Ketika Rindu di Kala Jarak Memisah

Pengalaman Naik Pesawat Terbang Untuk Pertama Kalinya

Akhirnya saya merasakan sendiri bagaimana beratnya cinta yang terhalang jarak ratusan hingga ribuan kilometer. Rasa sayang dan rindu yang tak kunjung terpenuhi, meyeruak masuk ke dalam kalbu. 

Long Distance Is Killing Me

Dulu saya hanya mengira-ngira bahwa hubungan jarak jauh itu tidaklah terlalu sulit untuk dijalani. Mengingat bahwa teknologi sekarang bisa membuat yang jauh seakan menjadi dekat.

Namun setelah mengalaminya sendiri selama seminggu. Ternyata begini yah beratnya hubungan jarak jauh itu.

Dulu sekitar tahun 2017, saya pernah kok merasakan hubungan jarak jauh seperti ini. Malah saya di sana menginap selama dua minggu. Saya cukup bahagia kok selama di Indramayu dan tidak merasakan rindu seberat saat di Lampung.

Namun kenapa rasanya kali ini sungguh berbeda yah?

Apakah karena kadar rasa sayang dan cinta saya semakin tinggi dari pada dua tahun yang lalu.

Mungkin waktu di Indramayu dulu, saya tidaklah sendiri. Banyak teman satu perusahaan yang sama-sama berada satu kontrakan yang sama. Di tambah lagi orang Indramayunya sendiri juga cukup welcome dengan hadirnya kami di sana.

Di Lampung juga sama sih. Tuan rumah juga sangat welcome dan sangatlah akrab dengan saya. Saya juga bersama teman yang sudah saya anggap sebagai kakak saya dan saya sangat menghormati beliau.

Mungkin bedanya adalah waktu luang dan kesendirian.

Jika di Indramayu, waktu luang saya cukup sedikit. 8 jam saya habiskan untuk training karyawan baru di sana dan sisanya masih ditemani dengan teman-teman lainnya di kontrakan.

Kalau di Lampung memang sedikit lebih banyak waktu sendiri sih. Di saat teman saya sedang ngobrol via telephone, namun saya hanya bisa menghela nafas panjang.

Saya dan istri adalah typikal yang jarang pegang HP apalagi kalau sudah di rumah. Jadi saat saya chat istri, bisa satu sampai tiga jam baru di balas. Saat dibalaspun saya sedang sibuk di sana dan baru lihat setelah beberapa jam. 

Sebenarnya di Indramayu juga sama sih. Intinya komunikasi kita melalui telepon juga tidak selalu mulus.

Terus mengapa saat di Lampung rasa rindu ini begitu menggebu-gebu?

Mungkin Lampung memiliki magic yang sangat unik. 

Ketika Jarak Yang Tiba-Tiba Memaksa Untuk Merindu lebih Dalam

Source image : pexels.com

Tau tidak apa yang bisa membuat kalian merindukan sesuatu?

Menurut saya adalah moment itu sendiri.

Dibilang saat di Indramayu saya tidak terlalu merindu itu tidak sepenuhnya benar. Saya sempat kok hampir meneteskan air mata saat melihat anak kecil umur 2 tahunan yang berjalan di pinggir saya saat berada dalam kereta.

Melihat anak kecil itu serentak hati ini mengingat anak saya yang masih sangat lucu-lucunya.

Baca Juga :  Ikutan Demam “Om Telolet Om” Juga

Begitupun saat di lampung yang melihat anak tuan rumah yang sering rebutan antara si kakak dan adiknya. Saya jadi inagt bahwa kedua anak saya juga melakukan itu saat di rumah.

Bagaimana dengan rindu dengan istri?

Berbeda saat di Indramayu, entah kenapa rasa rindu kepada istri begitu terasa sangat dalam. Bahkan saya merasa seperti saat pacaran (tunangan) dulu. Ada getaran yang menginginkan untuk terus bertemu.

Hal ini semakin dalam ketika rencana awal hanya 3 hari yang mundur sampai satu minggu. Fix dua hari terakhir perasaan saya sangatlah melow dan penuh drama.

Ketika Video Call Tak Mampu Menghilangkan Rasa Rindu

Melihat teman saya yang sering video call’an dengan istrinya, saya jadi ingin ikut-ikutan biar rasa rindu ini bisa berkurang. Namun apa daya bahwa tidak hanya jarak saja yang memisahkan kita, namun waktu juga sangat sulit untuk bisa selaras.

Alasan utama kenapa saya dan istri jarang sekali memakai gadget adalah karena anak saya yang paling kecil suka sekali merebutnya. 

Jadi disaat video call’an mulai dari istri, orang tua hingga anak pertama yang berlangsung lama. Namun disaat giliran anak terakhir, video call’an hanya berlangsung sekejap. Baru ngobrol sebentar, langsung di tutup panggilannya.

Anak saya paling kecil ini paling tidak suka yang namanya video call. Padahal si kecil inilah yang buat saya makin rindu dengan tingkahnya.

Bahkan Komunikasi Melalui Teknologi Malah Bikin Suasana Semakin Buruk

Source image : Loop.co.id

Hal yang paling tak terhindarkan dalam hubungan jarak jauh adalah masalah kesalahpahaman. Yah setidaknya begitulah yang saya alami selama seminggu di Lampung.

