Pengalaman Naik Pesawat Terbang Untuk Pertama Kalinya

Pengalaman Naik Pesawat Terbang Untuk Pertama Kalinya

Pernahkah kalian naik pesawat terbang? Sudah berapa kali kalian naik pesawat terbang?

Kalau saya pribadi, ini merupakan pengalaman pertama kali dalam seumur hidup saya. Norak yah, hahaha

Bagi anak pedesaan seperti saya, kesempatan naik pesawat terbang merupakan kesempatan langkah yang mungkin sulit terulang untuk kedua kalinya. Apalagi ini gratis loh gaes.

GRATIS…TIS

Jadi ceritanya saya mendapat tawaran untuk menemani seseorang teman mengurusi suatu hal di Lampung untuk beberapa hari. Kebetulan saya juga sedang libur kerja, dan ceritanya semua perjalanan dan akomodasi selama di sana akan dibiayai oleh tuan rumah.

Apalagi saya juga tertarik ingin sekali merasakan bagaimana sih rasanya naik pesawat terbang. Jadi saya tidak ingin mensia-siakan kesempatan emas ini. Namun tak lupa saya harus meminta izin istri terlebih dahulu.

Soalnya perjalanan ini akan memakan waktu sekurang-kurangnya satu minggu selama di sana. Dengan sedikit bujukan dan rayuan, akhirnya istri mengizinkan saya untuk pergi ke Lampung.

Tidak ada sesuatu yang istimewa yang saya persiapkan. Hanya restu dan doa dari keluarga, sedikit pakaian selama di sana dan hanya bermodalkan uang tunai 150.000 dan 200.000 di atm.

Oh iya sebelum hari keberangkatan, saya sudah melakukan rapid test di klinik terdekat. Hasilnya pun saya negatif dari berbagai virus. Rapid test ini sangat diperlukan saat hendak check in di bandara nantinya.

Sebenarnya di bandara sendiri juga ada layanan rapid test. Namun jika saya lakukan di sana, tentunya akan menyita banyak waktu. Takutnya malah akan menghambat keberangkatan dan e-tiket penerbangannya malah hangus.

E-tiket bisa dipesan secara online, waktu itu saya menggunakan Traveloka untuk pesan tiket penerbangan. Mungkin karena adanya pandemi ini, jadi jadwal penerbangan ke Lampung harus transit dulu ke jakarta baru menuju ke Lampung.

Jadwal penerbangan saya pukul 13.30 untuk perjalanan ke Jakarta dan transit selama 2 jam lebih, kemudian pukul 16.30 landing ke Lampung.

Drama Perjalanan Menuju Bandara

Kadang apa yang sudah direncanakan matang-matang, ternyata sedikit berbanding terbalik dengan kenyataan. Begitulah yang terjadi saat keberangkatan dari desa saya menuju bandara Juanda di Surabaya.

Sudah berangkat pagi sekali dengan kecepatan normal, saya dan teman saya sama-sama dibonceng dengan menaiki dua sepeda motor menuju bandara. Belum sampai Sidoarjo, ban sepeda motor yang saya naiki bocor. Akhirnya kita tunggulah sampai beberapa menit hingga ban tersebut selesai ditambal.

Kemudian kita lanjut berangkat lagi, namun lagi-lagi sepeda motor yang saya naiki lagi-lagi bocor untuk kedua kalinya. Karena saya lagi kejar waktu, akhirnya saya meninggalkan teman yang sudah bonceng saya ini di sebuah tambal ban.

Saya langsung buka aplikasi ojek online dan pesan satu driver menuju bandara. Dan Alhamdulillah akhirnya sampailah saya di bandara dengan waktu yang cukup mepet.

Terlalu Ribet Bagi Yang Baru Pertama Kali Ke Bandara

Berlarilah saya dengan teman saya. Namanya juga sama-sama baru pertama kali naik pesawat, akhirnya kita tanya-tanya apa yang harus dilakukan untuk pertama kali kepada orang sekitar.

