Enakan Mana? Antara Migrasi Blog Lama Atau Buat Blog Baru Di Self Hosted

Ternyata migrasi blog itu tidaklah mudah

Kapan hari ada yang ingin curhat kepada saya tentang keinginannya membuat blog lamanya menjadi self hosted seperti blog saya, atau istilah kerennya “migrasi”. Karena sekarang saya jadi orang sok sibuk, maka saya tawarkan untuk sesi curhatnya di saat malam hari saja.

Namun hingga sekarang dia tak kunjung membuka obrolan terlebih dahulu, Saya gengsi dong mau menanyakan “Jadi enggak sih curhatnya?” Entar saya dikira kesepian lagi kalau chat duluan, hahaha 🤣🤣

Di artikel saya sebelumnya, saya sudah tuliskan langkah demi langkah pengalaman saya migrasi blog ini untuk pertama kalinya. Kemudian saya juga diskripsikan problem-problem apa saja yang saya hadapi saat migrasi blog.

Memang artikel yang saya buat tidak seperti tutorial pada umumnya, justru lebih terlihat curhat bapak-bapak gitu, huhu🤭🤭. Tapi setidaknya dengan membaca kedua artikel tersebut, InsyaAllah kalian akan mengerti penderitaan saya sewaktu proses migrasi, hehehehe.

Banyak kok artikel di google yang memberikan panduan lengkap dalam proses migrasi maupun tutorial membuat blog self hosted. Dibanding membaca artikel saya yang kebanyakan sesi curhatnya, akan lebih baik jika mempelajari langkah demi langkah panduan blog self hosted di artikel yang lain.

Terus tujuan nulis artikel ini apa?

Tidak ada tujuan, Asal nulis aja, hahahaha 🤣🤣

Oke, beberapa kali saya mendengar beberapa teman (entah ada yang tanya atau tidak) yang menanyakan “mending bikin blog baru atau migrasi blog lama?”. Kalau saya boleh menjawab, saya lebih memilih untuk membuat blog baru ketimbang harus migrasi.

Banyak pertimbangan yang pada akhirnya saya memutuskan untuk migrasikan blog pennadiri.wordpress.com ke penadiri.com. Sejujurnya saya ingin membuat blog baru, namun saya juga mikir, dengan membuat blog baru, konten seperti apa yang harus saya sajikan di sana nantinya. Kalau ujung-ujungnya copy paste dari blog lama juga percuma kan.

Dari situlah saya memutuskan untuk migrasikan blog lama ke self hosted, karena blog tersebut saya mengisi kontennya dengan sepenuh cinta dan perasaan yang paling dalam. Dan alhamdulillah saya masih konsisten menuliskan KAMU DI HATIKU 😍😍

Setelah berjalan beberapa bulan, saya menyadari banyak hal, tentang enaknya migrasi dan tidak enaknya migrasi. Berikut saya jelaskan lebih enak mana migrasi atau membuat blog baru di self hosted versi saya.

Lebih Enak Mana Migrasi Atau Buat Blog Baru di Self Hosted

 1. Traffick Dan Populeritas

Masalah utama yang sering diprioritaskan oleh banyak orang saat hendak migrasi blog ke self hosted adalah perihal traffick. Membuat blog baru sama artinya dengan memulainya dari awal, tanpa ada pengunjung maupun apresiasi dari pembaca berupa komentar yang masuk. Terlebih lagi kita juga harus berjuang dari nol untuk memperkenalkan blog baru kita ke mesin pencari.

Sedangkan jika mengunakan migrasi blog lama ke blog yang baru, tidak hanya traffick blog lama kita yang dipindahkan, follower atau pembaca setia blog kita juga bisa kita pindahkan ke blog yang baru. Di situlah untungnya proses migrasi.

Namun perlu diketahui, untuk memindahkan follower blog lama ke blog baru tidak memerlukan biaya tambahan, sedangkan untuk mengalihkan traffick blog lama ke blog baru, kita masih butuh tambahan biaya lagi. Istilah kerennya “Redirect site”, pernah saya bahas tentang langkah-langkan redirect blog wordpress lama ke blog yang baru.

Namun saya belum tau apakah redirect dari blog blogspot ke wordpress self hosted itu ada biaya tambahan atau tidak, seingat saya untuk platform blogger ke wordpress, tidak ada biaya tambahan, cukup setting di cpanel-nya saja (Kalau tidak salah).

