kehidupan Itu Pelajaran Menuju Kebahagiaan

Percayalah, Tuhan Tidak Mentakdirkanmu Sendiri

Source image by Pixabay.com

Meskipun aku di surga, Mungkin aku tak bahagia
Bahagiaku tak sempurna, Bila itu tanpamu

Aku ingin kau menjadi, Bidadariku di sana
Tempat terakhir melabuhkan, Hidup di keabadian…

Sepengal lagu Tempat Terakhir by Padi

Surga tak begitu indah jika dinikmati sendiri, begitulah Nabi Adam pada akhirnya meminta kepada Tuhan-Nya untuk menciptakan Hawa untuk menemaninya di surga. Sendiri itu memang menenangkan namun tidak selalu menyenangkan.

Kesendirian bukan tentang bagaimana dia tinggal di tengah hutan maupun di pulau terpencil, namun kesendirian yang dimaksud adalah ketika tidak adanya orang lain yang bisa diajak berbagi dan bercerita, minimal bisa menghilangkan kesepian di jiwa.

Banyak kok di kehidupan sekarang, dengan tinggal di apartemen mewah di tengah perkotaan, namun hidupnya merasa sendiri dan sunyi. Tentu bukan lingkungan yang mempengaruhi seseorang merasa kesepian, tapi adanya seseorang maupun beberapa orang yang bisa membuat semangat hidupnya muncul kembali. Seperti adanya teman yang setia menemani dalam naik turunnya kehidupan.

Mungkin hal ini yang menjadi sebuah alasan kuat kenapa manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Disaat sendiri memberikan kamu sebuah ketenangan, bersama orang lain akan memberikan sebuah kesenangan.

***

Jadi, Jikalau surga tak lebih indah ketika kita hanya sendiri kesana? Terus, kenapa kalian masih tetap betah dalam status sendiri (single) sekarang? #TertawaJahat 🤣🤣🤣

[AI]

Share This :

14 Replies to “Karena Hidup Tak Pernah Bisa Sendirian”

  1. Hahaha.
    Aku merasa jadi upil di tengah samudera hindia.

    Ah, ujung-ujungnya kompor. Hadeh

    1. Semoga ketemu sama hidungnya, biar gak kelanyut di samudra, wkwkwkw

    2. Wkwkwk..
      nyangkut di hidung ikan hiu

    3. Kenapa juga itu upil sampai ke samudra ya ka?

    4. ketiup angin Kak 😀

  2. Judulnya itu lo, Kak….😊😊😊

  3. Jlebnya sendiri juga, kak??
    *tertawasinis

  4. kalau jomblo sendiri kan namanya yah 🙁

  5. Terimakasih sudah mengingatkanku, mas Nur Ir 😞

    1. iya, sama-sama hehehe

  6. Padahal niatnya gak baca penutupnya sih, soalnya pasti ada aroma kompornya. Hhaaa.
    Tapi makasih mas dah ngingetin 😁😁

    1. Lain kali kalimat kompornya tak taruh di tengah saja 😀

  7. Kenapah atuh masih sendiri kenapaaah. 😝

  8. Nggak ada yang ganggu soalnya

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.