Puasa dan Lebaran di Pandemi Covid-19

Ramadhan kali ini juga terasa begitu spesial. Tidak hanya menahan lapar dan dahaga saja, kita juga diwajibkan untuk menjaga kesehatan diri selama masa pandemi. Salah satunya dengan tetap menjaga jarak aman dalam bersosial serta tidak bepergian jika memang tidak terlalu mendesak.

Saat lebaranpun juga sama. Mudik merupakan hal yang wajib dilakukan jika sudah menjelang hari raya idul fitri. Namun di masa pandemi ini, anjuran untuk tidak mudik terus ditayangkan diberbagai media. Yah tentu hal ini dilakukan untuk memutus penyebaran virus corona juga.

Puasa Ramadhan di tahun ini memang lain dari tahun-tahun sebelumnya. Puasa yang penuh makna dengan banyak ujian melanda di seluruh dunia. Yah, pandemi Covid-19 memang benar-benar merubah tatanan kehidupan di dunia.

Eh, benar nggak sih, pandemi ini benar bisa merubah tatanan kehidupan dunia? Hahaha

Kalau saya pribadi, ada banyak kebiasaan yang berubah selama Ramadhan di masa pandemi ini. Yah meskipun sedikit merepotkan, namun saya ingin menceritakan tetang hal yang saya lakukan di Ramadhan dan Lebaran tahun ini.

Sengaja membuat artikel seperti ini sebagai catatan pribadi bahwa saya pernah hidup di masa wabah penyakit yang sangat menggemparkan dunia persilatan. Yah semoga nanti anak-anak saya bisa membaca ini.

Berikut beberapa hal yang terjadi pada kehidupan saya di ramadhan dan  Lebaran masa pandemi COVID-19

#1. Sukses Menjadi Kaum Rebahan Selama Ramadhan

kaum rebahan
Source image :rintimes-banyuwangi-pikiran-rakyat.com

Dengan adanya pandemi ini, saya benar-benar dirumah saja loh selama Ramadhan. Sebenarnya bukan karena patuh pada anjuran pemerintahan loh, namun memang kondisi yang tidak memungkinkan. Yakni perusahaan saya juga ikutan libur selama satu bulan ini.

Karena kesibukan sehari-hari yang tidak terlalu sibuk, jadi saya memutuskan menjadi kaum rebahan, apalagi kondisi saat puasa Ramadhan sangat mendukung sekali menjadi kaum semacam ini. Sehari-hari dihabiskan dengan rebahan nonton drakor dan rebahan main game, hahaha.

Tapi meskipun sudah menjadi kaum rebahan, saya tetap menjalankan tanggung jawab sebagai hamba dan sebagai manusia berkeluarga juga kok. Jadi sambil rebahan, saya menikmati quality time dengan anak-anak yang jarang saya dapatkan kalau tidak di pandemi macam ini.

#2. Lebih Banyak Terjaga Saat Malam

Kalau siangnya saya rebahan, maka malamnya saya lebih banyak terjaga semalaman (setidaknya sampai waktu sahur).

Baca Juga :  Perihal Hujan Malam Yang Menginspirasi

Hal ini tak lepas dari peraturan desa yang mewajibkan perwakilan keluarga ikut jadwal ronda. Karena dalam keluarga saya terdapat 2 kartu keluarga, jadi ada dua hari jadwal jaga di pos ronda.

Bapak saya cukup rentan kalau terkena udara malam, jadi yah saya menawarkan diri untuk menggantikan bapak saya untuk jaga pos. Namun alhamdulillah, mulai habis lebaran jadwal untuk bapak saya sudah dihapuskan mengingat kondisi yang tidak memungkinkan.

Selain jaga pos, saya juga punya 2 acara rutinan tengah malam tiap minggu (malam jum’at dan malam minggu). Jadi selama Ramadhan ini saya terjaga selama 4 hari tiap malam sambil nunggu waktu sahur tiba.

#3. Ternyata Rezeki Itu Tidak Hanya Gaji Loh?

Selama sebulan ini saya tidak bekerja, perusahaan pun tak cukup finansial untuk membayar upah gaji saya sepenuhnya saat dirumahkan, bahkan tidak sampai setengahnya. Jadi kebayangkan bagaimana finansial saya selama sebulan ini.

