Pilih Tinggal di Rumah Sendiri Atau Rumah Mertua/Orang Tua Setelah Menikah?

Pilih mana? Rumah sendiri atau rumah orang tua/mertua sesudah menikah?

Pernah sih membahas hal beginian di artikel Hal-Hal Yang Perlu Dibicarakan Antara Calon Suami Dan Istri Sebelum Hari Pernikahan. Bahwasannya membicarakan perihal tinggal di mana setelah menikah itu perlu kepada calon pasangan kita nantinya.

Alasannya juga sudah saya jelaskan secara lengkap sesuai dengan sudut pandang saya selama mengalami proses tunangan dulu. Soalnya banyak di antara pasangan yang sudah sangat mencintai sebelumnya, akhirnya hubungannya kandas plus ambyar gara-gara masalah sepele seperti itu setelah pernikahan.

Memang terlihat sepele dan tidak masuk akal kalau hanya alasan tersebut sebuah hubungan dengan ikrar suci pernikahan harus diputus begitu saja. Namun pada kenyataannya memang demikian.

Pernikahan memang tidak hanya soal cinta-cintaan seperti waktu pacaran, pernikahan berarti juga menyatukan dua keluarga, dua adat hingga dua kepribadian yang berbeda.

Memang tidak harus sama juga, perbedaan juga perlu dalam sebuah hubungan, namun yang lebih penting adalah bagaimana menyikapi perbedaan yang ada dan menjadikannya menjadi suatu hubungan yang makin kuat.

Sering sekali saya direkomendasikan bahwa hubungan rumah tangga memang lebih baik jika memiliki rumah sendiri. Selain bisa belajar hidup mandiri perihal kehidupan rumah tangga, juga dengan adanya rumah sendiri bisa sedikit terlepas dari campur tangan orang lain, entah itu mertua, orang tua maupun saudara.

Terlebih bagi kisah kasih pasangan yang baru menikah, yang notabennya masih sangat sedikit pengalamannya dalam membina rumah tangga yang baik. Biasanya campur tangan orang sekitar terkadang sedikit memperkeruh harmonisasi suatu hubungan selain masalah finansial maupun masalah komitment (ke-egoisan) pribadi masing-masing.

Namun apakah harus punya rumah sendiri setelah menikah agar bisa berbahagia?

Saya rasa tidak begitu juga.

Saya sendiri termasuk contoh yang masih ikut orang tua (tinggal di rumah orang tua) yang bisa dibilang istri ikut mertua. Saya sudah mencapai mufakat kepada istri bahwa nanti setelah menikah kita tinggal di rumah orang tua saya dan dia juga menyanggupinya.

Apakah dengan mencapai mufakat sebelum menikah perihal tinggal di rumah orang tua, bisa membuat kami terlepas dari masalah campur tangan orang tua?

Tentu saja tidak. Saya dan istri juga mengalami problematika yang sama. Sempat dia stress dan tertekan karena hal tersebut. namun lambat laun dia mulai beradaptasi dengan lingkungan di rumah saya.

Baca Juga :  Aku Merencanakan Diriku Hilang

Menurut saya, proses adaptasi istri yang ikut mertua jauh lebih sulit dari pada suami yang ikut mertua. Hal ini dikarenakan rasa sensitif wanita jauh lebih tajam dari pada laki-laki yang kebanyakan cuek dan masa bodoh dengan masalah di sekitarnya.

Setidaknya saya bisa ambil contoh di lingkungan saya tinggal. Banyak pasangan baru yang istrinya ikut mertua, kendala masalah awal yang dihadapi kebanyakan berasal dari campur tangan mertua ataupun ketidakcocokan dengan saudara.

Bukan masalah cara mertuanya yang salah atau kekurangan istri yang jadi masalahnya. Namun bisa jadi cara didik orang tua yang sudah terbaisa bagi anak-anaknya dan disikapi berbeda bagi sang istri. Di situlah uniknya sebuah pernikahan, jadi masih berani menikah? Hihihihi.

Memutuskan Untuk Satu Rumah Dengan Orang Tua Saat Menikah

Sumber gambar: nu.or.id

Rasanya tidak adil jika orang tua yang sudah melahirkan saya di dunia ini dan merawat saya hingga menjadi dewasa seperti ini harus kehilangan anaknya.

Memang tidak kehilangan sepenuhnya, namun jika sudah berada di atap yang berbeda meskipun jarak rumah tidak begitu jauh (dalam satu desa), tentu akan membuat rasa kesepian yang sama.

Pernah saya menjumpai sepasang orang yang sudah cukup tua hidup dalam satu atap tanpa kehadiran anak dan cucu di dalamnya.

Terlihat rumahnya bagus dan cukup megah dari pada rumah saya, namun kekosongan dan aura bahagianya seakan sirna dimakan rasa sunyi dan kesepian yang melanda. Dua anak yang sudah dibesarkannya semua ikut dengan suaminya.

