Sudahkah Kita Mendewasa Seiring Bertambahnya Usia?

Sudahkah kita mendewasa seiring bertambahnya usia? Entahlah. Yang jelas kita akan semakin tua seiring bertambahnya usia. Menjadi tua itu pasti sedangkan menjadi dewasa itu pilihan.

Baik. Sebenarnya judul artikel kali ini hanya untuk pemanis saja (lagi). Biar artikel tentang topik “Dewasa” bertambah. Eh, maksudnya topik dewasa di sini bukan tentang cerita dewasa yang itu loh?

Contohnya seperti artikel “apa arti kedewasaan sebenarnya” dan juga “4 hal yang mungkin menjadikanmu semakin dewasa”.

Dengan begitu variasi artikel dengan topik demikian makin banyak yang terdeteksi oleh mesin pencari. Apalagi saya juga sudah menautkan dua artikel yang relate dengan judul tersebut seperti paragraf di atas. Wkwkwkwk.

Riview Singkat Drama Korea It’s Okay to Not Be Okay

Riview Singkat Drama Korea It's Okay to Not Be Okay
Sumber : lendyagasshi.com

Kali ini saya ingin cerita tentang drama korea yang baru-baru ini sudah saya tonton hingga episode terakhir. Judulnya It’s Okay to Not Be Okay atau Psycho But It’s Okay.

Drama yang menceritakan hubungan asmara yang tidak biasa. Keduanya memiliki masa lalu yang kelam dan saling bertautan. Seiring berjalannya waktu, mereka saling menyembuhkan luka emosional dan psikologis satu sama lain.

Ceritanya cukup unik menurut saya, terutama tentang ketiga karakter utama di drama ini. Tokoh utama laki-lakinya diperankan oleh Kim Soo-Hyun sebagai Mon Gang-Tae.

Di sini dia berperan sebagai seorang laki-laki munafik yang menganggap hidupnya tak seperti orang normal pada umumnya. Dia bekerja di rumah sakit dengan berempati membantu banyak orang. Namun kenyataannya dia berjuang untuk dirinya sendiri agar lepas dari masa lalunya.

Dia memiliki seorang kakak bernama Moon Sanng-Tae penderita autis yang mengalami trauma akibat melihat secara langsung pembunuhan ibu kandungnya. Karena trauma yang diderita kakaknya ini, Moon Gang-Tae dan kakaknya selalu pindah-pindah tempat saat musim semi di mana banyak kupu-kupu yang berterbangan.

Peran wanitanya diperankan oleh Seo Ye-Ji sebagai Ko Moon-Young. Seorang penulis buku dongeng anak-anak yang menderita gangguan kepribadian antisosial. Karakternya sangat menarik, dia gadis yang tak memiliki perasaan dan suka meledak-ledak emosinya.

Dia memiliki masa lalu yang sangat kelam. Tinggal bak putri raja yang tinggal dalam sebuah istana, namun kehidupannya sangat menakutkan karena cara didik orang tuanya yang salah.

Dalam ceritanya, ketiga peran utama ini sudah saling bertemu semasa kecil dulu. Moon-Young pernah menyelamatkan Gang-Tae saat tenggelam dalam danau es. Pertemuannya kembali juga cukup menarik dan berdarah-darah. Hahaha.

Pengen tau ceritanya lebih lanjut? Lebih baik lihat sendiri biar tidak penasaran. Saya ogah spoiler lebih lanjut. Wkwkwkwkw.

Baca Juga :  Candaan Yang Menyesatkan

Terdapat Pesan Dari Buku Dongeng di Drama Korea It’s Okay to Not Be Okay

Dongeng di Drama Korea It's Okay to Not Be Okay
Sumber : lendyagasshi.com

Dari semua cerita dari drama tersebut, yang paling saya suka adalah tentang buku dongeng yang ditulis oleh ko Moon-Young sendiri. Ada 5 buku dongeng dalam cerita tersebut dan setiap cerita ada pesan moralnya.

Uniknya, pesan moralnya itu diaplikasikan pada setiap alur dari drama tersebut. Jadi kita bisa lihat contoh masalah yang terjadi beserta dampak dari masalah tersebut.

Yang paling saya suka adalah cerita dongeng berjudul The Boy Who Fed on Nightmares.

Dalam buku dongeng tersebut menceritakan seorang anak laki-laki yang memilki mimpi buruk dari kenangan masa lalu. Dia terus bermimpi setiap malam dan terus terganggu akan hal itu.

Suatu ketika dia bertemu dengan seorang penyihir dan meminta agar kenangan buruk dan penderitaannya hilang. Dia memohon akan memberikan apapun yang penyihir minta darinya.

Seiring berjalannya waktu, anak laki-laki itu tumbuh dewasa. Ironisnya, meskipun mimpi buruk dan penderitaannya hilang, dia tak merasakan bahagia sekalipun.

Waktu yang ditakdirkan tiba ketika penyihir menagih janji anak laki-laki itu. Anak laki-laki itu berteriak penuh kebencian sambil bertanya pada penyihir tersebut.

