Antara Teman, Rekan Dan Jabatan

5 Cara Belajar Bahasa Jerman Otodidak yang Mudah Diingat

Tidak terasa loh saya makin menua aja, 20 hari lagi saya fix 12 tahun memegang erat status sebagai karyawan di perusahaan tempat saya bekerja sekarang.

Banyak teman yang silih berganti menemani canda gurau di tempat ini. Meskipun cuma sebentar, namun sangat melekat dalam ingatan bahwa kita pernah bersama dalam suka maupun duka.

Tidak hanya teman saja yang meninggalkan saya di sini. Mantan pacar, gebetan, teman tapi mesra, teman tapi sering dolan dan typikal teman lainnya, satu demi satu juga meninggalkan saya. Bahkan musuh bebuyutan juga ikutan say good bye.

Meskipun ada yang berganti tahun demi tahun, namun ada juga yang masih membersamai saya hingga sekarang.

Meskipun banyak yang sudah tidak di sini sekarang, mereka yang pergi masih saya simpan dalam kenangan berjudul “Teman seperjuangan”.

Antara Teman, Rekan dan Jabatan?

Saat masih single

Definisi teman menurut saya adalah seseorang atau lebih yang menemani dan membersamai kita dalam  berbagai keadaan. Meskipun definisi teman bisa beraneka ragam tergantung dari bagaimana kita memandang, misalnya saja teman hidup yang bisa berarti pasangan.

Namun teman yang saya maksud di sini adalah seseorang yang sering hadir dalam hidup kita, seseorang yang membuat kita merasa bebas dan nyaman untuk bercerita tentang berbagai hal, baik itu suka maupun duka, bahkan terkadang hal privasipun kita bisa bagi dengannya.

Definisi rekan menurut saya lebih menjurus pada bidang pekerjaan. Rekan juga bisa diartikan teman namun hubungan pertemanan kita terhubung karena keterikatan kita dalam suatu instansi atau perusahaan yang sama

Sebenarnya teman dan rekan juga tidak jauh beda menurut saya. Disaat kondisi bekerja, saya menyebutnya sebagai rekan atau partner kerja. Namun disaat kita sudah di luar perusahaan, kita adalah teman.

Bedanya lagi, jika pada mode “rekan”, yang kita bicarakan tak jauh-jauh dari perbincangan soal pekerjaan. Namun disaat mode “teman”, kita bisa ngomongin mantan hingga bini orang #eh, hahahaha becanda loh gaes

Terus, apa hubungannya dengan Jabatan?

Di poin inilah yang memaksa saya menuliskan artikel kali ini.

Sudah 12 tahun saya bekerja di perusahaan ini dan 12 tahun pula saya mengenal teman sekaligus rekan kerja saya ini.

Baca Juga :  Jika Kamu Masih Jomblo!, Menurutmu, Tipe Jomblo Seperti Apa Sih Kamu?

Bagi saya, dia adalah seorang senior yang sangat saya hormati. Meskipun kalau dihitung dari masa kerja, saya unggul 2 bulan lebih lama dari pada dia.

Namun pada kenyataannya, dia merupakan kakak kelas saya sewaktu di SMK. Berada di jurusan yang sama, namun pengalaman dan wawasan dia tentang dunia komputer jauh melebihi yang saya pahami saat bersekolah dulu.

Bukan karena dia bersekolah lebih dulu yang membuat dia lebih unggul, namun memang kecerdasan dan keuletan dia yang luar biasa, terutama kalau menyangkut dunia komputer.

Poin penting lainnya adalah dia sangat menikmati hal-hal yang berbau komputer. Sedangkan saya saat bersekolah dulu, hanya cuma ingin cepat lulus biar langsung kerja. Mungkin karena alasan tersebut, saya tidak begitu menguasai apa yang diajarkan di sekolahan dulu.

Masih single juga

Awalnya kita sama-sama bekerja di bagian produksi, bahkan selalu satu shift. Suka duka kita lewati bersama, dari dimarahin leader, ngakalin leader, memberikan tutor pada karyawan baru, bahkan dulu kita pernah naksir cewek yang sama juga loh?