Meskipun keadaan financial mereka terjaga akan kiriman dari anak-anaknya, namun saya melihat ada yang kurang dalam hidupnya. Anak-anaknyapun tidak tiap hari datang menjenguknya, bahkan berminggu-minggu baru bisa berkunjung.

Saya merasa iba saat melihat hal tersebut, kemudian saya juga merasa lega dengan keputusan saya perihal tinggal di rumah orang tua saat setelah menikah.

Sempat cekcok berkali-kali dengan istri saat awal dulu, akhirnya kesabaran saya dalam menenangkan hati istripun berbuah manis.

Bukan karena tidak ada biaya untuk membuat sebuah rumah sendiri untuk keluarga kecil saya sih, namun saya lebih memberatkan hal yang lebih penting dari pada itu, yakni kebahagiaan orang tua versi saya.

Baca Juga :  Ketika Hidup Terasa Hampa, Ingatlah 3 Hal Ini...

Kakak saya sudah berumah tangga dua tahun lebih dulu dari pada saya dan memutuskan untuk tinggal di rumahnya sendiri. Tinggallah saya yang diwanti-wanti oleh orang tua untuk mencari pasangan yang mau diajak tinggal di rumah orang tua.

Sebenarnya istri dan saya sendiri sama-sama merupakan anak terakhir yang mana kalau adat orang jawa menjadi pewaris rumah orang tua. Dan memang kebetulan begitu adanya. Saya mewarisi rumah orang tua (karena kakak sudah dibangunkan rumah sendiri) sedangkan istri juga mewarisi rumah orang tuanya.

Namun pertimbangan saya waktu dulu adalah istri sudah tidak memiliki orang tua, akhirnya saya merekrutnya menjadi menantu di rumah orang tua saya. Meskipun iming-iming gajinya juga biasa-biasa saja, namun saya menjanjikannya kontrak selamanya. Tanpa gaji training dan langsung jadi pegawai tetap di sana, hehehehe.

Dan akhir-akhir ini saya mulai bahagia dengan keputusan yang saya ambil. Hal tersebut dikarenakan ketika melihat orang tua sakit, saya bisa langsung mengetahuinya dan bisa merawatnya secepatnya.

Saya jadi membayangkan keadaan bagaimana kalau saya juga jauh dari jangkauan orang tua saat ini. Mungkin keadaan orang tua saya tak jauh beda dengan sepasang orang tua dengan rumah yang megah namun tampak sunyi dan kesepian di dalamnya.

Atau mungkin saya yang salah dalam menilainya, ah entahlah. Yang jelas saya tidak menginginkan orang tua saya berada di usia senjanya dengan rasa kesendirian.

Saya mulai membayangkan juga bagaimana kalau anak saya juga memperlakukan saya seperti itu saat saya tua nanti. Terlebih anak-anak saya keduanya juga wanita. Kebanyakan wanita akan ikut suaminya kalau sudah menikah nantinya.

Saya jadi sedikit takut kan hal itu, apa seharusnya saya melanjutkan misi mendatangkan adik laki-laki untuk Nisa dan Naila yah?

Hmm, sepertinya itu ide yang bagus, apalagi hari ini malam jum’at, hihihihi

Terus, Lebih Baik Mana? Tinggal di Rumah Sendiri Atau Rumah Orang Tua/Mertua Saat Sesudah Menikah?

Entahlah, Saya rasa semua tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Toh tidak ada rumus instan untuk bahagia jika belum menjalaninya, bukan?

Meskipun surga bisa saja membukakan pintunya untukmu atas kesetianmu akan suamimu, namun jika itu memberatkan orang tuamu disaat kepergianmu dari rumahnya. Terus, surga seperti apa yang kau dambakan?

#JustWriteNoFight

Menuju Bahagia Dan Melampauinya

[AI]

Advertisements
Share This :

2 Replies to “Pilih Tinggal di Rumah Sendiri Atau Rumah Mertua/Orang Tua Setelah Menikah?”

  1. Mantab tuh istrinya mau ikut mertua karena perlu mental baja an kesabaran ekstra bila wanita berada ditempat mertua.

    Pertemuan yang sangat tinggi dengan mertua dan urusan dari mulai kecil kecil semisal jemuran cara masak maupun selera masakan bisa menjadi pemicu hal yang unik antara mertua dengan mantu.

    Selalu saluut dengan mantu wanita yang hidup dengan mertua dan bisa membuat suasana rumah dalan kondisi kondusif.

    Yang penting jangan coba coba rekrut pegawai lagi meskipun hanya kontrak paruh waktu.

    Bisa bisa permainan mobile legend pindah dalam kehidupan nyata.

  2. Emang bener sih kalau cowok yang tinggal di rumah mertua lebih cuek. Tapi ada beban juga. Ga usah disebut disinilah. Keinginan saya sekarang mau memiliki rumah sendiri. Hanya saja dari sisi keuangan belum mampu. Jadi tolong di doain biar mampu.
    Satu pesan lagi. Di satu rumah tak mungkin ada dua matahari

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.