Drama Ojek Online – Berasa Menjadi Pencuri Rezeki

Ojek online kecematan Pandaan

Beberapa hari yang lalu, saya berasa menjadi tersangka pencurian, dikepung dan dikerumuni banyak warga. Dari sudut pandang mereka, saya adalah pelaku pencurian rezeki mereka sehari-hari. Padahal saya juga bingung, bagaimana saya bisa memotong dan menghentikan rezeki mereka dari Tuhan Yang Maha Pemberi Rezeki.

Saya melihat sorotan mata mereka yang sangat kesal dan marah melihat saya. Yah beginilah nasib driver ojek online di daerah saya. Kami dianggap sebagai pencuri rezeki dari tukang ojek pangkalan.

Di tempat saya, transportasi konvensional paling banyak digunakan adalah Ojek, bahkan disetiap gang selalu ada tukang ojek. Dengan masuknya ojek online, mereka jadi was-was pelanggan mereka kita rebut.

Mereka takut penghasilan sehari-hari mereka akan berkurang dengan semakin banyaknya driver ojek online di sekitar Pandaan tempat saya tinggal. Padahal secara logika, pelanggan kita loh tidak sama.

Pelanggan ojek online didominasi oleh masyarakat pengguna teknologi, kebanyakan dari mereka adalah anak muda seumuran saya ke bawah, dan itupun tidak banyak kok. Karena daerah tempat tinggal saya sendiri juga masih termasuk pedesaan.

Sedangkan pelanggan ojek pangkalan itu masih banyak sekali, sebab transportasi ojek ini sudah berjalan 20 tahun lebih di daerah saya. Jadi bukan hal yang mudah untuk mengubah kebiasaan pelanggan berganti ke ojek online, bukan?

Mungkin yang membuat mereka resah adalah terdapat batasan zona antara ojek pangkalan 1 dengan ojek pangkalan yang lainnya. Mereka membuat batasan-batasan agar tukang ojek di pangkalan 1, tidak bisa narik atau mangkal di pangkalan lain selain pangkalannya sendiri. Mereka membuat peraturan tersebut untuk solidaritas dan toleransi antar ojek.

Sedangkan di ojek online, jangkauan wilayahnya jauh lebih luas, bahkan kita masih tetap bisa narik di kota lain. Mungkin karena alasan tersebut, para ojek online ini dianggap telah menyerobot dan mencuri pelanggan mereka.

Pencuri Rezeki Sehari-Hari

Penyergapan Ojek pangkalan ke ojek online

Setelah dikerumuni para ojek pangkalan, saya mempersilahkan pelanggan saya untuk menggunakan jasa ojek pangkalan. Tidak hanya itu, mereka juga merampas kunci motor saya, padahal saya juga tak akan lari dari mereka. Dari sini saja, mereka sudah melanggar hukum tentang perampasan barang, namun saya diam saja.

Baca Juga :  Virus Perusak Hardware dan Brainware

Mereka menyeret saya ke pangkalan mereka yang tak jauh dari tempat penggerebekan, namun karena kunci motor saya diambil, saya menolak untuk jalan dengan mendorong motor, capek dong. Akhirnya mereka mendorong sepeda motor saya beserta saya menuju pangkalan mereka.

Saya menjelaskan kronologinya sesuai pendapat saya. Di kota besar, ada batasan zona merah bagi driver ojek online dalam mengambil penumpang, namun tetap ada titik jemput yang aman dan diperbolehkan untuk mengambil penumpang.

Nah di tempat saya, perundingan perihal titik jemput ini masih mengambang dalam dua tahun ini. Pada akhirnya kami (ojek online) tetap menjemput penumpang dengan patokan “hargai ojek pangkalan” dengan mengambil penumpang tidak di depan matanya.

Kemarin, saya sudah meminta pelanggan untuk tidak berada di depan pangkalan, bahkan dia berjalan agak jauh dari tempat awal dia order. Mungkin lagi apes aja, kebetulan ada beberapa ojek pangkalan yang lewat dan menyergap saya.

