Perjalanan Religi Ke Makam Wali 9 Dalam 2 Hari 3 Malam

Sekitar dua tahun yang lalu terakhir kali saya berziarah ke makam para wali. Pernah saya tuliskan juga cerita tentang perjalanan ziarah ke para wali di Jawa Timur ini di blog. Dibilang wali lima juga tidak tepat, karena perjalanan yang lalu itu melewatkan Makam Sunan Giri dan Sunan Maula Malik Ibrahim. Acara tersebut adalah pertama kalinya saya ikut dalam acara ziarah ke para wali di desa.

Dan sejak saat itu, disaat ada acara  ziarah wali lima lagi, saya selalu ditawari untuk ikut andil dalam acara tersebut. Namun saya selalu menolak dengan banyak alasan. Bukannya saya tidak suka, hanya kurang pas di hati saja kalau ziarahnya dengan masyarakat umum seperti itu.

Saya lebih suka ziarah dengan teman-teman nongkrong (ngaji) saja, meskipun hanya 5-8 orang saja, tapi kekhusukan dalam berziarah itu lebih saya dapatkan ketimbang berziarah dengan orang kampung yang kebanyakan didominasi oleh wanita (ibu-ibu).

Tau kan bagaimana para ibu-ibu!

Saya sih lebih melihat mereka berat di “cari oleh-olehnya” ketimbang mencari keberkahan saat ziarah. Dan sering kali karena kewajiban cari oleh-oleh itulah jadwal yang sudah direncanakan menjadi molor beberapa jam dari perkiraan.

Yang awalnya direncanakan sampai rumah jam 12 malam, kenyataannya kita pulang jam 03.30 dini hari. Bukan karena macet atau kejadian yang membuat lamanya perjalanan. Namun karena lamanya nunggu mereka-mereka yang belanja abis-abisan saat sesudah berziarah di setiap makam.

Dan karena alasan itulah yang membuat saya selalu menolak ketika diajak lagi sama pengurus perjalanan ziarah itu.

Namun kali ini berbeda, ajakan ziarah wali 9 kali ini berasal dari pembimbing jamaah saya. Jadi saya yakin ziarah kali ini akan sangat jauh berbeda ketimbang ziarah ke makam wali dengan masyarakat pada umumnya.

Bukan berarti cara ziarah jamaah kami yang benar, ini bukan membandingkan mana yang benar dan mana yang salah. Selama niatnya berziarah itu baik, insyaAllah akan mendapatkan hasil yang baik juga.

Tapi yang saya yakini akan berbeda adalah bagaimana prosesnya saat berziarah. Karena kita sudah terbiasa nongkrong bersama, jadi bacaan dan cara kita melafalkan dzikir juga akan seirama. Dengan alunan dzikir yang serempak dan seirama, tentu akan menambah kenikmatan tersendiri dalam berziarah.

Berbeda dengan orang umum yang cara bacanya akan berbeda-beda karena tidak terbiasa nongkrong bersama, ada juga yang tertidur maupun ada juga yang sibuk mainin hp dan sebagainya.

Banyak hal yang saya rasakan saat perjalanan ke makam wali 9 kali ini. Mengingat terakhir kali saya ke wali 9 adalah saat saya berumur 5 tahun (jadi jangan tanyakan, karena saya sendiri tidak ingat pernah ikut perjalanan wali 9). Berikut dibawah ini saya akan ceritakan hal-hal menarik yang saya rasakan selama perjalanan.

Target 3 Hari Selesai

Banyak hal yang mengagetkan saat hendak berangkat dari rumah. Saya hanya tau informasi bahwa yang ikut rombongan ke wali 9 kali ini berjumlah 12 orang dan 4 diantaranya berasal dari jamaah saya di Pandaan.

Saya kira pembimbing saya di Pandaan (yang wajahnya mirip Bang Ical) ikut serta, ternyata tidak. Rinciannya adalah 4 orang dari jamaah Pandaan termasuk saya, 3 orang jamaah Kalimantan, 4 orang jamaah Nganjuk dan 1 Pembimbing dari Jember.

