Hal Yang Saya Rasakan Saat Pertama Kali Ke Lampung

Menara siger Lampung Bakauheni

Kemarin kan udah cerita bagaimana pertama kali naik pesawat terbang. Nah sekarang waktunya menceritakan tentang bagaimana perasaan saya sewaktu tiba dan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Lampung.

Kalau dihitung-hitung, saya baru 3 kali ini meninggalkan pulau di mana saya dilahirkan. Yang pertama adalah Bali Island sewaktu SMP, Madura saat ziarah ke makam para Wali dan terakhir ke Sai Bumi Ruwai Jurai beberapa minggu yang lalu.

Namun kalau dihitung dari lamanya tinggal di suatu pulau, di Lampung inilah persinggahan terlama saya meninggalkan pulau kelahiran. Dulu pernah sih ke Indramayu sampai 2 minggu, tapi kan Indramayu masih satu kepulauan.

Ke Lampung ini sebenarnya saya hanya menemani seorang teman yang ingin mengurus suatu di Lampung. Kebetulan beliau tidak diizinkan pergi kalau sendirian. Akhirnya beliau mengajak saya dengan menjanjikan free biaya perjalanan dan akomodasi selama di sana.

Yah mau lah saya, hahaha

Naik pesawat gitu loh. Kapan lagi ada kesempatan emas seperti ini.

Sesampai di lampung, banyak hal yang begitu asing menurut saya. Bahkan banyak hal yang mengejutkan yang terjadi selama perjalanan ini.

Ada suka maupun duka, dukanya sih lebih memberatkan pada perasaan emosional saya sendiri. Wajar dong, yang selama ini ada yang menemani di sisi, kemudian jarak memisahkan kita.

 Jadi ceritanya saya baper dan merasakan lagi bagaimana rasanya rindu dan jablay lagi, hahaha.

Ok kembali ke topik.

Seperti halnya mencoba hal baru, tentu banyak cerita yang mengundang banyak tanya dan rasa penasaran. Begitupun saat di lampung, ada banyak perbedaan yang saya alami.

Lampung Terasa Lebih Sepi

Mungkin hanya perasaan saya yang sedang jauh dari istri, seakan akan saya melihat keadaan Lampung itu “Sepi”.

Sewaktu saya mendarat di Lampung ba’da Maghrib dan keadaannya memang sedang gerimis. Selama perjalanan dari Bandara hingga Sukadana, saya tidak banyak melihat keramaian yang biasa saya lihat di desa saya.

Saya sempat berpikir apakah di Lampung diberlakukan PSBB seketat di Surabaya ataupun Jakarta. Saya rasa bukan karena itu, toh Surabaya yang katanya ketat masalah PSBB juga tetap ramai jam segitu.

Bahkan di kota Metro sekalipun, tak terlihat banyak mobil lalu lalang selayaknya kota besar. Ah mungkin waktu itu sedang deras-derasnya hujan, jadi tak banyak yang keluar rumah di cuaca seperti itu.

Hal serupa juga saya rasakan sewaktu sudah beberapa hari di Sukadana. Mungkin yang saya singgahi memang sebuah desa, namun saya melihat kesunyian dalam desa ini.

Tak banyak anak kecil yang bermain bersama, tak banyak warga yang berkerumun entah saling curhat maupun saling ngosipin yang sedang tren di desa itu.

Sewaktu saya keluar untuk beli makanpun, jalanannya terasa sangat sunyi. Entah itu karena lampu jalan yang tak terlihat atau karena tidak banyak orang yang keluar saat malam.

Baca Juga :  Ikutan Demam “Om Telolet Om” Juga

Berbeda dengan di desa saya, kalau sudah maghrib jalanan malah rame. Apalagi malam minggu, jalanan sampai macet karena banyaknya orang yang keluar entah cari makan, nongkrong, maupun sekedar jalan-jalan.

Entahlah, mungkin saya terlalu membandingkan dengan tempat saya yang terbiasa banyak anak kecil main ramai-ramai di sekitar rumah. Ataupun jalanan yang terbiasa ramai mengingat desa saya terletak antara dua kota besar, Surabaya dan Malang.

Ternyata Bahasa Sehari-Hari Di Lampung Banyak Yang Pakai Bahasa Jawa

Sewaktu saya berjumpa dengan tuan rumah, saya menggunakan bahasa pemersatu, yakni Bahasa Indonesia biar obrolannya nyambung. Soalnya saya taunya dulu sewaktu di group Obrolin, si Gita yang asli orang Lampung tidak paham dengan bahasa jawa.

Namun dalam perjalanan di mobil menuju Sukadana,  justru saya kaget saat dia (tuan rumah) mengerti bahasa Jawa yang saya lontarkan kepada teman saya.

Saya kira semua orang Lampung menggunakan bahasa Lampung. Atau setidaknya ada sebagian tempat yang dekat dengan pulau Jawa, menggunakan bahasa Sunda.

Eh ternyata, di Sukadana justru menggunakan bahasa Jawa. Malah fasih sekali mirip logatnya orang Tulung Agung maupun Kediri. Akhirnya obrolan kita selama seminggu di sana yah pakai bahasa Jawa.

Rasa Martabak Yang Benar-Benar Beda

Penjual martabak kalau di tempat saya selalu menjual dengan berbagai variant isi. Ada yang pakai daging ayam, daging sapi, double telur ayam, telur bebek dan lain sebagainya.