Meskipun kita sama-sama bersaing dalam merebut hati si cewek ini, namun tidak pernah sedikitpun terbesit di pikiran bahwa kita adalah saingan bahkan jadi musuh sekalipun. Dan pada akhirnya, kita juga sama-sama menjauh dari si cewek ini juga, dan menemukan wanita yang pantas jadi pasangan hidup masing-masing.

Di beberapa tahun kemudian, teman saya ini naik jabatan sebagai IT di perusahaan sedangkan saya naik jabatan menjadi admin produksi sekaligus menjadi backup di mesin produksi kalau ada salah satu bagian yang tidak masuk kerja.

Mungkin sekitar 7 tahun saya dan teman saya berada di posisi itu, kita makin sering akrab saja karena tempat kerjanya berada dalam satu ruangan yang sama (sebelahan meja).

Hingga akhirnya 3 bulan yang lalu, dia menjadi kandidat terkuat menjadi kepala produksi. Selain memang mempunyai pandangan yang luas, kemampuan memahami man power serta skill mengolah data yang mumpuni.

Dia seorang yang mudah akrab dengan siapapun, bahkan seluruh karyawan pasti mengenal dia dengan baik. Berbeda dengan saya yang dasarnya pemalu dan introvert.

Dan di posisi inilah yang semakin membuat saya semakin kagum kepadanya.

Di tengah pandemi COVID-19, sebenarnya perusahaan saya masih terus produksi dengan normal. Toh gak mungkin juga kalau perusahaan menengah ke bawah, bisa meliburkan karyawannya sembari membayar penuh gaji karyawan selama di rumah.

Baca Juga :  Tentang Persinggahan Sementara

Pemerintah aja gak sangup, apalagi perusahaan kelas teri macam ini.

Namun karena perusahaan saya juga merupakan anak cabang yang bahan materialnya (bahan baku) juga berasal dari perusahaan pusat. Akhirnya disaat perusahan pusat lockdown, kita juga ikutan lock dow dong?

Di tengah isu lockdown dan diliburkan inilah polemik dan isu-isu merebak hingga ke telinga saya. Mulai dari “apakah gaji tetap dibayarkan selama liburan” ataupun “apakah lockdown ini akan berdampak sampai lebaran”. Semua itu menyatu dengan sangat seru untuk saya nantikan selanjutnya.

Waktu istirahat merupakan cara yang asik untuk ngobrolin isu-isu hangat yang bertebaran. Biasanya sih kita membahas order maupun problem yang sedang terjadi di produksi.

Karena saya juga seorang admin, jadi teman ngobrol saya juga orang-orang yang punya jabatan di perusahaan. Dan asiknya lagi, orang-orang yang punya jabatan juga seumuran saya, jadi formal banget deh kalau kita sedang ngobrol.

Di tengah isu lockdown, saya mendapati curhatan teman saya perihal isu-isu yang sedang terjadi di perusahaan. Salutnya tuh, saat teman saya menjelaskan dari sudut pandangnya, dia tidak memihak perusahaan ataupun memihak ke karyawan.

Dia menjelaskan secara detail mulai dari rasa kasihannya kepada karyawan yang tidak memiliki penghasilan lain selain dari gaji perusahaan. Begitupun dengan perusahaan yang tidak mungkin sanggup membayar semua karyawannya saat di rumah.

Saya senang melihat teman saya ini. Meskipun sudah naik jabatan, namun pemikirannya masih sangat murni dari hati. Mungkin pengalamannya pernah merangkak dari bawah itulah yang membuat dia lebih bijaksana.

Saya jadi makin betah berada di perusahaan ini. Padahal 1 tahun belakangan saya mulai jenuh dengan pekerjaan saya dengan kepemimpinan kepala produksi sebelumnya.

Yah semoga saya bisa bantu teman saya ini sebaik-baiknya. Setidaknya saya ingin berusaha meringankan beban berat yang sekarang ditanggungnya sebagai seorang teman, seorang rekan dan seorang bawahannya.

#Menuju Bahagia Dan Melampauinya

[AI]

Advertisements
Share This :

2 Replies to “Antara Teman, Rekan Dan Jabatan”

  1. Lebih keren lagi kalau cewek yang sama sama di taksir jadi gambar ilustrasinya

  2. Rini Uzegan says: Balas

    Temennya inspiratif bgt yah, jarang bisa dpt temen kyk gitu. Tapi kalo kita baik, yah biasanya dapet temen yg seperti kita jg 😂

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.