Menjadi Egois Dengan Cara Paling Elegan

“Terkadang aku berharap aku hanya awan, mengambang di sepanjang langit.” – Shikamaru Nara.

Dari dulu saya sangat menyukai awan. Berbentuk putih terkadang menghitam. Sesekali abu-abu namun selalu menjadi jingga saat senja. Bergerak kemana pun angin berhembus, namun sesekali berkumpul dan memberikan keteduhan.

Sejak lama saya suka menyendiri, namun juga tidak membenci saat bersama. Jarang bersuara, namun banyak cerita kalau sudah waktunya.

Entahlah, kelabilan saya sudah terlalu akut untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Karena karakter tersebut, saya pernah diplot sebagai penghianat dan “tak setia”. Tak mau ikut berjuang bersama, namun tetap saja menerima dan menikmati hasil yang sama.

Mungkin benar jika memperjuangkan hak adalah kewajiban setiap orang. Setidaknya dengan berjuang, seseorang akan merasa tidak diinjak-injak harga dirinya oleh pihak lainnya.

Namun setiap manusia punya cara sendiri dalam membenarkan tindakannya. Begitu juga dengan saya.

Menjadi egois dengan cara paling elegan
Source image : unsplash.com

Jika diumpamakan saya adalah sebongkah awan, maka yang menjelma sebagai angin adalah hati.

Egois…! Tentu.

Saya adalah seorang yang cukup egois dan keras kepala kalau menyoal bahagia.

Bagi saya, bahagia adalah suatu hal yang saya lakukan bersama hati. Jika di hati saya tidak menyukainya, maka berat bagi saya untuk merasa “bahagia” saat melakukannya.

Mungkin bagi kalian menyebutnya sebagai “memperjuangkan hak”, namun bagi saya tak lebih dari sekedar “mengeluh”.

Apalagi tindakan heroik kalian hanya terlihat sebagai expresi marah dan kecewa di mata saya. Ditambah lagi kalian dengan mudahnya menghina dan berkata “tak setia” tanpa tahu alasan sebenarnya.

Saya tidak mengatakan apa yang kalian perjuangkan adalah sesuatu yang salah. Bahkan saya mengerti benar bahwa perjuangan yang kalian lakukan itu untuk kebahagiaan banyak orang juga.

Baca Juga :  Favorit Movie Yang Masih Suka Lihat Walau Sudah Diputar Berulang-Ulang Di Televisi

Namun bukan berarti apa yang saya lakukan itu salah. Bahkan setiap kita tidak memilki rumus pasti untuk menjadi benar di dunia yang fana.

Apalagi manusia adalah makhluk sempurna yang bisa membenarkan ke-egoisan mereka dengan cara paling elegan menurutnya

Bukankah begitu keadaannya?

Mungkin sudut pandang kita saja yang beda. Antara memperjuangkan maupun menjalani sesuatu dengan apa adanya.

Mungkin hasilnya juga akan sama. Tinggal bagaimana kita punya andil dalam menyikapi dan mengekpresikannya. Toh, setiap kita juga ingin bahagia, terlepas bagaimanapun cara menjalani dan cara mencapainya.

Bukannya hidup adalah sebuah pilihan. Bahkan memilih untuk “tidak memilih” juga termasuk sebuah pilihan, bukan? Terus apa yang kalian ributkan.

Lagi-lagi karakter “awan” membuat saya lebih egois dan keras kepala. Tapi anehnya, saya menyukainya.

Karena hidup tak akan lebih indah jika semua pemain menjadi peran utamanya. Butuh setidaknya peran pembantu dan peran antagonis biar menjadi sebuah cerita.

Tak apa jika kalian marah dan kecewa. Nikmati saja keadaannya. Suatu saat kalian akan mengerti arti “bahagia” di posisi saya berada. Tentunya dengan melihat dari sudut pandang yang berbeda.

#Menuju Bahagia Dan Melampauinya

[AI]

Advertisements
Share This :

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.