Untuk Masa Lalu, Terima Kasih Untuk Semua Luka Yang Kau Beri

Terkadang kita harus berterima kasih atas luka di masa lalu, agar kita bisa maju dan mencari bahagia dengan cara yang baru

Gila…! Mungkin 10 tahun yang lalu, saya tidak pernah sudi mendengar saran seperti itu. Bagaimana tidak? Jika seseorang menghianati kita, menusuk kita dari belakang, menghina kita di depan orang banyak. So, yakin kalian akan diam begitu saja…! apalagi disuruh mengucapkan terima kasih gitu?

Hellooowww! Emangnya hati ini terbuat dari remahan rengginang apa?

Tentu hal yang paling mungkin saya pikirkan adalah dengan membencinya dan memusuhinya. Entah dengan mengumpat dan memakinya meskipun dalam hati. Atau yang paling ekstreem adalah dengan melakukan pembalasan yang setimpal kepada mereka yang pernah menyakiti kita.

Namun semua itu tidak saya lakukan.

Sakit hati itu manusiawi banget, jika kita memusuhi dan membencinya, saya kira itu wajar. Luka karena sayatan yang dalam bisa sembuh dengan hitungan hari, tapi luka hati yang dalam? Yakin bisa hilang dalam seminggu?

Sering kali saya mengalami hal demikian, disaat hati ingin memaafkan dan merelakan perbuatan mereka kepada kita, namun disaat berjumpa dengan mereka, emosi dan bayangan luka itu membekas sangat pekat dipikiran. Yang niatnya sudah memafkan, tiba-tiba keinginan untuk membenci timbul kembali.

Apalagi jika disaat orang yang melukai tidak pernah sadar akan tusukan yang dia buat pada diri kita, dengan sok suci dia bercanda di depan kita seakan-akan semua luka itu tidak pernah terjadi.

Kadang disitulah pikiran jahat yang saya miliki memutar sebuah rencana busuk untuk menjatuhkan mereka di tebing yang paling dalam. Tentu agar mereka semua bisa menghilang dari peradapan.

Tapi dari semua itu, kita adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Kita diberi hati, nafsu, emosi dan akal, untuk bisa memilih jalan ninja kita sendiri. Kita boleh memilih untuk membenci mereka bahkan membalas mereka, namun apakah dengan membalas mereka, kita akan puas?

Yakin dengan melakukan perbuatan seperti mereka (menyakiti) membuat kalian jadi bahagia? Apa tidak sayang status kita “turun” dari orang yang baik menjadi orang yang jahat.

Lagi pula, kita tidak pernah tau sebaik apa kita, bisa saja tanpa kita sadari, kita pernah menyakiti orang lain. Entah karena perkataan kita atau perbuatan kita, sengaja atau tidak sengaja.

Baca juga : Cara Menyikapi Masa Lalu Yang Terus Membayang

Haruskah Kita Berterima Kasih Pada Luka Di Masa Lalu?

Setelah tumbuh lebih mendewasa dari pada 10 tahun silam, saya menyadari bahwa semua luka adalah anugerah terindah yang pernah saya miliki. Mungkin saya gila dan tidak waras, namun kenyataannya luka itu adalah penolong dan pengingat bahwa saya adalah manusia yang hina.

Baca Juga :  Perasaan Yang Mungkin Kalian Rasakan di Saat Jatuh Cinta

Rasa sakit yang saya rasa, tak sebanding dengan pelajaran berharga yang saya dapatkan. Mungkin perihal mereka yang pernah menyakiti kita dan menghianati kita. Saya tahu bagaimana rasa sakitnya, ketika kita berharap banyak pada seseorang, kemudian seseorang itu mematahkannya dengan begitu saja.