Yang lebih mengagetkan lagi adalah rencana waktu perjalanan ke wali 9 hanya di tempuh dalam 2 hari 3 malam saja. Ini adalah perjalanan ziarah estafet  tanpa henti, begitu fikir saya.

Ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. Toh selama perjalanan, kita masih bisa santai ngobrol, makan, ngopi dan merokok sepuasnya.

Masjid Sunan Bonang Dan Alun-Alun

Depan Masjid Tuban - Makam Sunan Bonang Tuban
Depan Masjid Tuban (dok.pribadi)

Selama ini, saya ikut berziarah ke wali 5 yang ada di Jawa Timur itu tidak cuma sekali. Terhitung sewaktu SD pernah sekali, Waktu SMP pernah dua kali ikut jamaah masjidnya bapak yang ada di Surabaya, dan terakhir dua tahun yang lalu bersama rombongan warga desa.

Namun baru kali ini saya tahu bahwa Makam sunan Bonang itu terletak dekat Alun-alun Tuban 😅😅😅. Dan ironisnya saya belum pernah memasuki masjid agung Tuban yang terletak di depannya makam. Bahkan saya sendiri tidak tahu ada masjid dekat makam 😅😅😅.

Biasanya memang rute ke Tuban itu dilakukan di akhir rute, jadi setelah ziarah ke sunan Bonang, langsung perjalanan pulang ke Pasuruan/Pandaan. Karena rasa letih di akhir perjalanan, jadi saya tidak fokus. Setelah berziarah langsung naik becak untuk pergi ke parkiran bus.

Namun kali ini saya sampai di Tuban jam 3 pagi, dan itupun parkirnya di depan masjid juga. Setelah keluar mobil, ternyata saya melihat ada alun-alun diseberang masjid. Jadi selama ini saya terkena ilusi tukang becak yang mengalihkan saya pada keindahan masjid Agung Tuban 😅😅😅

Kian Mudahnya Naik Gunung Muria

Anak tangga ke makam Sunan Muria
Source image by Serempak.id

Jika kalian pernah ke Makam Sunan Giri, kalian akan merasakan betapa capeknya menapaki anak tangga menuju makam tersebut.

Dengan badan yang kini memberat karena jarang olahraga, saya merasakan nafas saya terenggah-enggah saat berada di puncak makam. Ada getaran kaki yang hebat saat berada disana, cenut-cenut gitu terasa dibagian lutut serasa mau lepas. Hahaha 🤣🤣

Dan itu masih belum seberapa, saya membayangkan bagaimana rasanya saat menaiki anak tangga menuju makam sunan Muria besok siangnya. Anak tangga di makam Sunan Giri tidak ada artinya kalau di banding banyaknya anak tangga menuju makam Sunan Muria.

Namun saat sampai disana, saya lega. Ternyata untuk mencapai makam, sekarang sudah tidak mengunakan tangga lagi, tapi dengan naik ojek. Perjalanan naik ojek ini cukup memacu adrenalin mengingat rute jalananya itu menaiki tebing curam yang lebar jalannya cukup sempit dan hanya bisa dilewati 2 sepeda motor saja.

Pertama Kali Merasakan Tidak Tidur Selama 2 Hari

Terus terang saya cukup mampu kalau diajak begadang semalam suntuk tidak tidur sama sekali, itu sudah menjadi hal biasa bagi saya. Namun paginya  tetep harus tidur dong, mentok saya hanya bisa bertahan sampai jam 1 siang untuk menjaga daya tahan tubu saya. Tapi diziarah kali ini, saya full 2 hari tidak tidur sama sekali.

Sebenarnya banyak waktu juga saat ada di perjalanan untuk tidur, namun karena saya sudah terbiasa tidur dengan istri, jadi tidur sendiri itu sungguh menyusahkan, hahahaha 🤣🤣

Bukan! Entah kenapa saya sulit sekali untuk tidur waktu itu, berangkat dari Pandaan jam 12 siang, sampai makam Sunan Ampel hampir Asyar. Semalaman kita menghabiskan berziarah di makam wali di wilayah Jawa Timur. Terakhir berada di sunan Bonang jam 3 pagi.