2. Strukture Webmaster Dan Broken Link

Contoh missing update di webmaster
Error missing update di webmaster

Kekurangannya migrasi adalah perihal internal link yang sudah tersebar di semua artikel  blog. Bagi pengguna blog yang sering menautkan artikel yang satu dengan yang lainnya, saat migrasi, kalian harus merevisi ulang semua internal link yang ada. Gunanya agar pembaca yang penasaran klik internal link yang sudah kita sediakan, tidak di arahkan ke blog lama kita.

Apalagi jika blog lama kita sudah kita hapus, tentu akan ada banyak broken link yang dapat merusak citra blog baru kita di mata mesin pencari.

Jauh lebih mudah jika kita membuat blog baru di self hosted, kita tidak perlu dipusingkan dnegan biaya redirect site pertahun maupun merevisi semua internal link yanga da di artikel. Iya kalau artikel blog kita cuma 100 an, bagaimana kalau 400 lebih seprti blog saya ini.

Jujur, sejak pertama migrasi sampai sekarang, saya baru separuh merevisi ulang internal link yang ada. Dan itu cukup membosankan apalagi di tengah kesibukan saya sekarang.

Selain itu, ada problem yang sampai sekarang belum saya temukan solusinya. Yaitu perihal strukture data di Google search console. Apa itu Google search console? Ada baiknnya kalian search di mesin pencari, soalnya saya juga binggung kalau mau jelaskan yang itu, hahahaha

Problem blog ini di tolak berkali-kali oleh adsense adalah perihal struckture data yang tidak sesuai dengan kebijakan webmaster. Begitulah isi dari email penolakan yang saya terima saat itu.

Status permohonan Adsense

Saya terus berbenah dengan panduan berbagai tutorial. Dan hasilnya tetap sama, masih banyak missing struktur data dari missing update, missing author dan sebagainya. Juga banyaknya error source dan error crawl yang membuat saya semakin pusing memikirkan hubungan kita #ehh 🤣🤣

Dan semua itu selesai, disaat saya mengikhlaskan keegoisan saya dalam mempertahankan tamplate blog lama dan mengganti dengan tamplate yang baru. Tidak semua masalah sih, setidaknya beberapa error seperti missing hentry sedikit teratasi. Dan akhirnya blog saya di terima menampilkan iklannya pevita pearce sedang naik Grab, hahaha

3. Managemen Disk Usage

Tidak enaknya migrasi adalah perihal memanage Disk usage di hosting. Namanya migrasi berarti kita memindahkan semua elemen baik artikel maupun gambar di blog lama ke blog yang baru. Disaat mode gratisan, kita diberi banyak ruang untuk bisa upload sesuka hati, namun saat hosting sendiri, kita harus membiasakan diri untuk berhemat kuota usage disk.

Kecuali jika modal kalian besar dengan menyewa hosting dengan kapasitas penyimpanan 3 gb misalnya. Namun jika modal 300-400 ribu seperti blog ini, migrasi saja sudah cukup menghabiskan lebih dari separuh disk. Jadi untuk mengakali hal tersebut, saya membiasakan diri untuk berhemat data, terutama tentang upload gambar yang besar.

Berbeda jika kita mulai dengan blog baru, kita bisa memilih dan memilah gambar yang bagus dan menkonvertnya jadi ukuran web (20-30kb), agar usage disk tidak cepat penuh. Karena jika disk sudah penuh, selain kita tidak bisa upload lagi, juga akan sangat berpengaruh pada performa blog kita loh.

Ujung-ujungnya disuruh CS hosting untuk upgrade paket lagi. Belum genap satu tahun udah disuruh upgrade, modal upgrade pertama aja belum kembali suruh bayar lagi, huft. Sedihnya tuh di situ 😩😩😩

4. Paket Hosting Dan Server Down

Sistem down

Kalau di wordpress.com, kita tak pernah dipusingkan karena server down sehingga blog tidak bisa di akses selama beberapa menit hingga beberapa jam. Kalau hosting sendiri, serven down adalah masalah besar bagi kita, penyebabnya bisa beraneka ragam, salah satunya juga tentang usage disk yang penuh.

Bahkan traffick terlalu tinggi juga bisa membuat website down, misalnya blog saya ini.  Awalnya saya sedikit kecewa karena traffict blog gratisan dulu mencapai 2rb an perhari, setelah migrasi traffick blog jadi 300-500 pengunjung perhari.

Semenjak struktur data mulai membaik, traffick blog saya sekarang sudah stabil di angka 1rb-an. Saya cukup senang dengan hal tersebut sekaligus sedih juga mengetahui kenyataan bahwa dengan traffick cuma 1000-an, blog saya sering down.

