Arti Sebuah (Angka) Nilai

Arti sebuah (angka) Nilai

Menjadi seorang admin produksi yang jauh dari kebisingan menjadikan tempat saya layak sebagai media curhat, terlebih saat kerja malam. Meja yang cukup luas, terdapat beberapa kursi serta alunan musik juga menambah “kerasan” bagi yang mau curhat.

Selain itu, saya juga termasuk pendengar yang baik menurut mereka. Mungkin karena saya terlihat antusias dan selalu mendengarkan saat mereka bercerita. Padahal, saya itu terpaksa.

Bagaimana tidak terpaksa, lah mereka bercerita di tempat kerja saya, masak saya harus pindah. Enggak kan?

Karena tempat saya yang cukup strategis itulah, saya sering mendengar berbagai gosip dari berbagai sumber. Bahkan tidak hanya gosip, Hoax dan fitnah juga sering saya dengarkan dengan seksama.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan curhatan dari seorang Ibu-ibu. Dia bercerita panjang lebar tentang anak-anaknya yang hendak ujian sekolah. Dia ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah A saat lulus nanti, namun jika nilainya tidak mencukupi, dia berencana menyekolahkan ke sekolah B.

Setelah bercerita tentang hal tersebut, beliau balik tanya ke saya “Nanti Naila mau disekolahkan ke SD mana?”. Saya jawab di sekolah tempat saya dulu yang dekat dari rumah.

Kenapa kok tidak di sekolahkan di SD A, bagus loh sekolahan itu?” tanyanya lagi. Saya nyengir dengan pertanyaannya, Emang predikat sekolah terbaik itu dilihat dari apanya? Dari nilai ujian murid-muridnya?

Keberadaan Sebuah Nilai Di Sekolah Favorit

Sebenarnya terlahir dari orang tua yang tidak mengecam bangku sekolah itu ada untungnya. Setidaknya orang tua tidak menuntut berlebihan tentang angka-angka hasil ujian saat raport dibagikan. Yang penting anaknya senang bersekolah, tidak bolos dan setiap tahun naik kelas itu sudah cukup.

Sewaktu SD, saya termasuk salah satu siswa pandai dalam satu kelas, yah setidaknya peringkat di raport tidak bisa berbohong.  Saya yang jarang sekali belajar dan lebih banyak menghabiskan waktu luang di lapangan untuk bermain, justru mendapat nilai yang bagus.

Baca Juga :  Enaknya Kalau Udah Nikah Tuh Gini!

Keluarga saya tak pernah menekan saya untuk belajar bahkan seingat saya jarang sekali diingatkan “Ada PR atau tidak”.  Berbeda dengan teman saya yang memang anak seorang Guru, tiap hari harus belajar, les privat, belajar lagi dan lagi.

Hasilnya ?

Yah pintaran dia lah dari pada saya, wkwkwkwkw

Namun tau tidak apa yang kami dapatkan (anak yang pandai dalam kelas) saat ujian?

Kami harus bisa membawa teman-teman yang lain bisa lolos dari ujian akhir sekolah tersebut, caranya yah dengan memberi jawaban kepada mereka agar nilai mereka juga bagus.

Selama 6 tahun kita diajarkan untuk selalu mengerjakan sendiri soal ulangan tanpa harus mencontek. Justru di ujian akhir malah suruh membagikan jawaban ke teman lain, hanya untuk alasan “NILAI”.

Ironis bukan?

Situasinya tak jauh berbeda saat mengenyam bangku SMP, kebetulan waktu itu saya juga masuk di SMP Negeri favorit di kota saya. 2 tahun saya terkurung dalam kelas unggulan, di tahun ketiga saya di keluarkan dari kelas anak-anak pilhan tersebut.

Berada di kelas biasa, saya kembali mengemban misi khusus saat ujian akhir, yakni mengangkat nilai teman-teman lainnya dengan memberikan jawaban bagi yang membutuhkan.

Parahnya lagi saat SMK, kebetulan sistem ujian akhirnya di bagi menjadi dua type soal. Jadi akan sulit untuk  saling contek mencontek dalam ujian.

Namun ternyata demi “Nilai” yang bisa mengangkat predikat baik nama sekolah, akhirnya ada pihak tim sukses yang memberikan selembar kunci jawaban pada murid yang sedang ujian dan disuruh membagikan ke teman-teman lainnya.

Nah dari cerita tersebut, masih pentingkah arti sebuah nilai?

Hakekat Nilai Adalah Segalanya?

Tidak sedikit orang yang berpatokan bahwa nilai akademis disekolah adalah sesuatu yang harus dikejar dan diraih secara maksimal. Barangkali karena masih banyak yang berpikiran “nilai adalah segalanya”. Paling tidak, mereka menganggap nila A dan B adalah sebuah kemutlakan prestasi yang harus dicapai dengan segala cara.

Baca Juga :  Pria Bukannya Tidak Peka, Namun Butuh Trik Agar Pria Mau Mendengarkanmu

Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, toh nilai yang baik juga berpotensi untuk mendapatkan pekerjaan yang baik, bukan? Setidaknya itulah yang saya tangkap dari usaha teman saya mensekolahkan ke sekolah yang baik versinya.

Namun bagi saya, Nilai bukan berarti apa-apa.

Banyak kok contoh inspiratif yang tak pernah mengenyam bangku kuliah bahkan bangku sekolah, namun sukses dalam kariernya, terpandang orangnya dan kaya kehidupannya.

Satu contoh adalah mantan kepala produksi di tempat saya bekerja. Dia tidak pernah kuliah, bersekolahpun putus di SMP. Namun dengan kegigihannya dan kerja kerasnya, dia menjadi orang yang sangat saya kagumi, terlebih perihal sudut pandangnya memecahkan sebuah masalah.

Dia tidak pernah sekolah jurusan komputer, namun kerja kerasnya dan kegigihannya, membuatnya lebih menggungguli saya yang tiga tahun sekolah jurusan komputer.  Tingkat kerapian tata letak data hingga pengoperasian softwarepun saya berada jauh di bawahnya.

Apakah ini tentang nilai?

Tentu saja tidak! Lah wong mantan kepala produksi saya tidak pernah mengikuti ujian praktek komputer kok? Dapat nilai dari mana coba?

Nilai yang sesungguhnya adalah sejauhmana pendidikan itu dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Kemampuan berusaha, keuletan, kesabaran, mau mendengarkan, berempati, menjalin komunikasi antar sesama merupakan kemampuan yang kadang tak diajarkan dalam pendidikan formal.  Namun sangat penting dalam kehidupan.

Dengan kata lain, memilih sekolah yang baik itu penting, namun bukan karena aspek nilai yang diprioritaskan melainkan kedisiplinan. Kalau masalah Nilai mah, tiap sekolah punya tim sukses agar nama baik sekolahan tetap terjaga. Benar gak sih, wkwkwkwkw

Jadi, Apapun sekolahannya nanti, asalkan sekolah itu adalah pilihannya Naila sendiri, Saya akan meng-iyakan dan mendoakan yang terbaik untuknya. Bukan untuk nilainya, melainkan untuk keberkahan ilmu yang didapatkan nantinya.

[AI]

Advertisements
Share This :

One Reply to “Arti Sebuah (Angka) Nilai”

  1. Begitulah. Di mana yang dinilai hanya hasil

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.