Banyak hal sih yang membuat saya dan istri jadi banyak salah paham. Mungkin bagi orang lain masalah kita hanyalah masalah sepele. Namun juga tidak, jika masalah ini dihadapi saat berada dalam hubungan jarak jauh seperti ini.

Ketika rasa sayang tak mampu menundukkan emosi sesaat dan pelukan hangat tak bisa tersampaikan melalui suara maupun video call. Di situlah ujian dari hubungan jarak jauh itu dimulai.

Mungkin benar kalau masalah hati dan rasa percaya masih bisa diusahakan. Setidaknya bisa dilakukan dengan mengenggam erat-erat rasa cinta masing-masing pada pasangan. Jadi ujian seperti perselingkuhan dan semacamnya itu akan minim terjadi.

Namun yang lebih berat dari pada itu adalah masalah kenyamanan hati pasangan. 

Misalnya istri lagi capek-capeknya mengurusi pekerjaan rumah, kemudian terbebani masalah lain yang membuat semakin capek. Belum lagi dia sedang PMS yang bikin emosinya meninggi. Disaat itulah suami harus bisa jadi penenang atau setidaknya memberi kenyamanan yang bisa menghilangkan beban dipikiran istri. 

Komunikasi adalah kunci dari kenyamanan ini.

Nah kalau pasangan suami istri ini berada dalam hubungan jarak jauh bagaimana memupuk rasa nyaman?

Baca Juga :  Bekerja Malam Hari! Tidak Buruk Juga Kok

Di situlah problemnya.

Saya sendiri juga masih belum menemukan rumus yang pas dalam mengatasi problematika ini. Hal itulah yang membuat hati saya galau di dua hari terakhir saat di Lampung. Dan saya kapok dan tidak ingin melakukan hubungan jarak jauh lagi, hehehe.

Berat Cuy….

Saya salut dengan mereka yang bisa memanage rasa nyaman saat menjalani hubungan jarak jauh semacam ini. 

Bukan hubungan yang tanpa masalah yah, semua hubungan pasti ada aja masalahnya. Namun apapun masalah saat berhubungan jarak jauh, mereka masih bisa mengatasinya dan tetap berbahagia.

Eh bentar! Yang saya maksud hubungan jarak jauh ini levelnya dalam tingkatan sudah nikah yah, kalau masih pacaran mah, sama aja dengan jomblo kali, hahahaha.

Yah Sejatinya Rindu Hanya Bisa Terobati Ketika Sudah Bertemu

cinta antara laki-laki dan wanita
Source image by Stocksnap.io

Jika ada yang tanya “Apa obat dari rasa rindu?” Maka saya akan jawab sekarang juga.

Obatnya adalah bertemu.

Namun taukah kalian cara jitu menumbuhkan rasa sayang dan rindu kepada pasangan? Kalau kalian mau tau, jawabnya adalah jarak dan waktu.

Dengan adanya jarak, kalian akan menyadari bahwa pasangan hidup itu penting bagi kesehatan tubuh dan pikiran sehari-hari. Waktu juga ikut andil dalam hal ini.

Soalnya kalau cuma sehari mah, rasa kangen tak akan terpupuk dengan benar. Butuh setidaknya waktu yang cukup lama agar rasa cinta yang terpendam dalam menjadi semakin merindu.

Tapi kalau kata Mbak Ida bilang ke saya bahwa kalau kangen saat LDR’an sih biasa, tapi kalau kangen tiap hari padahal tiap hari ketemu itu baru luar biasa.

Ah apalah daya saya yang masih terus belajar menumbuhkan rasa kangen di dada. Setidaknya perjalanan ini memiliki andil dari pelajaran tentang rindu ini.

Saya sangat bersyukur sekali dengan adanya perjalanan ke Lampung kali ini. Tidak hanya karena bisa merasakan pengalaman naik pesawat terbang untuk pertama kalinya. Ataupun karena bisa melihat Lampung dari dekat.

Namun dengan perjalanan kali ini saya banyak belajar bahwa perkataan Dilan tentang “rindu itu berat“ memang benar adanya. 

Selain itu, menjalani hubungan jarak jauh juga bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Cinta itu butuh kenyamanan. Namun bagiku, kenyamanan akan sangat sulit dilakukan ketika jarak yang memisahkan.

Kesimpulannya: 

Jangan rindu… itu berat, biar Dilan saja.

Kita cukup bahagia dengan c ara kita, jangan tiru Dilan. OK

#Menuju Bahagia Dan Melampauinya

[AI]

Advertisements
Share This :

2 Replies to “Ketika Rindu di Kala Jarak Memisah”

  1. Kak, ini relate banget sama aku sekarang :’) Kadang suka nyeletuk, haduh LDR rasa jomblo kemana-mana sendiri 🙁 Apalagi kalau lagi dalam mood jelek, yang kadanga pengennya cuma di temenin tanpa harus ngetik teks atau ngomong di telfon ;(

  2. Serindu2nya kalo ngga ketemu langsung yah memang serasa belum lunas rindunya. Pernah juga ngerasa ky gini, baru nikah harus pisah 2 bulan karena pekerjaan.

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.