Baca Juga :  Perjanjian Tidak Merokok Lagi

Ketemulah dengan salah satu sopir travel yang mau menjelaskan urutan kemana kita harus melangkah selanjutnya. Ditunjukkanlah jalan menuju pintu check in penerbangan, dan tanpa berlama-lama kita cap-cus menuju pintu tersebut.

Terdapat pemeriksaan di awal yang mana pemeriksaan tersebut hanya mengizinkan orang yang memiliki tiket maupun e-tiket penerbangan saja yang boleh masuk.

Setelah itu, kita juga disuruh untuk validasi lembar rapid test di penjagaan selanjutnya. Dijelaskan pula kita harus mengisi informasi data pribadi di apliaksi e-Hac setelah sampai di lokasi tujuan penerbangan.

Setelah itu, masih ada pemeriksaan barang bawaan dan pendeteksi metal. Dipemeriksaan tersebut saya dan teman saya beserta barang bawaan kami lolos dengan sempurna.

Setelah pemeriksaan, terdapat beberapa loket dan banyak orang yang sedang antri di sana. Loket tersebut merupakan loket check in dan ambil boarding pass penerbangan. Maka saya dan teman saya segera cari loket yang sesuai dengan e-tiket penerbangan.

Waktu itu keberangkatan yang pertama menggunakan layanan Batik Air dan lanjut di Jakarta menuju Lampung menggunakan jasa Lion Air.

Ternyata antrian check in ini merupakan antrian yang cukup lama, mungkin karena alasan ini kita diminta untuk datang lebih awal saat check in biar tidak ketinggalan pesawat.

Hampir setengah jam saya antri di loket ini. Sebenarnya waktu yang dibutuhkan untuk check in untuk satu orang itu tidak terlalu lama, hanya saja ada beberapa kasus yang bikin lama. Seperti jika seseorang bermasalah dengan barang bawaannya. Misalnya barang bawaannya melebihi kapasitas dari bagasi atau semacamnya.

Setelah mendapat boarding pass, ternyata masih ada lagi kelanjutan langkahnya. Yakni pemeriksaan metal untuk kedua kalinya sebelum menuju ruang tunggu penerbangan.

Dipemeriksaan sebelumnya, tas saya dan tas teman saya lolos dengan sempurna. Namun dipemeriksaan yang kedua. Tas saya terdeteksi terdapat korek api. Jadi disaat hendak saya ambil, saya malah diperingatkan untuk menyerahkan korek api di dalam tas saya tersebut. Untung saya bawa dua korek api, jadi saya hanya menyerahkan satu korek api saja, hahahaha.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya saya meluncur ke pesawat terbang menggunakan bus bandara.

Yang Dirasakan Saat Pertama Kali Terbang

Ada rasa gugup dan takut saat duduk di kursi pesawat terbang. Saya juga sempat membayangkan bagaimana rasanya saat pesawat dalam posisi naik. Katanya sih ada tekanan dalam tubuh dan bunyi yang cukup menganggu di gendang telinga saat keadaan seperti itu.

Terus saya juga pernah melihat dalam sebuah film kalau di penerbangan juga menyediakan sebuah headphone dan kita bisa menikmati alunan musik ataupun film di layar lcd yang tersedia di depan kita. Namun saya sedikit kecewa saat melihat kenyataannya.

Baca Juga :  Puasa dan Lebaran di Pandemi Covid-19

Mungkin karena jasa penerbangan yang saya gunakan merupakan jasa penerbangan termurah. Jadi yang saya dapatkan hanyalah sebuah layar yang menyediakan informasi yang tak begitu penting bagi saya. Juga tidak adanya headphone maupun musik di layar tersebut.

Saat pesawat mulai take off, memang rasanya ada tekanan dalam tubuh. Bunyi yang mengganggu itupun juga saya rasakan. Namun bagi saya yang pernah merasakan naik pukulan halilintar menyakitkan, roller coster maupun flaying tornado, tekanan seperti itu bukan perkara yang sulit.

