Tentang Senja, Hujan Dan Kesedihan

“Kenapa harus senja, Aku sungguh membencinya…” katamu memalingkan wajah dari langit jingga sore itu.

Aku tau apa yang kau rasakan, kekecewaan atas kenyataan pahit yang belum bisa kau relakan. Senja yang menawarkan keindahan sesaat namun sekejab menghilang, yang tersisa hanyalah kegelapan yang tak selalu memberikan ketentraman.

Aku tau beratnya sebuah perpisahan, dan aku juga pernah mengalami betapa pahitnya rasanya ditinggalkan. Namun bukankah hal itu adalah siklus alam yang tidak bisa terelakkan.

Setiap kita, aku, kamu dan semua, pastinya akan mengalami hal yang sama. Antara meninggalkan ataupun ditinggalkan! Semua pada dasarnya sama, punya potensi untuk melukai ataupun dilukai.

Aku tak harus menyalahkanmu tentang kebencianmu pada senja, karena aku juga pernah mengalaminya. Jika matahari bisa tenggelam saat senja, namun ada satu hal yang tak bisa ikut tenggelam saat melihatnya.

Yaitu sebuah RASA.

Kau tahu…?

Aku pernah berpikir bahwa dengan melihat senja, aku ingin melepaskan semua beban dalam dada dan menenggelamkannya bersama sinar jingga. Namun nyatanya rasa ini tak pernah bisa menghilang begitu saja.

“Tapi hujan bisa..!” katamu memotong cerita

Aku rasa tidak! Hujan hanya menyamarkan kesedihanmu, bahkan hujan akan menenggelamkanmu dalam kesedihan yang lebih dalam.

“Kenapa begitu”

Karena hujan dan rindu adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Bukankah kau akan memikirkan sesuatu saat turun hujan?

Dentingan hujan itu ajaib!

Ada yang percaya bahwa setiap hujan yang turun, akan mengeluarkan lagu tersendiri bagi orang yang sedang merindu. Seakan-akan hujan akan meresonansi ingatanmu untuk kembali ke masa lalu.

“Ah benar…” katamu tersipu malu.

Tapi tau kah kamu? ada hal yang seharusnya kamu mengerti terlebih dahulu bahwa membenci itu menyesakkan.

Kenapa harus membenci senja?  

Bukankan senja menyadarkan kita bahwa sinar matahari tak akan selalu menemani. Kita tahu pasti, antara aku dan kamu adalah sebuah misteri. Kita tak tau siapa yang akan lebih dulu pergi, dan semua itu adalah pasti.

Kita sudah berusaha menjalankan hari ini dengan sepenuhnya, apapun yang terjadi hari ini, setidaknya berakhir indah seperti pemandangan senja.

Meskipun sebentar setidaknya itu bermakna. Disaat keindahan senja yang sebentar itu dilahap oleh gelapnya malam, setidaknya senja telah membuat kita mengerti akan arti sebuah kata “rela”.

Yah, relakan dia pergi dan biarkan seseorang mengantikan posisinya.

Ah tidak!

Aku tau benar, tak ada yang bisa mengantikan posisinya di hatimu. Bukan hanya aku, bahkan setiap orang di belahan bumi inipun tak akan mampu mengantikan posisinya di hatimu. Karena dia adalah saudara satu-satunya dalam hidupmu.

Namun setidaknya, akan hadir seseorang yang akan menghapus lukamu dengan menaburkan bunga dan doa untuk orang yang kau cintai itu.  Meskipun tidak sempurna, namun aku yakin seiring berjalannya waktu, dia akan menemanimu seperti hujan, “Sederhana dan menenangkan”

Tersenyumlah wahai saudariku…

Bagiku, kau adalah senja dan hujan itu sendiri. Ada keindahan berbalut kesedihan, namun tegar dan selalu menenangkan.

[AI]

Share This :

4 Replies to “Tentang Senja, Hujan Dan Kesedihan”

  1. Hujan, senja dan kesedihan.
    Kenangan, rindu dan keihklasan.

  2. Saya suka hujan, khususnya di malam hari, di atas pukul 9 malam, hujan deras, lalu berhenti di pukul 3 pagi.
    Ini komen atau request hujan yak, lagian kalau hujan selama 6 jam berturut-turut, bakalan banjir tuh, terlebih di Jakarta hahaha

    1. hahahaha,
      memang kalau bagi yang sudah nikah, mending hujan jam segitu deh

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.