Jam 6 kami berangkat dari Bonang ke Muria, dalam perjalanan lebih dari 4 jam itu, saya tidak berhasil untuk tidur sama sekali. Sesampai Muria saya mandi biar badan tetap segar. Dan Alhamdulillah tenaga saya masih kuat untuk zikir di makam Sunan Muria.

Tapi setelah itu, disaat di makam Sunan Kudus, tidak hanya saya saja, teman-teman yang lainnya juga lunglai tak berdaya. Dari sekian makam, kita bisa berziarah 2-3 jam, hanya di Kudus saja yang paling singkat.

Sudah suara serak-serak basah dan tak bertenaga, banyak yang tertidur berkali-kali saat baca yasin, juga suara pemimpin tidak terdengar dari belakang karena kalah dengan suara anak-anak madrasah yang jumlahnya puluhan di samping kanan kiri rombongan kita.

Selepas dari Sunan Kudus, kita dapat istirahat selama 3 jam di masjid Sunan Kalijaga. Namun dalam kesempatan itu, saya tetap tidak bisa tidur. Tapi Alhamdulillah, saat berziarah di makam Sunan Kalijaga, kita masih bisa bersuara dengan semangat yang tersisa.

Barulah jam 1 pagi berangkat dari Sunan Kalijogo, saya bisa tertidur disepanjang jalan menuju Cirebon. 3 Jam sudah cukup untuk memulihkan tenaga untuk zikir di hari terakhir.

Mistisnya Makam Sunan Gunung Jati

Siapa yang pernah ke makam sunan Gunung Jati? Kalau pernah, taukah makam sunan Gunung Jati itu yang mana?

Orang umum biasanya akan berziarah ke makam sebelah barat (entahlah, saya tidak tau arah di situ). Dan saya juga pernah ke makam yang disitu saat saya ada training di Indramayu dulu.

Tapi saya baru tau saat mendengar cerita pembimbing saya bahwa makam yang sebenarnya adalah di sebelah timur. Untuk masuk dalam kawasan ini tidak sembarang orang. Hanya orang kraton saja yang diperbolehkan masuk (begitu katanya).

Nah untuk masuk kedalam kawasan makam ini, rombongan kami harus bernegosiasi dulu kepada penjaga pintu. Saya mendengarkan dengan seksama dari negosiasi tersebut, butuh dana yang lebih agar bisa berziarah ke dalam makamnya. Karena butuh memanggil pemegang kunci dari kraton untuk bisa masuk ke makam tersebut.

Karena dana kita cukup pas-pasan, jadi kita memilih tempat di luarnya makam, namun tepat di belakangnya pintu dari makam Sunan Gunung Jati. Tempatnya seperti bukit, karena kita harus memutari dan menaiki tangga untuk sampai kesana. Dan di kawasan ini auranya cukup mistis.

Saya memang tidak mempunyai kemampuan untuk merasakan hal-hal ghaib, namun saat berada disana, aura mistis disekitar kawasan itu sangat pekat dalam perasaan saya. Ada hal ghaib yang sangat besar hingga membungkam mulut kami semua.

Biasanya teman saya agak banyak bicara disaat sebelum ziarah dimulai, nah disaat menunggu jamaah lain selesai berziarah di makam Sunan Gunung jati, kami menunggu disamping jamah tersebut. Terdengar tarikan nafas panjang berkali-kali saat saya berdekatan dengan teman saya ini. Saya melihat kegelisahan dari teman saya ini.

Tentu hal ini dipengaruhi oleh cerita pembimbing saya di Pandaan yang pernah menceritakan tentang ghaibnya makhluk di kawasan makam sunan Gunung Jati. Saya pun juga merasakan hal yang sama, keheningan dan ketenangan di makam tersebut menambah aura mistis tersendiri.

Disaat berziarah, saya keluarkan semua semangat saya, fokus saya dan membersihkan semua niat saya. Dan Alhamdulillah zikirannya berjalan lancar dan seirama.

Ada hal ghaib yang terasa, seperti teman saya yang merasakan harumnya wewangian seperti bunga. Ada juga yang mendengar suara zikir yang bersaut-sautan dari arah dalam makam, dan sebagainya

Kalau saya sendiri?