“Semua kenangan burukku hilang, tapi kenapa aku tidak bahagia?”

Sesuai dengan perjanjian, penyihir mengambil jiwa anak itu, dan berkata,

Kenangan yang menyakitkan. 
Kenangan akan penyesalan.
Kenangan saat melukai dan dilukai. 
Kenangan saat dibuang dan kembali.

Orang yang bisa tumbuh bersama semua kenangan itu, 
akan menjadi lebih kuat, bersemangat, 
dan mudah menyesuaikan diri.

Orang seperti itu yang bisa mendapatkan kebahagian.

Ingatlah dan hadapi. Jika tak dihadapi, 
kau hanya selalu menjadi anak kecil dengan jiwa yang tak bertumbuh.

Keren kan pesan moralnya?

Itu masih satu buku dongeng loh? Masih ada 4 dongeng lagi di drama ini. Seperti Kisah hidup zombi (Zombie Kid), Anjing musim semi (The Cheerful Dog), Tangan dan sang monkfish (The Hand, the Monkfish), dan Mencari jati diri sesungguhnya (Finding the Real Face).

Hal Yang Menarik di Drama Korea It’s Okay to Not Be Okay

Riview Singkat Drama Korea It's Okay to Not Be Okay
Sumber : kumparan.com

Secara keseluruhan drama ini sangat menarik. Karakter peran utama dan peran pembantunya yang ok punya. Banyak komedinya, romantis dan sedih juga.

Kisah psikologi yang diangkat di drama ini juga cukup menarik. Seperti pasien yang menderita kepribadian ganda karena masa lalunya mendapatkan perlakukan kasar dari orang tuanya. Ada juga anak yang depresi karena tertekan oleh orang tuanya dan jarang diperhatikan. Sehingga dia ingin mendapat perhatian dengan melakukan telanjang bulat.

Baca Juga :  Mempererat Hubungan Dengan Jabat Tangan

Peran utamanya Sang-Tae (kakak dari Moon-Tae) juga seorang autis. Saya justru suka fokus melihat adegannya. Hal ini mengingatkan saya pada film My Name is Khan yang juga seorang autis.

Di sini saya melihat perbuatan dan perkataan dari seorang autis justru memberikan banyak solusi dari kedua peran utamanya. Berawal dari sang kakak inilah topeng kepalsuan dari sang adik mulai terbuka. Begitupun tong kosong juga mulai berisi ketika ketiganya saling melengkapi.

Setting tempatnya juga terlihat menarik meskipun untuk kastilnya sendiri menggunakan teknologi CGI. Hal ini saya ketahui setelah cari-cari informasi dimana kastil dalam hutan seperti itu ada. Hehehe, saking keponya sepertinya.

Jalan menuju kastilnya saat malam hari juga keren dan menyeramkan. Kalau di Indonesia, jalan seperti itu pasti sudah dilabeli “angker dan banyak penghuninya”.

Kesimpulan Setelah Lihat Drama It’s Okay to Not Be Okay

Source image by stocksnap.io

Kesimpulan dari drama ini adalah menjadi dewasa itu tidaklah mudah.

Seperti kutipan dari dongeng The Boy Who Fed on Nightmares “Ingatlah dan hadapi. Jika tak dihadapi, kau hanya selalu menjadi anak kecil dengan jiwa yang tak bertumbuh.”

Menjadi anak kecil dengan jiwa tak bertumbuh. Ini sama artinya dengan menjadi dewasa secara fisik namun tetap menjadi anak kecil secara karakter dan mental.

Seperti di drama tersebut. Jika kita tidak bisa menghadapi mimpi buruk maupun masa lalu yang kelam. Kita tidak akan menjadi pribadi yang dewasa.

Tak apa untuk merasa tidak baik-baik saja, semua orang juga mengalami hal yang sama. Lari bukanlah sebuah pilihan. Hadapilah secara pelan-pelan, masalah tak ubahnya ujian untuk membuat kita naik kelas.

Jika lelah, beristirahatlah. Jika sedih, menangislah. Yang penting tetap berjuang. Bukankah tetap berjuang juga termasuk kedewasaan?

Menurut saya, menjadi dewasa itu bukan tentang cara pandang orang yang mengatakan kita telah dewasa. Entah penilaian itu dinilai dari melihat perbuatan baik kita atau secara global melihat cara kita menyikapi sesuatu.

Dewasa itu tentang diri masing-masing. Kita ini adalah manusia yang banyak salah. Kita tak lebih munafik dari orang lain. Hal yang kita lakukan baik belum tentu hati kita sebersih apa yang kita lakukan.

Mendewasa adalah cara kita berjuang dalam perbaiki diri dan hadapi setiap kenyataan hidup yang terjadi. Meskipun kelamnya masa lalu, sulitnya masa kini, dan remangnya masa depan

AI

#Menuju Bahagia Dan Melampauinya

[AI]

Advertisements
Share This :

2 Replies to “Sudahkah Kita Mendewasa Seiring Bertambahnya Usia?”

  1. Aku suka

  2. ternyata ngomongin drakor….

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.