Namun rezeki itu memang bukan hanya soal gaji yang saya terima saja, toh tanpa gajipun kehidupan saya masih berjalan. Bahkan saya merasa tidak ada kendala kekurangan uang yang seharusnya saya rasakan.

Meskipun tidak bisa melakukan hal seperti buka bersama atau hal yang terlihat seperti orang kaya pada umumnya. Namun setidaknya keuangan keluarga saya normal-normal saja.

Saya tidak nganggur begitu saja sih, sembari rebahan saya juga tetap mengaktifkan akun ojek online saya dari rumah. Kalau saya dapat order, yah saya jalankan. Kalau tidak, yah saya tetap rebahan. Kerja kayak gitu enak kan, hehehe.

Apalagi saya juga sering dapat hadiah spesial dari pelanggan ojek online. selain tips langsung, saya juga terkadang dapat makanan dari pihak restoran maupun bingkisan dari pelanggan.

Dan pada akhirnya, rezeki itu bukan soal uang, namun tetap sehat di pandemi saat ini juga termasuk rezeki, bukan?

#4. Rencana Mudik Yang Gagal

sepeda ultah untuk naila

Setiap lebaran saya selalu enjadwalkan 6 hari untuk menyambung tali silaturohmi dengan kerabat. 3 hari saya habiskan untuk keluarga dari sisi Istri dan 3 hari selanjutnya saya mengunjungi kerabat dari sis keluarga bapak.

Jadi setiap awal lebaran saya akan mudik ke kampung halaman istri yang jaraknya cuma 35 km dari kampung kelahiran saya. Namun untuk tahun ini, rencana jadwal mudik jadi berantakan karena lockdown wilayah di desa tempat saya tinggal.

Baca Juga :  Saat Lockdown #DiRumahAja Kalian Ngapain ?

Yah pada akhirnya saya hanya diam di rumah saja selama dua hari dan memutuskan untuk mudik ke kampung kelahiran istri minggu depan.

#5. Suasana Lebaran Yang Sangat Berbeda

Lockdown wilayah membuat suasana lebaran menjadi sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Suasananya jadi sangat sepi, bahkan tamu yang berkunjung ke rumah juga bisa di hitung jari.

Keluarga besar saya juga tidak bisa hadir, padahal pas awal lebaran biasanya sangat ramai di rumah, mengingat ibu saya meruapakan keluarga tertua di silsilah keluarga besar saya.  Beberapa keponakan saya yang merantau di Bali dan Jakarta pun dengan sangat terpaksa mendekam di tanah perantauan.

#6. Protokol Covid-19 Yang Tak Bekerja Saat Sholat Idul Fitri

Sesuai anjuran pemerintah daerah bahwa pelaksanaan sholat idul fitri harus menyesuaikan protokol pencegahan Covid-19. Salah satunya wajib menggunakan masker, sajadah, sarung, dan peci sendiri saat ke Masjid. Begitupun untuk shof barisan saat sholat juga sudah di tandai di lantai masjid dengan jarak aman.

Namun bukan warga +62 kalau tidak bikin ulah. Awalnya sih ngikut anjuran dengan jarak yang ditentukan saat sebelum sholat. Namun saat sholat dimulai, warga yang tadinya duduk-duduk di luar masjid menyerbu ke shof sholat terdepan. Akhirnya protokolpun hanya sebatas formalitas.

Shof menjadi rapat sesuai anjuran agama biar ruang kosong dalam sholat tidak di tempati para syetan yag sudah dibelenggu selama bulan Romadhon. Dan tragisnya, saya juga salah satu warga +62 yang ikutan merapatkan barisan, hahahaha.

Yah apapun itu, bagi saya perjuangan dalam hidup tidak semata melawan korona doang. Jika di rumah kita bisa merasa aman dalam pandemi korona ini, maka di dalam rumah Allah pun akan sama saja, kan?

Kalau di wilayah kalian, bagaimana suasana lebaran tahun ini?

Menuju Bahagian Dan Melampauinya

[AI]

Advertisements
Share This :

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.