Entahlah! Saya hanya pemula yang tak bisa dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Meskipun saya tidak mendengar suara atau mencium bau wangi-wangian, namun saya merasakan hal yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata 🤭🤭

Jangan Tanya Oleh-oleh

Dalam perjalanan pulang saya menghidupkan hanphone saya kembali. Terlihat banyaknya notif yang masuk, dari notif group tidak penting maupun notif group pekerjaan. Salah satunya adalah notif dari sanak saudara yang meminta oleh-oleh.

Emang liburan? Woew, ini ziarah, mau saya bawakan tanah kuburan, hahahaha

Sudah hal lumrah bagi kebanyakan orang akan meminta oleh-oleh dari orang yang bepergian ziarah ke para wali. Seperti yang saya terangkan di atas bahwa memang kebanyakan rombongan orang umum yang berziarah, lebih memberatkan oleh-olehnya setelah selesai berziarah.

Nah dirombongan saya, tidak ada waktu untuk melakukan hal tersebut. Selama perjalanan, kita hanya berhenti istirahat hanya ketika sholat, ngopi, merokok, makan dan istirahat saat di sunan kalijaga. Selesai berziarah langsung ke mobil, jadi tidak ada waktu untuk cari oleh-oleh.

Keluarga saya sendiri sudah saya wanti-wanti agar tidak mengharapkan oleh-oleh, bukannya tidak ada dana, namun kita tidak berani bicara sama pembimbing untuk minta waktu belanja. Bahkan sesaat sebelum berziarah di cirebon, kita hendak belanja untuk oleh-oleh. Namun kita urungkan dengan dalih “nanti saja saat selesai”.

Tapi kenyataanya disaat selesai, disaat pembimbing memutuskan “ayu pulang” disitulah tidak ada yang berani bantah, hahahaha 🤣🤣. Akhirnya belanja oleh-oleh hanya sebatas wacana saja.

Baru Kali Ini Saya Menikmati Perjalanan Lewat Jalan Tol

Tol Unggaran Jawa Tengah
Source image by Tribunnews.com

Diperjalanan pulang, kita tidak melewati jalan seperti saat berangkatnya kemarin. Karena tujuannya adalah mengantar jamaah Nganjuk terlebih dahulu. Maka dari Cirebon meluncur ke Semarang, lalu melewati jalan tol unggaran menuju Salatiga.

Saya jarang menikmati pemandangan saat diperjalanan, saya hanya menyukai pantai, laut dan area pegunungan. Nah disaat melewati tol Unggaran saat sore hari itu, saya benar-benar terhibur selama perjalanan pulang.

Biasanya pemandangan tol hanya sekelumit sawah, jalan raya maupun rumah-rumah penduduk. Namun di sepanjang jalan tol Unggaran, saya melihat keindahan area  pegunungan.  Saya sangat kagum dengan jalan tol ini, seakan-akan saya berjalan di dalam hutan dan menaiki pegunungan.

Meskipun tubuh sudah lemas lunglai, saya menguatkan untuk menikmati perjalanan di jalan tol ini hingga Salatiga. Barulah setelah itu saya memejamkan mata berkali-kali hingga sampai rumah.

***

Begitulah cerita singkat perjalanan ke wali 9 di Pulau Jawa dalam 2 hari 3 malam. Menyita banyak tenaga namun saya merasakan perjalanan batin yang luar biasa yang sangat berharga bagi saya.

Semoga tahun depan saya ada acara seperti ini lagi. Atau acaranya berubah menjadi ziarah wali 9 di pulau Lombok dan sambang ke makam Tuan Guru, Semoga saja.

[AI]

Share This :

3 Replies to “Perjalanan Religi Ke Makam Wali 9 Dalam 2 Hari 3 Malam”

  1. pengen banget nih ziarah wali songo begini

  2. wah kalo ziarah” gini tante saya juga hobi nih
    xixixi

  3. Ini kisah prljlnan yg panjang juga, Mas Ir, hee…

    Luar biasa ya ziarahnya. Ampe 2 mlm gak tdur, kuat bnar.

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.