Repotnya Hidup di Zaman Serba Cepat

Di dunia yang serba cepat seperti zaman sekarang, yang lambat akan ditinggalkan oleh penggunanya. Perkembangan teknologi yang makin canggih, sehingga melahirkan perangkat yang bernama depan “smart” yang sangat berimbas pada aspek kehidupan masyarakat.

Dengan satu perangkat dalam genggaman, bisa menghemat melakukan beberapa hal, misalnya saja cari baju pesta. Dulu untuk mencari baju, masyarakat harus rela memutari pusat perbelanjaan untuk mendapat baju yang pas untuknya. Dengan berdesak-desakan, cari harga yang cocok, serta nego yang cukup panjang dari toko satu ke toko yang lainnya.

Sekarang! cukup tiduran di dalam kamar sambil buka pusat perbelanjaan (marketplace) di smartphone, scrool ke bawah sampai ketemu baju yang cocok dengan harga yang pas di kantong. Tinggal bayar melalui pembayaran digital, barang sampai dalam hitungan jam (kalau tempatnya dekat).

Perkembangan teknologi jelas memudahkan penggunanya, namun terkadang teknologi juga menyusahkan. Orang zaman sekarang itu maunya serba cepat dan tidak mau ribet.

Mentang-mentang ada teknologi, semuanya minta lebih cepat. Dan hal seperti itu yang sering saya alami selama jadi Driver ojek online.

Misalnya saya dapat orderan Go-Ride. Seperti biasa, mengucapkan salam adalah hal yang selalu saya lakukan saat pertama kali chat. Kemudian menanyakan apakah lokasinya sesuai seperti di map atau kalau membelikan makanan saya konfirmasi pesanannya sesuai atau tidak.

Namun tidak sedikit juga saya mendapatkan pelanggan yang sudah terbiasa hidup “di zaman serba cepat”. Belum mengawali salam sudah di chat duluan, isinya juga mencengangkan.

 “Bisa cepat tidak pak”

“Pak, tolong lebih cepat yah, saya terlambat nih?”.

Kadang saya kesal mendapat pelanggan seperti ini, kalau tidak ingin terlambat, kenapa tidak pesan 20 menit yang lalu. Kalau jarak jemputnya dekat sih fine-fine aja, lah kalau jauh, bagaimana?

Baca Juga :  Nggak Enaknya Menjadi Wanita Bertubuh Mungil

Sistem ojek online juga berubah. Kalau dulu, siapa yang dekat dia yang dapat, lah sekarang? Terkadang ada yang jarak driver cukup dekat, kurang dari 1km dari pelanggan malah tidak dapat orderan, justru driver dengan jarak lebih dari 2 km dari pelanggan, yang dapat orderannya.

Karena sistem terbaru itulah saya sering dapat pelanggan Go-Ride yang lumayan jauh jaraknya dengan lokasi saya. Banyak sih yang sabar menanti, namun tak sedikit juga yang mintanya buru-buru.

Udah ngebut di jalan agar sampai di lokasi penjemputan lebih cepat, eh masih dikatain “kok lama sih pak?”. Ada juga yang suruh cepat-cepat, saat sampai lokasi, kok malah masih disuruh nunggu, nunggunya lama lagi. Soalnya pelanggannya masih belum nyisir rambut sama pakai kerudung. Kesel nggak tuh?

Yang paling mengesalkan adalah disaat membelikan makanan ke resto yang bekerja sama dengan ojek online. Keterlambatan mengantar pesanan sebenarnya bukan salah driver, sebab lama tidaknya membelikan makanan itu tergantung seberapa cepat pelayanan di resto tersebut.

Nah ini, karena lamanya resto menyiapkan pesanan, malah berimbas pada drivernya, yang ujung-ujungnya driver dapat bad coment masalah keterlambatan, kan kasihan drivernya juga.

Ok lah, teknologi memang dapat mempermudah dan mempercepat suatu pekerjaan. Namun tak semua pekerjaan bisa dilakukan dengan cepat hanya karena adanya teknologi.

Apa mau pelanggan menerima makanan yang belum matang karena pelanggan minta cepat-cepat? Enggak kan?

Terlepas dari untung dan ruginya hidup di masyarakat serba cepat karena teknologi. Yang jelas teknologi memang sangat mempermudah dan mempercepat  sebuah pekerjaan. Namun yang harus digaris bawahi adalah sebijak apa kita memakai dan memaknai teknologi ini?

[AI]

Baca Juga :  Cinta Warna Hitam Dan Putih
Advertisements
Share This :

7 Replies to “Repotnya Hidup di Zaman Serba Cepat”

  1. Tulisan yang menarik, Kak. Saya juga baru-baru ini memikirkan mengenai efek dari hidup pada jaman yang serba cepat ini. Saya melihatnya dari sisi psikologis dan emosional. Kita yang hidup di jaman ini, mudah mengalami kecemasan dan rentan mengalami depresi.
    Pelanggan yang kakak ceritakan sangat memenuhi kriteria sebagai orang yang cemas hidupnya, merasa terburu-buru, takut tertinggal. Tidak hanya contoh dari pelanggan ini, tapi banyak orang sekarang yang semakin tidak mampu menemukan kesabaran dan ketenangan karena dunia berjalan bgitu cepat.

    Terima kasih sudah mengangkat isu ini, Kak.

  2. Saya rindu mas masa masa masih sd saat semua serba sederhana.

  3. Teknologi boleh hebat tp jgn smpe diperbudak teknologi yo mas

    1. Namun, terkadang tanpa sadar kita juga ikut arus tersebut 😅

  4. Teknologi untuk mempermudah, bukan membuat manusia jadi pemarah.
    Sabar harus benar2 diakrabi lagi ya sekarang2 ini.

  5. Jarang2 bisa baca apa yang dirasakan sebagai driver. Semangat mas nur! Terlepas dari semakin mudahnya teknologi, masing2 kita tetep harus kontrol sopan santun dan juga etika

    1. Benar mas, harus lebih bijak lagi dalam penggunaan teknologi

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.