Typikal Akun Sosmed Yang Saya Blokir Dari Beranda

Di era digital seperti saat ini, mempunyai akun sosial media seakan menjadi hal yang wajib dimiliki oleh setiap individu. Bahkan kalau cuma satu akun, masih dirasa kurang. Terlebih bagi seseorang yang menjadikan media sosial sebagai lahan untuk mengais rezeki tambahan.

Selain itu, kegunaan sosial media juga sangat beragam. Ada yang sekedar menjadikan sosial media sebagai tempat penyimpan foto pribadi. Ada juga yang menjadikan social media sebagai tempat berkeluh kesah.

Yang paling menjengkelkan itu disaat sosial media dibuat sebagai ajang pamer, entah itu pamer kemesraan, pamer kebahagian, atau pamer penghasilan dan kesuksesan.

Bukannya baper, aslinya saya tuh orangnya jarang peduli. Namun terkadang suka gemas sendiri saat lihat postingan orang-orang di beranda, khususnya facebook.

Dari pada tiap lihat postingannya, perasaan dan mood saya berubah, jalan satu-satunya adalah dengan memblokir.

Kelihatannya seperti jahat banget main blokir akun orang, namun hal seperti itu memang harus saya lakukan. Tujuannya untuk menjaga hati agar tetap bahagia, bukankah tujuan kita hidup salah satunya adalah untuk bahagia?

Dari berbagai akun yang saya blokir, ada beberapa typikal yang membuat saya memutuskan untuk memblokir akun mereka agar hilang dari beranda, antara lain :

Sering Banget Ngiklan dan Promosiin Bisnis

Saya setuju sekali perihal mereka yang memanfaatkan social media sebagai ajang mengais rezeki. Setidaknya, mereka benar-benar memanfaatkan kemajuan zaman untuk hal yang positif.

Setiap orang memiliki strategi marketing sendiri-sendiri dalam mempromosikan bisnis atau jualannya. Mungkin dengan selalu post tiap hari bahkan tiap jam agar bisa menjangkau pasar yang lebih besar.

Masalahnya, mangsa pasarnya terus berada di beranda social media saya. Seakan beranda saya di penuhi dengan semua konten promosi yang dia buat. Agak kesal sih, namun saya tidak menyalahkan si dia dengan strateginya itu.

Baca Juga :  Tiba-tiba Pengen Jadi Fotografer

Salah satu solusinya agar saya tidak kesal dan tetap bahagia adalah dengan menyembunyikan konten dia selamanya dari beranda saya. Dengan begitu, saya bahagia dalam bersosial media, dan si dia juga tetap bahagia dengan pekerjaannya.

Nyampah Sana Sini

Yang paling mengesalkan adalah typikal yang suka ngetag sana-sini. Kalau bagi yang sama-sama kenal di kehidupan nyata itu ok-ok saja, nah ini, sudah tidak kenal, main tag seenaknya, dan kontennya pun tidak layak untuk dikonsumsi publik.

Untuk hal ini, saya tidak bisa memaafkan dia yang sudah mengotori rumah dunia maya saya. Jadi untuk typikal akun seperti ini, blokir selamanya adalah harga mati. Bye akun sampah.

Pamer Foto Dan Video Paha Dan Dada

Seperti yang saya ceritakan di atas bahwa ada sebagaian orang yang menjadikan social media sebagai tempat menyimpan foto pribadinya. Tidak ada yang salah, setiap orang punya hak dengan akun social medianya.

Namun akan jadi beda jika foto yang disimpan di media sosialnya sedikit lebih fullgar, entah menampilkan belahan dada ataupun belahan paha. Sebagai cowok normal, yah suka lah dengan pemandangan seperti itu, hahahaha.

Namun saya sedikit risih, sedikitnya lagi juga penasaran. Namun dengan gejolak dalam pikiran, saya lebih memilih dan memutuskan untuk menyembunyikan konten seperti itu di timeline sosial media saya.

Dengan harapan saya bisa lebih menjaga mata sekaligus menjadikan timeline di sosial media saya lebih banyak konten yang positif. Kan hal-hal yang positif akan menjadikan kehidupan kita lebih positif.

Tim Sukses Yang Posting Berlebihan

Mendekati pemilu 2019, semakin gencar pula konten berbau politik di dunia maya. Entah itu karena memang suka dengan calon pilihannya hingga update tentang calon pilihannya, namun ada juga yang dibayar untuk gembor-gembor di social media.

Baca Juga :  Tak Perlulah Galau  Antara “Hadir” Atau “Tidak” Di Pernikahan Mantan

Yang saya tidak suka adalah kampanye dengan menjelek-jelekan calon pilihan lawan, entah itu dengan menebar isu, bukti dan lain sebagainya. Tapi terkadang saya juga tertawa, disaat melihat keras kepalanya orang yang berdebat di kolom komentar dengan sangat antusiasnya.

