Lawan Bullying Dari Diri Sendiri

Lawan Bullying Dari Diri Sendiri

“Jika tidak berani ajak berantem si pelaku bully, yah kita akan jadi bulan-bulanan bahkan tahunan.”

Yah setidaknya begitulah yang akan dirasakan oleh korban bully yang tidak mempunyai keberanian untuk melawan pelaku. Terus jadi bahan candaan bahkan bisa jadi pelecehan yang membunuh karakter seseorang.

Dulu sewaktu kecil pernah beberapa kali saya jadi korban bully semacam itu. Saya tuh orangnya pemalu sewaktu kecil dulu, apalagi kalau ada orang yang ngatain “udel” (pusar) saya bodong. Meskipun kenyataannya memang begitu, namun ada rasa perihbercampur malu karena perkataan itu.

Jadi saat kecil, saya jarang sekali membuka kaos saya meskipun saya habis main sepak bola dan kegerahan sekalipun. Kemudian ada salah satu teman yang umurnya jauh di atas umur saya yang penasaran dengan seberapa bodong pusar saya.

Dia mengajak teman-teman lainnya untuk mengeroyok dan melucuti kaos saya, biar tau sebesar apa sih “udel” bodong saya itu. Namanya anak kecil, pasti nangis lah, apalagi dulu saya tuh lumayan cengeng namun tetap belagu, hahahaha.

Namun lama-kelamaan, saya pasrah aja. Biarlah orang sedesa tau bahwa udel saya itu bodong. Jadi kalau ada yang ngatain udel saya bodong lagi, saya seperti mengabaikan dan tak memperdulikannya.

Dan pada akhirnya hal yang dulu membuat saya malu, kini sudah menjadi hal biasa. Bahkan sewaktu SMP, saya sudah terbiasa memamerkan kebodongan pusar saya terutama setelah main bola. Justru sekarang saya malah merasa kehilangan. Yah, kehilangan pusar bodong itu, karena tertutup gumpalan daging di perut saya.

Pernah juga saya dibully sewaktu renang di sungai. Dulu sewaktu kecil (sekolah SD) saya tidak bisa berenang, meskipun begitu saya hampir tiap hari mandi di sungai bersama teman-teman sebaya saya.

Belagu banget kan! Udah tau gak bisa renang, tapi nekat sekali mandi di sungai.

Yang bully saya, lagi-lagi usianya jauh di atas saya. Ada dua orang waktu itu yang selalu menjaili saya sewaktu mandi di sungai. Mereka berdua menyeret saya dengan cara mengangkat saya hingga ke tengah dengan kedalaman 2 meteran.

Hal ini dilakukan berkali-kali, bahkan pernah hampir mati waktu itu. Untung saja ada yang lewat dan saya berpengangan pada kaki anak yang lewat itu. Jadi selamatlah saya hingga bisa nulis artikel ini.

Karena kesal, akhirnya jiwa pemberontak dalam diri saya muncul. Jadi pas dia mau ngejahilin saya lagi, saya berhasil mencabik punggung salah satu pelaku hingga punggungnya membekas 10 kuku jari saya.

Namun tetap saja, meskipun jiwa pemberontak saya sudah keluar, raungan tangisan saja juga tak luput terlontar melalui mulut saya juga, hahaha. Hingga akhirnya kedua orang itu gagal menjaili saya hari itu.

Saya kira dengan pencabikan itu sudah menyudahi kejahilan mereka atas diri saya, ternyata tidak pemirsa. Lagi-lagi mereka ngejahilin saya dan berhasil melakukanya lagi hingga saya beberapa kali minum air sungai.

Akhirnya saya mengeluarkan jurus terakhir saya, yakni mengadu kepada kakak sepupu saya yang jauh lebih besar dari mereka. Dan semenjak itu saya tidak pernah lagi dibully oleh kedua orang itu.

Pernah mengalami pengalaman pembully-an sewaktu kecil, membuat saya merasa iba kalau melihat anak yang sedang merudung pembullyan dari teman sekitarnya. Rasanya jadi pengen ikut mbully juga, hahahaha #becanda.