Saya menyadari bahwa saya yang salah, mungkin memang benar bahwa berharap pada sesama manusia itu tidaklah benar adanya. Dan saya sering melakukan hal tersebut pada beberapa orang. “memberi harapan, kemudian mematahkannya

Mungkin ini semacam pembalasan dari apa yang pernah saya lakukan. Bukan berarti saya salah, tiap orang mempunyai alasan untuk membenarkan teorinya. Dan saya tidak menyalahkan dia yang pernah menghianati dan menyakiti, karena dia berhak memilih.

Pernah saya membenci, namun pada akhirnya kebencian itu adalah drama yang saya buat-buat sendiri. Kebencian itu hanya berkutat pada diri sendiri dan mengerogoti kebahagian yang saya jalani. Toh, sebenarnya dia tak pernah membenci, hanya dia merelakan kita pergi untuk kebahagiannya sendiri.

Egois? Saya rasa tidak juga.

Setiap kita memang ingin bahagia, entah itu dengan mengajak yang lainnya bahagia atau dengan menyakiti mereka. Bukankah setiap pemenang kontes akan menyakiti peserta kontes lainnya? Mungkin seperti itulah kehidupan.

Rasa sakit itu ada pada diri sendiri bukan tentang orang lain. Ketika kita tidak menganggapnya sakit, maka kita tak akan pernah merasakan sakit.

Ah ini berat….!

Sesungguhnya Rasa Sakit Itu Mengajarkan Banyak Hal

Sebenarnya setiap ujian hidup, selalu memberi pelajaran berharga bagi kita. Tinggal kitanya saja mau menerima dan mencari hidayah dibalik ujian hidup atau tetap membuat bak drama seakan-akan dunia ini tak memihak kepada kita.

Bentar…! kita kan tidak pernah tahu, kesulitan hidup itu datang sebagai ujian, cobaan atau adzab. Nah loh?

Anggap saja rasa sakit yang kita rasa ini adalah ujian hidup, biar lebih enteng. Yang namanya ujian kan ada masa lulusnya, benar kan?

Rasa sakit itu sebenarnya mengajarkan kita banyak hal, antara lain :

Pengalaman Rasa Yang Berharga

Kita tidak akan pernah tahu pahitnya kopi kalau belum menyeduhnya sendiri. Pengalaman adalah hal yang tidak bisa dipelajari secara teory, apalagi ini perihal rasa.

Kadang saya kesal mendengar beberapa wanita yang curhat masalah cowok, dan mereka menyimpulkan kalau cowok si “A” tidak pantas untuk dijadikan pacar, yang alasannya hanya karena “katanya” dan melihat dari sudut pandang cewek yang pernah putus dengannya.

Ini kan tidak adil banget, bisa saja putusnya hubungan dikarenakan ketidakcocokan. Kemudian desas-desus dibicarakan dari mulut orang ke orang hingga akhirnya timbul isu dan berbagai fitnah serta dugaan-dugaan ngawur. 

Baca Juga :  Cara Menyikapi Masa Lalu Yang Selalu Membayang

Rasa sakit juga sama, setiap kita tidak akan mampu memahami rasa sakit yang diderita orang lain. Dengan memahami rasa sakit diri sendiri, kita akan belajar untuk tidak menyakiti orang lain. Karena kita tahu sendiri beratnya menyembuhkan rasa sakit di hati.

Guru Yang Terbaik

Mungkin kita tidak bisa membenarkan orang yang pernah menyakiti kita, namun kita juga tidak mempunyai hak untuk menyalahkannya. Kenapa? Bukankah sudah jelas kalau mereka yang salah?

Bagaimana kalau rasa sakit ini adalah pelajaran yang memang dikhusukan untuk kita. Bagaimana kalau melalui tangan orang yang menyakiti kita, Tuhan memberi peringatan serta hidayah yang sebenarnya.

Nah loh..

Jadi terimalah rasa sakit itu, jadikan rasa sakit ini adalah pelajaran serta guru terbaik untuk kehidupan kita. Dengan pernah merasakan rasa sakit, tentu dalam benak kita akan menghindari drama yang akan membuat rasa sakit yang sama berulang.