Kata CS hostingnya memang demikian, paket 300-400rb memang akan sering down jika traffick perharinya sudah mencapai 1000 pengunjung  atau lebih. Dan saya masih belum siap untuk mengupgrade paket hosting yang lebih tinggi. 800-1jt itu lumayan besar bagi saya pribadi, apalagi selama ini saya hanya mengandalkan pendapatan dari blog untuk bisa mempertahankan keutuhan blog ini, hahahaha.

Jadi solusinya, saya masih tetap bertahan dengan paket hosting yang sekarang. Biarlah server hosting sering down asal rasa cinta saya tidak ikut down, biarlah blog saya susah di kunjungi asalkan hati ini tetap melekat di hatimu sayang eaaah…. 😍😍😍

***

Bagaimana? Ada gambaran mau migrasi blog lama ke self hosted atau mau buat blog baru. Semua keputusan ada ditangan kalian, yang jelas pertimbangkan seberapa kuat modal kalian untuk menjaga agar blog kalian tetap hidup.

Dan terakhir, Keep write and be Happy ☺☺☺

Share This :

15 Replies to “Enakan Mana? Antara Migrasi Blog Lama Atau Buat Blog Baru Di Self Hosted”

  1. Halo mas nur! Akhirnya berjumpa lagi di wordpress
    Hwaaa mau juga dong migrasi…tapi perlu modal yah. Nabung dulu deh..

    1. Aku tak akan pergi jauh2 dari wordpress kok 😁

  2. Setelah bersemedi selama beberapa minggu.. akhirnya aku memilih migrasi aja mas.. karena aku ga mau ribet mindah2in artikelnya lagi.. emang sih kalo migrasi ga bisa daftar google adsense.. lagipula untuk saat ini google adsense belum jadi prioritasku mas..

    makasih juga buat artikelnya mas yang kemaren tu.. cukup membantu.. hhehe

    1. Adsense cuma bonus bang, yang penting kita senang dan tidak terbebani biaya pertahunnya 😁

  3. Belum cukup trafik kayaknya deh. Jadi belum mau pindah heheh. 😊

    1. Jangan pindah hati loh 😅

  4. Saya lebih memilih yg gratisan.. Selain karena belum konsisten menulis dan jumlah kunjungan belum “wow”, saya sepakat dg pernyataan Mas Nur di artikel sebelumnya bahwa postingan di wp.com itu abadi. Karena gak bakal dihapus kalau pada akhirnya gak bisa bayar hosting, domain, dll.

    Pagi ini saya juga merasa sangat emosional.. Setelah baru tahu kalau Mas Shiq4 sudah meninggal 15 Juli 2018 yang lalu.. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah swt dan semoga tulisan-tulisannya tetap abadi dan menjadi ladang amal jariyah, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.. :”(

    1. Amin mas…
      Bener, mending nulis aja mas, saya juga berani hosting sendiri karena saya ada pemasukan diluar dari penghasilanku dari kerjaan nyata, makanya saya hosting.
      Tapi kalau harus upgrade paket ke harga yang 1 jt, itu juga bikin pening 🤣🤣 makanya saya bertahan sampai ada modal yang pasti tiap tahunnya untuk bikin blog ini tetep hidup

  5. self hosted

  6. Hidup self hosted. Hahahahha…
    Dan inilah yang membuat saya tidak pernah segan membuat yang baru. Karena anu anu nya terlalu banyak.
    Tp salut aja atas kegigihan kepindahannya.

    Barangkali ada migrasi lainnya lho. Migrasi layanan hosting gitu.

    Sukses selalu blognya pak ( ^^)

  7. Menarik sekali artikelnya, bisa jadi bahan pertimbangan nanti kalau mau punya blog self hosted. Harus bikin baru atau migrasi saja.

    Dengan melihat keruwetan yg mas critakan sepertinya saya lebih memilih bikin baru dech hihi. Tapi itu entah kapan hahahaha

    1. Iya mas, mending bikin baru saja, lebih ringan dan tidak banyak error

  8. Saya ikut menyimak. Keren lah mas satu ini bisa melewati semua rintangan proses migrasi blog. Semoga juga segera bisa upgrade ke yg lebih tinggi.

  9. Saya milih migrasi blog justru karena adsense dan juga penggunaan plugin yoast. Yah awal-awal berat juga maintain-nya. Adsense udah full approve tapi kalkulasi pendapatan adsense meleset jauh. Sekarang masih terasa berat bahkan sempat install ulang wordpress segala. Alhasil gambar yang udah tayang dan diindeks google jadi hilang.
    Saran dikit: jangan sekali-kali nyobain modif theme. Bakal ketagihan 😁

    1. terima kasih sarannya mas kandra, meskipun saya juga jarang utek-utek itu, hehehe

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.