Berlagak sok pintar dengan berbagai kelihaian argumen, namun kenyataannya mereka “bodoh banget” menurut saya.

Dari pada waktu dibuang cuma-cuma untuk berdebat yang tak menghasilkan apa-apa, hanya saling caci dan membenarkan argumennya. Terlebih tali silaturohim juga makin jauh gara-gara masalah pilihan seperti ini.

Saya lebih memilih menyembunyikan semua konten berbau politik yang berada di timeline saya. Saya juga akan abai pada setiap kolom komentar dengan konten politik.

Hingga waktunya tiba, saya akan pergunakan suara dan pilihan saya di tempat yang tepat, bukan di beranda maupun di kolom komentar social media.

Kalau kalian? Adakah typikal akun social media yang seperti apa yang membuat kalian memutuskan untuk memblokir akunnya?

[AI]

Advertisements
Share This :

16 Replies to “Typikal Akun Sosmed Yang Saya Blokir Dari Beranda”

  1. Aku jarang blokir sih mas kalau fb. Soalnya fb bener-bener privasi banget jadi hanya yang emang dikenali aja yang temenan di fb.
    Nah kalau instagram, aku gak blokir soalnya aku kenal, tapi di mute (jadi updetannya gak nongol) biasanya yang kumute karena postingannya cuma ootd-an. Cuma 2 orang yang kublokir (felix siauw dan mantan gebetan)😅😅

    1. Dulu di awal facebook baru lahir, aku udah daftar, dan selayaknya anak alay yang baru facebookan, cari teman adalah hal yang harus saya lakukan, apalagi waktu itu aku masih jomblo, eh, hahahaha

  2. bhaiqqq…
    begini, saya nggak punya fb.
    instagram, hapeku lemot deeehh sumpah, kuhapus aja akunnya. appnya aku cuekin.

    twitter… sejauh ini masih aman2 aja. karena bs difitler.

    kalau blokir WA banyak 😂😂😂

    1. hahahaha, dan aku pun gak install twitter, fb dan IG di hanphone. bukan karena lemot, karena memang udah bosan.
      tapi kalau pas di komputer, facebook kadang jadi teman yang lumayan asik di mainkan saat kerja, hahaha

  3. Ane suka blikirin poin 3. Sebelum blokir ane report dulu. Supaya anak ane sehat juga. Hape ane dirumah sering dipake anak soale. Mau dipaswordin sering kelupaan coretan ya gimana.

    1. hahahaha, memang harus di blokir yah mas, apalagi kita sudah berkeluarga

    2. Saya justru lebih sering report orng dari pada memblokirnya, nggak tau kenapa ada rasa tidak enak kalau mau memblokir, tapi paling saya unfollow biar ttap berteman tapi postingan dia tidak lagi muncul di beranda

    3. kalau di facebook, ada pilihan “sembunyikan konten seperti ini” jadi tak perlu lah kita blokir orangnya, cuma di timeline tidak akan muncul berita post terbaru dari orang tersebut.

  4. Belum pernah ngeblok sih mas… alhamdulillah orang2 di beranda saya masih wajar2 saja.. saya juga di awal pilih2 siapapun yang mau saya add..

    Paling akhir2 ini yang sering ribut masalah politik sih mas.. cuma ga diblokir karna kadang seru juga baca komentar orang2 yang pada ribut sama calonnya masing2… 😂

    1. disaat mereka ribut, kita ngakak bacanya yah mas…
      aku juga gak blokir sih, cuma sembunyikan konten seperti itu aja, yang aku blokir cuma yang risih dan menganggu, seperti yang DM nawarin produk terus-terusan, ngetag video jahat di beranda

    2. Hhhahaha.. ya anggap aja semacam hiburan untuk mengisi kekosongan mas.. 😂

  5. Kata-katanya ngena banget, menjaga hati agar tetap bahagia.
    Kalau aku sendiri jarang blokir orang tapi ada lah yang saya blokir, karena saya orangnya enggak enakan akhirnya saya yang ngalah nggak mau buka facebook lagi.

    Untuk menjaga hati tetap bahagia

    1. eeaaaahhh.. 😇😇😇

  6. hahaha
    kalo suka posting politik, saya mah sudah autoblock itu

  7. saya ga blokir, atau nge-mute *krn jarang jg buka medsos*. Dari dulu medsos hanya utk link blog aja *yg mbaca paling bosan dan melakukan poin yg diposting di atas 😀 *.
    Krn sy percaya, apa yg dilakukan, semua akan kembali pada kita. Abaikan aja.

  8. Saya biasanya unfriend aja makhluknya. Eh ternyata ada temen saya yg add dia lagi dong, pakai akun saya. Lol

Tinggalkan Balasan ke Umi Batalkan balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.