Dan perjalanan pertama saya cukup nyaman dan tanpa hambatan hingga sampai di Jakarta.

Perjalanan Yang Kedua Cukup Mengejutkan Dan Bikin Shock

Sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa perjalanan Surabaya Lampung itu harus transit dulu ke Jakarta. Jadi saya harus naik pesawat dua kali dalam satu hari itu.

Ternyata bandara Juanda yang saya anggap cukup besar sebelumnya, bukan apa-apa dibanding dengan capeknya saya berjalan untuk sekedar check in di Bandara Sukarno Hatta. Belum lagi saat sudah di ruang tunggu, malah disuruh ganti ruang tunggu lagi.

Di perjalanan yang ke dua saya menggunakan jasa Lion Air. Dan saya semakin kecewa saat menggunakan jasa Lion Air ini. Selain tidak ada headphone, juga tidak ada layar di bangku depan saya. Ah menyedihkan.

Estimasi waktu penerbangan dari jakarta – Lampung ini cukup lama dari pada Surabaya – Jakarta. Jika perjalanan sebelumnya membutuhkan waktu 1 jam 30 menit, justru perjalanan kedua butuh 1 jam. Padahal kalau melihat jaraknya Jakarta – Lampung itu cukup dekat loh.

Tapi nggak tau lah, mungkin rute penerbangannya berputar atau memang harus seperti itu.

Saya kira perjalanan yang ke dua ini juga akan sama saja dengan yang pertama, ternyata berbeda jauh coy.

Kebetulan cuaca daerah lampung sedikit hujan, jadi sewaktu hendak landing di Lampung. Saya kaget sekali saat merasa seperti pesawat yang saya naiki mau jatuh. Seperti pesawat sedang kehilangan kekuatannya dan jatuh ke bawah.

Sedikit panik sih namun tetap tegar walau jantung sedikit bergetar. Ternayata gini yah rasanya, saat pesawat menabrak gumpalan awan dan ada sedikit angin berhembus kencang. Deg-deg-an banget dah.

Mau teriak seperti saat naik roller coster maupun tornado, namun saya malu melakukan itu. Saya hanya menghela nafas panjang dan berdoa dalam hati biar pesawat ini cepat turun ke tanah.

Dan pada akhirnya saya kapok naik pesawat, hahahaha.

Mungkin jika ada kesempatan lagi lain kali, saya akan memilih penerbangan dengan pesawat yang besar saja. katanya orang-orang sih, kalau pesawatnya gede, goncangan dan tekanan seperti itu tidak berasa.

Benar nggak sih?

Yah begitulah pengalaman anak pedesaan yang baru pertama kali naik pesawat terbang. Norak yah? Hahahaha

Biarin…!

Yang penting saya sudah punya pengalaman naik pesawat. Tinggal ingin tau bagimana rasanya naik helikopter maupun naik roket saja yang belum. Naik kapal pesiar juga belum pernah, hehehe.

Ada yang mau ajak saya naik heli atau kapal pesiar?

#Menuju Bahagia Dan Melampauinya

[AI]

Advertisements
Share This :

5 Replies to “Pengalaman Naik Pesawat Terbang Untuk Pertama Kalinya”

  1. Sama Mas, pengalaman saya pertama kali naik pesawat juga gratisan. Dibayarin sama pemerintah hehe. Paling tegang memang pas saat take-off, selanjutnya terserah Anda haha

    1. Saya malah blm pernah

    2. Hehehe..
      mumpung ada kesempatan emas mas gun

    3. Dalam rangka apa mas, kok dibiayai pemerintah? beasiswa kah?
      kalau aku sih, tegangnya pas ada hujan dan angin aja.. kalau pas pesawat pertama naik, hanya tekanan aja tanpa da shock terapinya, hehehe

    4. Kebetulan sewaktu kuliah kepilih jadi peserta ekspedisi sejarah kelautan di Kepualauan Riau, Mas.

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.