Tapi kan tetap saja itu menyerobot”, kata salah satu tukang ojek pangkalan. Mereka berdalih bahwa keberadaan ojek online itu semacam pencuri rezeki para ojek pangkalan. Dengan adanya ojek online, penghasilan mereka jadi menurun tiap harinya.

Saya tertawa dalam hati mendengar perkataan mereka, bukannya rezeki setiap orang tak akan pernah tertukar yah.

Namun tidak salah juga sih mereka bersikeras seperti itu, karena mereka berfikir bahwa pekerjaan ini (ojek) adalah satu-satunya yang mereka bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Berbeda dengan saya yang hanya melakukan pekerjaan ojek ini dikala senggang dan mungkin memang saya lakukan untuk bersenang-senang (pelepas stress).

Namun kembali lagi, bahwa ada sebagian full time ojek online yang juga berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya juga. Kondisinya sama saja dengan para ojek pangkalan, beliau juga mangkal dari pagi hingga sore bahkan kadang sampai malam.

Baca Juga :  Aku Merencanakan Diriku Hilang

Bedanya, kita para ojol lebih berkelas kalau urusan mangkal, hahahaha. Kita bisa mangkal sambil tiduran di rumah atau sambil menyeduh kopi di warung kopi.

Merubah Nasib

Demo Penolakan ojek online di Pandaan

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS. Ar-Ra’d [13]: 11).

Sebenarnya, dua tahun yang lalu disaat awal-awal membuka ojek online di daerah saya, pendaftaran lebih dikhususkan untuk para ojek pangkalan untuk bisa gabung di ojek online. Harapannya agar tukang ojek di daerah bisa menambah dan memaksimalkan penghasilannya baik melalui offline maupun online.

Namun belum mengenal lebih jauh, kebanyakan dari ojek pangkalan sudah berfikiran negatif. Dari perihal perlengkapan data untuk pendaftaran maupun perihal ongkos yang tak sepadan. Padahal, sebagai pengemudi terutama transportasi konvensional, sewajibnya harus memiliki surat-surat dan izin berkendara, bukan?

Kesempatan emas ini mereka abaikan begitu saja, mungkin hanya sekitar 2% dari ribuan tukang ojek pangkalan yang bersedia gabung.Dan pada akhirnya, disaat banyak orang yang sudah gabung dan kemajuan teknologi yang membuat transportasi berbasis online ini berkembang, para ojek pangkalan mulai menyuarakan untuk menolak kehadiran ojek online.

Ini sama halnya menolak sebuah inovasi bernama “kemudahan” yang sedang melanda di masyarakat. Sekuat apapun mereka menolak, pada akhirnya nanti, kemajuan teknologi akan membuat mereka lebih tak berdaya lagi.

Saya sih lebih kasihan pada para tukang ojek pangkalan ini, namun rasa kasihan saya juga tak akan mengubah nasib mereka. Mungkin hanya rasa syukur dengan apa yang dijalani sekarang, dan semoga Allah mengangkat derajat orang yang bersyukur dan menggantinya dengan hal yang jauh lebih baik lagi.

Yah, Menjadi Bahagia Dan Melampauinya. Mungkin ini yang terbaik untuk saat ini, saya nikmati apa yang ada sekarang dengan bahagia. Yah saya harus bahagia \^o^/

[AI]

Advertisements
Share This :

3 Replies to “Drama Ojek Online – Berasa Menjadi Pencuri Rezeki”

  1. Di Bandung masih sering tuh ribut2 opang sama ojol ngerebutin penumpang. Lagian makin sini kan teknologi semakin canggih, pak pos pengantar surat aja ga pernah ribut sama kecanggihan telepon seluler. Hidup emang keras, yang jago beradaptasi sama perubahan dunia dia yang akan bertahan.

  2. Selalu hati-hati mas. Jangan sampai karena keributan kayak begini terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.

  3. Untuk situasi tertentu, mengalah memang jauh lebih baik. Apalagi rejeki itu memang tidak akan pernah tertukar.
    Di tempat saya, ojol sudah seperti opang, buanyak tempat mangkalnya 😀

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.