Baca Juga :  Miracle of Ramadhan : Kehidupan dan Kesempatan Kedua

Namun percaya deh, sakitnya dibully itu lebih sakit dari pada ditolak cinta. Soalnya, selama rasa sakit dari penolakan itu tidak begitu perih, karena memang belum ada ikatan bukan? Namun kalau bully, sakitnya tuh langsung ke hati, bahkan pikiran ikut stress.

Rasa takut, binggung, hingga kecewa pada diri sendiri itu akan semakin buruk jika tidak bisa melawan, minimal bisa bertahan dalam keadaan itu aja udah cukup.  

Selama dalam perudungan seperti itu, seseorang bisa menjadi orang yang sangat munafik. Berkata “aku baik-baik saja” kalau ditanya orang sekitar, padahal hatinya hancur lebur.

Dendam dan dengki terus berkecamuk dalam pikiran kita, berharap bisa membalas namun tidak mempunyai kekuatan untuk itu. Hasilnya yah tetap dipendam dalam-dalam hingga pikiran dan hati makin hancur.

Terus, seharusnya kita bagaimana jika kita berada pada posisi korban pembullyan seperti itu.

Saya sih bukan menggurui apalagi saya juga tidak pernah bersekolah di bidang psykolog. Namun berkaca pada pengalaman pribadi, hal yang pertama kita rubah adalah “Diri Sendiri”.

Hidup adalah sebuah pilihan, jika kita tidak memilih, sama juga dengan mati, begitu kan?

Maka dari itu, memilih “tetap dibully” atau “berjuang melawan pembullyan”. Nah pertanyaannya, bagaimana melawan pembullyan itu?

Ok, dari sini saya ingin menjelaskan cara melawan pembullyan versi saya pribadi. Jadi cara ini bisa bekerja atau tidak, itu tergantung kalian juga. Karena setiap cerita dan kisah akan berbeda solusinya, tergantung bagaimana Tuhan menunjukkan jalan bagi kalian.

Tips Jitu Cara Melawan Pembullyan

Sekali lagi saya ingatkan kembali bahwa cara ini bisa saja bekerja ataupun tidak. Semua cara-cara ini hanya pendapat saya dengan berkaca pada pengalaman sewaktu dulu. Jadi jangan jadi patokan yah.

1. Bertahan Atau Melawan

hinata melawan pain
Source : dailyanimeart.com

Melawan pembullyan tidak selalu dengan pukulan, namun bisa saja dengan bertahan. Karena kata Morinho, strategi paling bagus dalam sepak bola adalah tidak kemasukan gol. Eh ini apa hubunganya, hahahaha.

Melawan atau bertahan? Dua cara tersebut sangat cocok dalam keadaan seperti ini. Melawan berarti kita menunjukkan bahwa harga diri kita tidak mau diinjak-injak seperti itu. Tuhan saja tetap memperlakukan semua mahluknya dengan kasih sayang, kenapa kita mau diinjak-injak sama makhluk yang stratanya sama dengan kita.

Melawan tidak harus menang, namun bisa jadi kekalahan yang mampu menyadarkan mereka (pelaku pembullyan) akan tindakan mereka yang melampaui batas. Bisa saja saat kita melawan, ada pahlawan yang tidak sengaja hadir dekat kita dan mau menolong kita.

Kita loh tidak tahu bagaimana cara Tuhan menolong saat menghadapi kesulitan dan keterpurukan. Bisa jadi kekalahan adalah awal dari kemenangan kita ke depannya.

Sedangkan bertahan adalah cara efektif bagi mereka yang memang tak memiliki kekuatan untuk melawan. Kekuatan di sini mungkin bukan secara fisik, namun dalam artian bisa saja tentang kekuasaan dan ancaman yang bisa menyakiti orang yang kita sayangi setelah kita melawan.

Bertahan bisa dilakukan dengan cara “mengabaikan” ataupun menganggap bullyan itu sebagai sampah yang masuk ke telinga. Berat sih, apalagi ini menyangkut rasa dan hati, tentu setan dendam dan dengki akan terus menggerogoti kita saat melakukan cara ini.

