Dipaksa Pakai Editor Gutenberg! Pilih Editor Klasik Atau Editor Gutenberg?

Ada yang baru nih di penghujung tahun 2018! Pembaruan WordPress versi 5.0 sudah dirilis dan baru tadi pagi saya upgrade biar tidak ketinggalan zaman.

Namanya update, tentu akan ada banyak perubahan, namun saya sedikit abai untuk baca pembaruan apa saja yang akan terjadi di WordPress 5.0 ini. Β Namun yang paling menonjol adalah satu perubahan drastis pada teks editornya. Dimana teks editor yang lama yang menggunakan TinyMCE digantikan dengan Gutenberg Editor.

Dan disitulah saya merasa sedih, kenapa harus diganti, KENAPAAAAA?

Padahal saya sudah nyaman pada editor yang lama dan tidak ingin berpindah ke yang lain.

Apa itu Gutenberg Editor ?

Nama Gutenberg diambil dari nama penemu mesin cetak, Johannes Gutenberg. Penemuan yang revolusioner dalam dunia percetakan dimana komunikasi massal lewat tulisan bisa menjadi lebih mudah, murah, dan terjangkau.

WordPress sebelumnya mengunakan TinyMCE yang sudah cukup memudahkan penggunanya melakukan editor menurut saya. Misalnya saja saya mengetik draft konten pada word, kemudian saya copy paste ke editor wordpress. Maka otomatis format penulisan draft tersebut sudah mengikuti format yang sudah kita tuliskan di word.

Berbeda dengan editor di blogger, jika kita asal copy-paste, bisa jadi ukuran huruf dan jenis fontnya bisa berbeda-beda. Sedangkan di WordPress, fontnya akan otomatis mengikuti font default theme.

Kekuranganya editor TinyMCE adalah bagi pengguna yang ingin menyajikan konten yang lebih kompleks, misalnya menyisipkan dokument scribd atau slideshare. Bagi yang sudah mahir, tentu akan mudah dengan meng-embed melalui editor mode text, sedangkan bagi orang awam?

Masalah lain juga timbul saat mengunakan editor lama adalah tentang bagaimana hasil yang terlihat di editor tidak sama dengan hasil saat dipublish. Biasanya hal ini terjadi pada blog yang mengunakan tema asal-asalan. Dimana penyedia tema tidak menyajikan fitur pengubah jenis dan ukuran font agar sesuai dengan lebar tulisan di blog.

Dan untuk mengatasi masalah-masalah itu, Gutenberg hadir sebagai alternatif editor yang memberi kemudahan bagi penggunanya, terutama bagi pengguna baru di wordpress. Tapi kalau bagi saya, editor klasik masih jadi favorit deh.

Tampilan Gutenberg Editor Yang Halus Seperti Pakai Skin Care

Jika kalian pernah membuat sebuah blog di Medium, maka kalian tak akan kaget dengan tampilan editor Gutenberg di WordPress. Tapi jika kalian udah lama hiatus dari wordpress dan kemudian baru mulai ngeblog lagi, yuk belajar lagi sama-sama lagi.

Pertama kali membuka editor, tampilannya jadi sangat bersih kayak wajah Park Shin-hye gitu. Terlihat ada dua kolom, kolom pertama itu untuk Judul artikel, sedangkan kolom yang kedua untuk isi kontennya.

Lembar awal editor Gutenberg

Setelah saya mencoba mengetik satu sampai dua paragraf, ternyata Editor Gutenberg ini mengunakan konsep block untuk tiap paragrafnya. Jadi penggalan jarak tiap paragraf akan terlihat jelas gitu.

Tiap kita klik block paragraf tersebut, otomatis akan keluar menu seperti garis tebal, miring, rata kiri dan sebagainya. Benar-benar mengingatkan saya pada blog medium saya yang tak terurus, huhuhu.

Oh iya, ada menu Drop cap nya juga loh. Tau tidak apa itu Drop cap? Drop cap itu semacam memperbesar huruf awal dalam suatu paragraf. Dulu saat saya membuat artikel β€œMengeja bahagia”, sebenaranya saya ingin mengunakan fitur itu, namun apa daya dulu editor klasik tidak menyediakan fitur tersebut, alhasil saya mengunakan image untuk itu.

Ada juga menu warna background pada belakang sebuah tulisan. Tentu ini sangat menarik bagi blogger yang suka dengan warna pelangi. Apa hubungannya? Hahaha

Kadang saya sedikit binggung dengan fitur warna ini untuk apa? Apakah biar kontennya terlihat lebih berwarna gitu kah? Atau memang ada juga blogger yang menyukai tampilan dengan text yang ada warnanya gitu. Entahlah!

Kalau Disuruh Milih? Pilih Editor Klasik Atau Gutenberg?

Jika ada pilihan seperti itu, saya pasti akan mengganti editor gutenberg ini dengan yang klasik saja. Soalnya saya sudah terlalu nyaman dan terbiasa dengan yang lama.

Namun apa daya hamba! Sesaat upgrade wordpress 5.0, secara otomatis default editor di blog saya berubah menjadi Gutenberg.

Saya sudah terbiasa menulis draft pada microsoft word terlebih dahulu, baru kemudian sesudah selesai membuat konten, saya paste di editor WordPress. Namun kalau di Gutenberg, format penulisannya jadi sedikit berantakan, terutama perihal spasi yang hilang. Alhasil saya harus koreksi ulang penulisannya lagi.

Sebenarnya fine-fine saja sih bagi saya, karena saya juga pernah punya blog di Medium yang editornya mirip dengan editor baru ini. Memang sesuatu hal yang baru butuh adaptasi, sama kayak pernikahan gitu.

