Segala Yang Pahit, Menyembuhkan Segala Penyakit

Menemukan quote ngawur teman saya sewaktu masih lajang dulu. Quotenya cukup ngawur, namun saya rasa cukup realitis banget.

Saya kira hanya bodrexin dan contrexin yang membantu meredakan sakit tanpa menyisakan pahit di lidah. Oh ada lagi, yakult juga baik untuk pencernaan dan sangat membantu kalau lagi ada gangguan pencernaan macam mules diperut. Selain itu, obat itu pahit, namun yang rasanya yang pahit cukup manjur untuk menyembuhkan.

Membuat bahagia itu mudah, tapi menghargai sebuah kebahagian itu yang agak susah. Disitulah siklus alam yang bernama “sakit, sedih, kecewa” harus ada biar kita menghargai perjuangan untuk mencapai rasa bahagia itu tidaklah mudah.

Pernah tidak? Ada teman yang ketika kita merasa sakit dan kecewa, dia mengatakan hal ini.

“Jika pernah disakiti dan merasa kecewa karena dihianati, ikhlaskan saja!”

Dengan nada santai dia menceramahi kita dengan bijaknya, namun mereka tidak tahu sesakit apa yang kita rasakan. Apalagi dia tidak pernah mempunyai pengalaman rasa sakit yang kita derita. Disitulah saya pengen teriak sekeras-kerasanya di telinganya dan bilang “Bullshit”

Karena pada dasarnya, mengiklaskan itu tidak semudah yang mereka ucapkan.

Siapa sih yang ingin bersedih terus menerus? siapa sih yang tidak ingin move-on dan bahagia? Namun untuk melewati itu semua, prosesnya tidak semudah itu.

Butuh waktu, dan setiap orang memiliki penerimaan yang berbeda-beda. Disitulah uniknya manusia. Kita tidak bisa menyelesaikan masalah hanya dengan satu rumus yang sama, problem manusia itu tidak seperti rumus matematika, yang satu tambah satu bisa jadi dua.

Seperti quotenya teman saya itu :

Sabar itu pahit, Jujur itu pahit, dan Ihklas itu sangatlah pahit, namun semua yang pahit menyembuhkan segala macam penyakit

by : Den Spartan

Sabar itu Pahit

Tahukah kalian betapa sabarnya teman saya yang satu ini. Dia adalah seorang pecinta yang mencintai dalam diam, eaaahhh.

Dia typikal cowok setia yang sangat setia menunggu jawaban dari seorang wanita yang dicintainya selama 3 tahun lamanya saat di SMA. Bayangin betapa besar pengorbanannya, dia rela mengerjakan tugas sekolah si wanita ini tanpa pamrih (eh kayaknya pamrih deh, hahaha)

Baca Juga :  Mengisi Lubang Dalam Hati, Kehilangan Yang Tidak Lagi Mudah

Pernah juga disaat si wanita ini lupa bawa pekerjaan rumah, si teman saya ini rela memberikan tugas rumahnya ke wanita ini. Dia rela dikeluarkan dari kelas hanya untuk itu. Namun di akhir cerita, si Wanita ini lebih memilih orang lain dari pada teman saya.

Tragis kan…!

Namun, menurut saya pribadi, bukan salah si wanita, ataupun teman saya. Ini hanya perihal pilihan. Yang satu memilih bahagia dengan yang lain, dan yang satu memilih untuk bersabar meski itu pahit.

Jika ada yang bilang sabar itu subur, kenyataannya tidak begitu. Sebelum sabar menghasilkan subur, ada proses yang cukup pahit yang harus dilalui. Misalnya sabar menunggu antrian, pahitnya selain menunggu lama, desak-desakan, atau menunggu antriannya sambil berdiri berjam-jam.

Baca Juga : Dalam Menunggu, Sabar Saja Tidak Cukup

Jujur Itu Pahit

“Katakan sejujurnya, meskipun pahit rasanya”.