Kalau di Lampung malah beda, martabaknya terasa manis dengan variant isi keju, susu, cokelat dan topping manis lainnya.

Ada yang aneh tidak?

Ternyata bagi masyarakat Lampung, nama “martabak” itu sama artinya dengan “terang bulan” di tempat saya. Sedangkan martabak yang saya maksud, tidak tersedia di sini.

Wah sebenarnya bisnis martabak ini cocok dikembangkan di lampung. Toh belum ada saingannya di sini. Kalau di tempat saya, penjual martabak selalu bergandengan dengan menu terang bulan.

Lampung Ternyata Sepanas di Kota Saya

Saya kira pulau Sumatra akan terasa lebih sejuk, mengingat banyak bukit dan pegunungan di sana. Namun setelah seminggu berada di sana, saya putuskan bahwa panasnya Lampung sebangsa dengan Surabaya dan sekitarnya.

Untuk airnya sendiri cukup segar sama seperti air di tempat saya. Namun saya heran kalau sudah Subuh, udaranya cukup menusuk. Bahkan saya berkali-kali mengigil walaupun cuma wudhu saja.

Berbanding terbalik saat siang hari, keringat saya bercucuran. Bahkan saya merasa cuaca di Sukadana ini lebih “sumuk” dari pada di tempat saya. Bahkan hingga malam pun terkadang saya merasa kegerahan.

Baca Juga :  Pilih Tinggal di Rumah Sendiri Atau Rumah Mertua/Orang Tua Setelah Menikah?

Yah beruntung di tiga hari terakhir, hujan deras menghuyur Lampung tiap siang hari. Jadi tiga hari terakhir udara di sana terasa lebih sejuk dari pada 5 hari sebelumnya.

Kecewa Karena Tidak Bisa Jalan-jalan di Lampung

Sebenarnya urusan teman saya itu hanya butuh 5 hari, namun saya harus nunggu sampai 8 hari di sana dikarenakan tuan rumah belum gajian.

Apa hubungannya dengan gajian?

Ada dong ! kan yang membiayai perjalanan pulang juga tuan rumah. Akhirnya kita menunggu tiga hari lagi agar bisa pulang ke Jawa.

Selama 3 hari tersebut, sebenarnya saya ingin mengajak tuan rumah jalan-jalan. Yah setidaknya pengen lihat Lampung itu seperti apa.

Namun sangat disayangkan bahwa si tuan rumah ini kurang peka. Diam di rumah saja itu menjenuhkan, apalagi sampai tiga hari tanpa melakukan kesibukan yang lainnya.

Namun pada hari terakhir saya baru tau alasannya. Alasannya karena motornya belum ada STNK nya. Entah karena masalah apa, jadwal keluar STNK nya harus nunggu sampai 6 bulan begitupun dengan plat kendaran bermotornya.

Jadi selama di Lampung, saya hanya jalan-jalan ke pasar Tridatu dan pasar Way Jepara untuk beli makanan maupun beli keperluan lainnya. Padahal saya ingin berkunjung ke Way Kambas atau wisata lainnya di lampung.

Tapi ya sudahlah, toh memang tujuan kita ke sana memang bukan untuk berlibur.

Sampai Pulangpun Saya Tidak Bisa Menikmati Pemandangan Lampung Dan Berfoto di Sana

Rencana awal saya dan teman saya adalah pulang menggunakan travel dari lampung sampai Jakarta, kemudian lanjut menggunakan Bus malam sampai di Surabaya.

Tujuannya sih agar bisa menikmati Lampung sewaktu perjalanan pulang. Kan kalau pakai travel, berangkatnya pagi sekali sedangkan jadwal bus Malamnya itu sekitar jam 5 sore. Jadi perkiraan tidak sampai ketinggalan Bus lah.

Bayangan saya juga ingin membeli oleh-oleh khas Lampung saat perjalanan pulang ataupun sekedar foto di tempat yang sedang trendi di Lampung. Saya tuh pengen banget berfoto dekat menara siger di Bakauheni.

Namun perencanaan hanya sekedar perencanaan. Pada akhirnya saya dan teman saya sudah dibelikan tikel bus lintas pulau. Saya hanya nunggu di terminal perhentian di sukadana dan diantar sampai ke Surabaya.

Dan bagusnya lagi jam keberangkatan dari Sukadana itu ba’da Maghrib. Pada akhirnya saya tidak bisa berfoto dekat menara siger, bahkan melihat menaranya pun saya tak bisa. Karena saya sampai di Bakauheni sekitar pukul 9 malam.

Akhirnya saya hanya punya foto saat merindukan istri saat di tempat tuan rumah dan satu foto lagi saat berada di atas kapal ferry menuju Tanjung Merak.

Selamat tinggal Lampung, semoga di lain waktu saya mendapat undangan lagi ke sana. Yah kalau bisa Gratis lagi, hehehe.

Yah setidaknya banyak pengalaman yang saya dapat selama perjalanan ini. Kalaupun saya pergi ke sana lagi, InsyaAllah saya tidak akan binggung bagaimana cara menuju ke sana maupun bagaimana caranya pulang.

#Menuju Bahagia Dan Melampauinya

[AI]

Advertisements
Share This :

2 Replies to “Hal Yang Saya Rasakan Saat Pertama Kali Ke Lampung”

  1. wah, kukira bakalan ada foto jalan2nya meski dikit, ternyata tidak. hehe.

    1. Nggak ada hehehehe

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.