Apa hubungannya?

Hahahaha

Kalau kalian? Merasa kesulitan tidak dengan editor baru? Lebih enak mana editor Gutenberg dengan Editor klasik menurut kalian?

[AI]

Share This :

25 Replies to “Dipaksa Pakai Editor Gutenberg! Pilih Editor Klasik Atau Editor Gutenberg?”

  1. Saya baru comeback setelah menghilang selama 2 tahun, dan mendapatkan editor berbeda dibanding 2 tahun lalu. Nah saya kira memang begitu, agak membingungkan. Menyisipkan gambar aja agak ribet nyari2 tombolnya. Jadinya saya kalau edit blog di aplikasi ipad aja lebih mudah. Terima kasih suhu untuk penjelasannya 😊😊

    1. Kalau di ipad pakai yang klasik yah mbak?

    2. Tidak ada yang berubah, kalau di ipad

  2. Beberapa hari yang lalu saya mencoba menggunakan editor Gutenberg dan masih merasa kebingungan (khususnya masih bingung pada letak menu2nya). Selain itu, sepertinya pada editor ini juga tidak lagi menyertakan fitur untuk merata kanan-kiri tulisan dan untuk ngedit2 jadi lebih lama (mungkin karena belum terbiasa πŸ™‚ ). Kalau boleh milih saya lebih memilih kombinasi antara editor Gutenberg dan klasik πŸ™‚ .
    Nice info, Mas. Terima kasih

  3. Bang Irawan. Blogmu kok jadi susah dibaca di WordPress reader ya. Jadi harus ke browser gitu. 😐

    1. Yah gitu mas, efek ngikut apartemen sebelah. Blogku pakai wordpress self hosted mas, jadi udah beda sama wordpress.com
      Cuma masih bisa terhubung berkat plugin yang bernama jetpack

  4. Gutenberg bagus sih. Saya enjoy saja, dengan editor ini. Cuma sik rodo angel ya kalau mau edit font italic… Mbuh saya bermasalah dengan yang satu ini. 😁

    1. Kan meni italicnya ada di setiap block mas

  5. saya juga sewaktu awal-awal agak kagok juga pakai editor yang baru ini, ada beberapa fitur yang posisinya berubah hahaha. tapi lumayan juga jadi semacam hiburan juga tampilan baru ini. Soalnya dulu waktu di blogger saya jenuh banget soalnya pembaruan tampilan nya engga sebagus wordpress hahaha πŸ˜€

    1. Iya mas, ada sesuatu hal baru yang harus di adaptasikan, kayak sebuah hubungan baru gitu, huhuhu 😁

  6. Haduhhh.. saya mah gaptek gitu2. Taunya nulis2 aja.. mau belajar udah kurang josss semangatnya πŸ™ engga aye utak atik blog nya. Paling klik new post atau edit. Yang lain mah dont kenow

    1. Sama ad widget, paste kode html iklan yah mas gun, huhuhu

  7. Ribet asli gutenberg

    1. Tapi tetep harus terbiasa mas, soalnya udah default wp sekarang

  8. Klasik lebi ena

  9. Saya berkali-kali harus mengedit hasil tempelan dari Word karena teks jadi rapat rapat sendiri, duh. Memang lebih keren sih editornya, tapi saya juga lebih suka editor lama. Dah kadung familiar. Tapi coba ditelateni deh.

    1. Mungkin coba textnya di copi ke notepad dulu mas, saya belum coba sih, siapa tau spasinya tidak hilang

    2. Sudah saya coba, memang spasinya tetap bertahan, namun format teks seperti cetak miring dan tebal tentu saja jadi hilang. Tetap mengulang baca lagi hehe

    3. Ah ya juga yah mas.. tetep harus di baca lagi

    4. Betul banget.

  10. Saya kayaknya masih make yang klasik deh, soalnya pas mau posting ada tulisan new editor gitu, suka saya silang saja wkwkw

  11. WordPress yang bisa diupgrade itu khusus yang berbayar atau gratisan juga bisa mas? Saya pakai gratisan dan kalau lagi nulis memang suka muncul Meet New Editor gitu, tetapi selalu saya abaikan. hehehe. Kalau dari cerita Mas, sepertinya saya tetap pilih yang klasik aja deh, hehehe.

    1. Yang berbayar mbak, kalau yang gratisan biasanya udah otomatis dari automaticnya..
      Iya, lebih simple yang klasik memang

  12. Karena saya masih numpang di WP, dan itu masih tahap pengenalan, ada penawaran untuk nyoba editor baru sebelum benar2 launching, masih saya abaikan. Sudah kebayang bakal ngeraba2 dari awal lagi, namanya juga editor baru. Untung mas Nur ngebahasnya, jadi dapat gambaran dikit.
    Ntar kalau udah harus menggunakan gutenberg, baru deh saling mengenal πŸ˜€

  13. Kyknya memang banyak bikin keder yang Gutenberg ini, padahal klo dah enak make nyaman bgt lho.

    Btw kalau nggak mau pake Gutenberg bisa pasang plugin Classic Editor dulu, jadi nanti editor teks lamanya bisa dipake lagi.

    Sedikit tip buat yang make Gutenberg, kalau kita mau masukin heading, gambar, atau kode embed bisa nulis pake garis miring dulu sebelum nulis. Contoh: bikin heading (/heading), masukin gambar/galeri (/image), masukin kode embed/html (/embed), dll. Jadi enak nggak perlu klik-klik manual lagi.

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.