Tidak Ada Rezeki Yang Haram, Adanya…!

Akan datang kepada manusia suatu masa, (pada waktu) seseorang tidak lagi menghiraukan sesuatu yang diraihnya, apakah dari (sumber) yang halal ataukah dari (sumber) yang haram.” (HR. al-Bukhari dan an-Nasai dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dan disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih At-Targhib Wat-Tarhib)

Sebenarnya tiap umat beragama sudah diajarkan tentang hal ini, bahwa sebanyak apapun harta yang diperoleh dari hasil keburukan (entah menipu, mencuri, hasil korupsi dan cara tidak jujur lainnya)  tak akan lebih baik dari rezeki yang diperoleh dari hal yang baik saat bekerja dan berdagang meskipun itu jumlahnya tak seberapa.

Tak ada namanya “rezeki haram”, namun yang menjadikan haramnya sebuah rezeki adalah “cara” mendapatkannya.

Kita tak akan pernah menemukan perbedaan antara uang haram dan uang halal secara fisik. Sebab tampilan uang lima puluh ribu yang haram tetaplah sama dengan uang lima puluh ribu yang halal.

Bahkan status uang harampun bisa berubah jadi halal, misalnya uang haram yang diperoleh dari hasil togel dibelikan sebuah mobil di sorum.

Pertanyaannya, apakah pemilik sorum mobil memperoleh uang haram dari penjualan mobil?

Tidak kan…

Legitnya Rezeki Yang Haram

Taukah kamu bahwa rezeki yang haram itu melenakan? Semacam kebahagiaan dan kesenangan yang semakin menjerumuskan.

Umumnya, mendapatkan rezeki yang haram dengan jumlah yang banyak itu relatif instan dan cepat. Saya tidak mengatakan “mudah”, sebab menjadi koruptor, penipu dan perampok bukanlah pekerjaan yang mudah. Butuh skill, keberanian dan banyak yang dipertaruhkan untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Dari beberapa sumber, saya mendapati bahwa pelaku yang mendapatkan rezeki dengan cara demikian, kebanyakan dari mereka akan menghambur-hamburkan dan berfoya-foya setelah mendapatkan rezeki yang melimpah.

Misalnya saja seperti perampok jalanan (sebut saja begal). Hasil merampok kendaraan orang lain yang kadang tak segan-segan melukai dan membunuh pemilik kendaraan. Hasil curiannya, hanya habis dalam beberapa hari saja bahkan bisa dalam beberapa jam.

Dari mabok-mabokan, pakai obat terlarang ataupun main perempuan. Hal ini semacam rezeki yang didapat denganc ara yang haram itu memang instan dan cepat, namun secepat itu pula akan menghilang.

Rezeki Yang Haram Itu Semacam Rezeki Khayalan

Semakin kita masuk dalam lingkaran rezeki yang haram, semakin kita terjebak dalam khayalan.

Rezeki yang haram itu memang sangat memabukkan, karena saking instan dan cepatnya melimpahkan rezeki, kita akan semakin pandai dalam berandai-andai sesuatu hal besar akan terjadi suatu saat nanti.

Baca Juga :  Sebuah Aturan Kehidupan

Seperti pelaku skema ponzi yang menawarkan cara cepat menghasilkan uang melalui investasi dan jaringan.

Dengan menginvestasikan sejumlah uang, dalam selang beberapa waktu bisa menjadi 3 kali lipat dari modal awal. Terlebih jika bisa mendapatkan atau mengajak beberapa teman untuk ikut bergabung, semakin banyak pula bonus yang bisa di dapatkan.

Menakjubkan bukan?

Namun tahukah kamu bahwa rezeki yang haram itu seperti khayalan. Mungkin memang kita mendapatkan rezeki yang melimpah dalam waktu yang instan, namun seketika itu pula rezeki itu akan hilang kalau kita sudah tersadar atas kehidupan yang kita khayalkan.

Bermimpi mendapatkan uang tiga kali lipat dari modal awal saat join investasi dengan skema ponzi. kemudian saat mau balik modal, justru pemilik sistem investasi itu kabur dan membawa uang member.

Sudah modal hilang, bisa jadi teman yang kita ajak juga akan menagih hilangnya uang ke kita.

Kayak mimpi bukan?

Rezeki Yang Haram Juga Memiliki Efek Pada Kehidupan

Rumus hidup itu simple, apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Jika kita menanam padi, maka kita akan memanen padi. Kalau kita tanam jagung, maka yang kita akan petik saat panen nantinya adalah jagung pula.