Baca Juga :  Mencintai Itu Harus Rela Tersakiti Agar Bisa Memahami Arti Cinta Yang Sebenarnya

Namun cara bertahan ini tidak efektif jika pembullyannya dilakukan secara fisik. Kalau kita hanya bertahan, yah kita akan terkapar. Cara bertahan ini hanya cukup efektif bagi bullyan lewat candaan, gojlokan, ataupun menyudutkan yang bersifat omongan.

2. Putus Pertemanan Dan Tinggalkan

Kebanyakan sih yang jadi korban pembullyan itu hanya satu orang, pelakunya bisa seluruh teman atau rekan kerja. Jika memang hal demikian, menjadi seorang diri dalam satu kawasan itui adalah hal terbaik dari pada menjadi bahan olok-olokan yang dilontarkan secara kroyokan.

Putus silaturohmi memang tidak baik, namun jika tali silaturohminya kepada teman seperti sampah, putus pertemanan itu jauh lebih baik dari pada bau sampah.  

Karena akan ada waktunya kita akan menemukan teman dan sahabat sejati yang terus mendukung kita dan menyalahkan kita saat kita berada dijalan yang salah. Bukan teman yang menjatuhkan apalagi sampai jadi bahan bullyan.

Jadi jika menemukan teman-teman yang membully dan kalian tidak punya kekuatan untuk melawan (misal yang membully adalah senior kalian), cukup kalian hindari mereka dan tidak berbicara sama mereka. Kalau perlu, keluar aja dari tempat itu, beres kan?

3. Kalau Perlu Laporkan Saja

Nah kalau masalah lapor ini, saya juga agak sangsi kalau pembullyan ini akan teratasi. Kalau pembullyan bagi anan kecil sih, lapor orang tua atau orang dewasa adalah hal yang terbaik. Karena orang tua akan melindungi anaknya bagaimanapun caranya.

Nah kalau pembullyan ini diterima oleh orang dewasa, sepertinya melaporkan kepada polisi juga akan percuma, kecuali kalau ada kontak fisik, pencemaran nama baik maupun pelecehan.

Kalau pembullyannya sekedar omongan atau gojlokan, bisa tidak yah dilaporkan ke polisi?

Sepertinya sih tidak

4. Cari Sekutu Dan Umumkan Perang Dunia Ninja Yang ke-Lima

Para hokage terdahulu
Source : twitter.com

Jika melapor kepada seseorang tak kunjung meredakan pembullyan, maka cara terakhir adalah mencari sekutu. Sekutu yang mau diajak melawan si pelaku pembullyan.

Jika pembullyan balik tak bisa menyelesaikan masalah, maka perlu adanya perang dunia ninja ke-empat. Kalau perlu lakukan jurus edo tensei pada 4 hokage sebelumnya. Percayalah, kemenangan akan di gengaman, hahahahaha.

Ok, yang itu tadi becanda.

Mencari sekutu berarti mencari teman lain. Kalau berteman dengan geng 1 membuatmu kena bully terus, maka carilah geng 2. Kalau masih kena bully, cari aja geng ke-3. Dan jika masih lanjut kena bully, maka faktor terakhir adalah intropeksi diri. Intropeksi dirimu kenapa bisa kena bully terus.

Saran saya sih cuma dengan “melawan” untuk bisa mengatasi pembullyan. Jika tidak bisa dengan kekerasan, setidaknya dengan “ketegasan” bahwa kalian itu sebenarnya tidak ingin diperlakukan seperti itu.

Yah begitulah cara saya menghadapi bullyan semasa kecil. Percayalah, membully seseorang itu memang menyenangkan, mungkin itu yang membuat si pelaku ketagihan. Jadi, lawan dengan ketegasan untuk tidak diperlakukan seperti demikian.

Stop Bullying

Menuju Bahagia Dan Melampauinya

[AI]

Advertisements
Share This :

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.