Menemukan Rumus Bahagiamu Sendiri

Jika di sekolah mengajarkan tentang rumus matematika dan rumus fisika, rasa sakit mengajarkanmu tentang rumus bahagia.

Setiap orang pasti ingin bahagia, dan untuk membuat bahagia itu sangat sederhana sebenarnya. Namun orang tak akan mengerti arti bahagia jika tidak pernah merasakan kecewa, sedih dan sakit sebelumnya.

Seperti pengalaman saya, anggap saja saya memang PHP (pemberi harapan palsu), namun semua itu saya lakukan demi memilih yang baik. Saya tak memberi janji setinggi langit, mungkin sedikit perhatian yang mungkin membuat mereka jadi berharap.

Dan ironisnya, semua itu kembali ke saya pribadi, dimana saya yang menjadi pecundang yang berharap bulan jatuh dipangkuan. Dan disitulah sakitnya dimulai.

Pernah merasakan sakitnya ditolak, sakitnya dihina, sakitnya ditusuk dari belakang bahkan dari depan pula. Pernah juga merasakan masakan padang terasa hambar, hingga malas makan, juga merasakan alam seakan menangis bersama hujan.

Namun setelah itu, saya belajar bagaimana untuk bangkit dari keterpurukan. Bagaimana saya mengatasi rasa sakit yang saya rasakan, bagaimana memaafkan itu tidak semudah membalikkan tempe dipenggorengan. Dan saya belajar bagaimana saya menghadapi masa suram itu dengan kedewasaan.

Dan saya bersyukur, dengan adanya rasa sakit itu membentuk saya menjadi seperti sekarang.

Tidak sebaik yang kalian bayangkan, namun saya sedikit memahami bahwa rasa sakit adalah kunci rumus bahagia yang sebenarnya. Kita tak akan benar-benar memahami makna bahagia sebelum kita terjun dalam rasa sakit sebelumnya.

So, sudah siap memafkan dan berterima kasih pada masa lalu?

[AI]

Advertisements
Share This :

11 Replies to “Untuk Masa Lalu, Terima Kasih Untuk Semua Luka Yang Kau Beri”

  1. Semua kejadian tidak ada yang kebetulan ran selalu ada hikmanya, namun luka memang perlu waktu untuk bisa sembuh. Asal kita tidak perlu dendam biar lepaskan saja dan move on..

    1. iya, waktu adalah obat luka hati yang baik

  2. Siaaap sudah insyaallah uwuwuuw

    1. 😄😄😄

  3. Jangan di benci, tapi bertemanlah dengan masa lalu. Gitu ya bang ? 😁

    1. Aku takutnya kedekatan dengan masa lalu bisa timbul CLBK gitu, huhuhuhu
      gimana dong, wkwkwkw

    2. Kalo masalalunya itu jadi masadepan juga gimana dong? Apa masi perlu clbk?

    3. ah ini nyindir hahahaha 😀

  4. Memeluk dan menerima luka itu memang nggak gampang banget, Mas Nur :”’ Perihnya itu membersamai waktu. Satu-satunya cara penguat kita emang cuma mengingat Allah aja. Seberapa perih pun, kita tetap bisa bangun dan berjalan lagi.

    Meskipun tertatih-tatih karena luka, Insya Allah tetap bisa maju :’)

    Terima kasih tulisannya, Mas Nur. Sebagai pengingat, sesakit apapun luka, pasti memberikan pelajaran.

  5. deadyrizky says: Balas

    akhir tahun gini banyak yang postingannya bernada kontemplasi ya
    ya yang kek gini ini lah

  6. Aku setuju.. tapi berat untuk dijalani :'(

    oya kak.. I nominate you for the Sunshine Blogger Award, check it out on https://adetawalapi.wordpress.com/2019/01/22/sunshine-blogger-award/

    Thank you 😀

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.