Sama halnya dengan kehidupan kita, jika kita menanam kebaikan, percayalah suatu saat nanti kita akan menuai kebaikan itu sendiri. Sebaliknya jika kita menanam keburukan, maka keburukan itu pula yang bisa kita petik nantinya.

Ketika kita melakukan pekerjaan dengan cara yang halal maupun haram, suatu saat nanti semua itu akan kembali kepada diri kita. Kalau kita melakukan pekerjaan yang halal, meskipun sedikit, namun lama-kelamaan akan tetap menjadi sedikit. Hahahaha

Saya tak menjamin rezeki yang didapat dari cara halal bisa menjadi besar, karena semua itu atas izin Allah, bukan? Namun percayalah rezeki yang didapat dari cara yang halal, akan memberi dampak yang baik bagi kehidupan diri sendiri maupun sekitar kita.

Sedangkan rezeki yang didapat dari cara yang tidak baik, seperti menipu, mencuri atau merampok. Dengan kata lain bisa merugikan orang lain, tentu akan ditindak tegas dari segi hukum di dunia.

Sebanyak apapun harta yang didapatkan dengan cara kotor, suatu saat nanti akan musnah dalam hitungan menit saja.

Tidak percaya?

Seperti contoh para koruptor. Mereka memang bisa mendapatkan rezeki yang sangat melimpah dalam waktu yang sangat singkat. Dari menipu dan memalsukan beberapa dokumen saja sudah bisa meraup milyaran rupiah.

Baca Juga :  Beratnya Biaya Aqiqah Anak?

Namun bagaimana kalau kasus korupsinya terkuak ke media. Hartanya disita, pelakunya dipenjara, didenda milyaran rupiah, belum lagi dicopot pula jabatan dan pekerjaannya.

Belum lagi nasib keluarganya di mata publik. Tentu akan mendapat pandangan hina serta cacian yang bertubi-tubi dalam kurun waktu yang cukup lama.

Contoh lain adalah pengguna tuyul, pelet dan segala hal yang bersifat pesugihan.

Satu sisi, mereka akan dengan mudah mendapatkan harta dunia yang diinginkan. Namun sisi lainnya, efeknya lebih menakutkan. Dengan berurusan dengan makhluk astral untuk mendapatkan hal yang diingikan, pengorbanannya adalah jiwa manusia itu sendiri yang dikorbankan.

Meskipun Dengan Cara Yang Haram, Rezeki Kita Tetap Sama Jumlahnya Dengan Cara Yang Halal

Sebagai seorang muslim, kita memahami bahwa rezeki itu sudah ditentukan sebelum kita dilahirkan di dunia. Rezeki tak akan meleset pada orang yang salah bahkan tertukar rezekinya. Jadi tidak ada suatu makhluk yang bisa menghalangi rezeki kita jatuh ke tangan kita.

Pembagian rezeki akan tetap sama seperti yang ditakdirkan setiap harinya, baik itu didapat dari cara yang halal maupun dengan cara yang haram. Seperti sepenggal kisah dari islampos.com tentang Sayidina Ali yang kehilangan untanya.

Kisahnya, Sayidina Ali binggung mau diikat dimana untanya, sedangkan Sayidina Ali hendak menunaikan sholat. Kemudian ada seseorang pemuda yang menawarkan diri untuk menjaga unta Sayidina Ali. Sayidina Ali pun tersenyum dan hendak memberi 20 dirham untuk upah pemuda tersebut nantinya.

Seusai sholat, ternyata unta beserta pemuda tersebut menghilang. Sayidina Ali mencarinya hingga ke pasar. Terlihat unta yang sama seperti untanya di seorang pedagang. Pedagang tersebut juga memberi tahu bahwa unta ini dia dapat dari seorang pemuda yang menjual dengan harga 20 dirham.

Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa rezeki seorang pemuda hari itu adalah 20 dirham, baik itu dengan cara yang baik maupun dengan cara yang buruk.

Biarpun Sedikit, Asalkan Berkah

Hal terpenting dalam urusan harta dan rezeki bukanlah perihal sedikit atau banyaknya, namun yang terpenting adalah keberkahannya.

Harta yang halal akan membawa keberkahan bagi pemiliknya, sebaliknya harta yang haram akan mendatangkan musibah.

Bukankah lebih baik mendapat rezeki yang sedikit asal berkah, dari pada rezeki yang banyak tapi dari cara-cara yang dilarang agama.

Namun jika disuruh memilih, saya lebih memilih rezeki yang banyak namun berkah atas izin-Nya.

Bagaimana dengan kalian?

[AI]

Advertisements
Share This :

One Reply to “Tidak Ada Rezeki Yang Haram, Adanya…!”

  1. saya pilih rezeki yang sedikit saaja asalkan halal.

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.