Berkata jujur itu tidak mudah, apalagi kita seorang yang peka akan perasaan seseorang. Terkadang kita memilih untuk bohong hanya untuk membuat seseorang tidak khawatir akan suatu hal, meskipun pada akhirnya kebohongan nantinya juga akan terbongkar, setidaknya kita bisa memberitahu alasan yang tepat.

Tapi akan lebih baik jika kita jujur sejak awal, sepahit apapun keadaannya, setidaknya kita menuntun ke realita yang sebenarnya, bukan kebahagiaan yang penuh dusta.

Dan Ikhlas itu Sangatlah Pahit

Dan ini point terakhir yang siapapun akan sulit untuk melakukannya. Sabar saja cukup pahit apalagi Ikhlas yang merupakan tahap terakhir dari sabar.

Misalnya seperti pengalaman teman saya yang sudah sabar menunggu seorang wanita yang tak kunjung memberi kepastian. Apalagi di ujung penantiannya, wanita itu harus memutuskan untuk pergi. Disitulah kesabaran akan diuji.

Baca Juga :  Tak Perlu Iri, Setiap Kita Memiliki Peran Bagi Kehidupan Masing-Masing

Kepahitan yang sudah menumpuk akan berubah menjadi sebuah kebencian. Bisa saja teman saya jadi emosi pengen balas dendam, atau hatinya terpuruk hingga menganggap dunia ini seperti kegelapan.

Namun ketika kesabaran tetap terjaga di hatinya, kemudian kesabaran tersebut naik level menjadi rela untuk melepaskan, disitulah arti “ikhlas” yang sesungguhnya, eaaahhh.

Baca Juga : Baik Susah Maupun Senang, Semua Itu Ujian Dari Tuhan

Segala Hal Yang Pahit, Cukup Manjur Untuk Menyembuhkan

Sama seperti obat yang pahit, kepahitan yang dirasakan saat bersabar, saat berkata jujur dan saat mengikhlaskan itu cukup manjur untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Memang tidak selalu benar, namun saya pernah mengalaminya.

Seperti disaat saya sakit mata dulu, saya mengalami kebutaan untuk sementara. Saya cukup bersabar dengan berikhtiar berobat kemana saja. Dari dokter, terapi, bahkan minta doa ke kyai.

Sebagai seorang laki-laki yang mencari nafkah untuk keluarganya, tentu saya ingin cepat sembuh agar beban ekonomi tidak semata ditanggung oleh istri saya. Namun hingga sebulan sakit mata saya tidak kunjung sembuh, bahkan saya sampai mengalami kebutaan.

Lebih parahnya lagi, dugaan dokter atas penyakit yang saya alami, justru membuat tekanan batin keluarga saya makin histeris. Setegar apapun saya, tetap tak akan kuat melihat orang-orang yang saya sayangi menangis, apalagi itu menangisi kondisi saya.

Sambil terus berikhtiar, saya mulai mengikhlaskan kondisi saya seperti ini, bahkan saya berandai-andai kalau memang takdir saya tidak bisa melihat lagi, tak apa. Saya merelakan istri untuk pergi meninggalkan saya kapanpun dia mau.

Namun istri marah saat saya mengatakan hal demikian, Disitulah saya merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini. Saya sangat bersyukur memiliki dia sebagai pendamping hidup saya.

Dan alhamdulillah, kesabaran itu membuahkan hasil. Saya sembuh dengan pelajaran yang sangat berharga dalam hidup saya.

Penutup :

Jika sabar, jujur dan ikhlas mengajarkan kita akan pahitnya dunia, maka hal terakhir yang bisa kita dapatkan adalah dengan mensyukurinya. Yah, saya rasa syukur adalah bentuk termanis dari pahitnya sabar, jujur dan ikhlas yang kita lakukan.

[AI]

Advertisements
Share This :

4 Replies to “Segala Yang Pahit, Menyembuhkan Segala Penyakit”

  1. Speechless saya.

    Kebetulan saya punya prinsip yang hampir sama, “Kesulitan membawa kekuatan”

  2. agak sedih sedih gimana gitu bacanya :’)
    Kalimat penutupnya sangat indah bang 🙂

  3. Jadi keinget quote man shabara zafira 😁😁

  4. Kenangan??

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.