Bagaimana Rasanya Setelah Menikah ?

rasanya Setelah menikah

“Bagaimana rasanya setelah menikah?”

Ketika kalian berada di fase sangat awal sebuah pernikahan, pernah tidak kalian ditanyai pertanyaan semacam itu oleh teman ataupun orang yang kalian kenal di sekitar kalian?

Kalau saya sih pernah, mungkin sebagian dari kalian juga pernah mengalaminya. Soalnya tingkat ke-kepo-an seseorang terhadap kita yang baru menikah itu cukup besar biasanya.

Pertanyaannya juga cukup beragam.

Ada yang tanya hanya sekedar ingin mendengarkan cerita kita, ada juga yang ingin belajar dari pengalaman kita, dan ada juga yang bertanya hanya untuk mengoda kita. Kebanyakan dari mereka sih bermotif menggoda.

Seperti obrolan teman kerja yang saya dengar pagi ini. Pertanyaannya sih simple, namun saya menyukai jawaban jujur darinya.

👳 : Setelah nikah, datangnya pagi terus. Rumahnya jadi deket sih
👱 : Iya dong...
👳 : Gimana kabarnya? Gimana rasanya setelah menikah? Enak nggak?
👱 : Capek!
👳 : Kok bisa?
👱 : Yah capek lah. Dulu sewaktu single, pulang kerja langsung bisa rebahan. Kalau sekarang, pulang kerja harus masak, nyapu, belum nyuci dan berbagai kesibukan lainnya.
👳 : Hahaha. Wajar dong, kan statusnya sudah jadi Ibu rumah tangga.
👱 : Saya jadi kepikiran mereka yang menikah di usia dini. Apa yang mereka pikirkan menikah di usia segitu?
👱 : Padahal kalau sudah menikah itu ribet banget. Mau jalan-jalan tidak bisa leluasa. Beda ketika masih single dulu, pengen jalan-jalan tinggal atur jadwal dan berangkat sesuai perencanaan.
👱 : Saat libur kerjapun masih ada tugas harian menunggu di rumah. Pokoknya enakan single.
👳 : (laki-laki itu tertawa)

Mendengar percakapan mereka, saya cuma bisa manggut-mangut dan tersenyum dalam hati.

Saya menyukai jawaban cewek tersebut yang mengambarkan lelahnya kehidupan setelah pernikahan versinya. Dan saya rasa banyak istri merasakan hal yang sama di awal-awal pernikahan.

Baca Juga :  #RAMADHAN PUNYA CERITA : Ngabuburit dengan Sepupu Yang Yatim

Beban Seorang Istri

Rasanya setelah menikah
Source image by Stocksnap.io

“Pokoknya enakan single”. Mungkin ada benarnya bahwa single memiliki banyak waktu luang untuk membahagiakan diri sendiri.

Saat single, banyaknya cucian hanya sebatas baju kotor pribadi yang bisa dicuci setiap 2-3 hari sekali. Kalau sudah nikah bahkan sudah punya anak, baju kotor akan menumpuk kalau tidak di cuci setiap hari.

Soal makanpun single bisa saja makan seenaknya jidatnya. Kalau sudah nikah, mau makan sendirian itu rasanya tidak pantas saja. Setidaknya butuh izin atau sekedar ajakan makan bersama sebelum memutuskan makan sendirian.

Memasakpun juga harus memperhatikan sekeliling juga. Misalnya kita doyan banget yang namanya udang, namun pasangan kita alergi pada udang. Tak mungkin kita memaksakan masak udang untuk hidangan makan sekeluarga.

Masalah finansialpun tak kalah meletihkan. Dengan memutuskan menikah, berarti pengeluaran harian menjadi dua kali lipat lebih besar dari pada waktu single.

Mungkin karena alasan itu, banyak istri yang memutuskan tetap bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Yang Bikin Dilema Adalah Seorang Istri Yang Masih Bekerja

happy ethnic woman sitting at table with laptop
Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Berat ! tentu saja. Capeknya itu luar dalam.

Seharian dia bekerja selayak suaminya. Namun saat di rumah, pekerjaan istri masih berlanjut hingga menjelang tidur. Kadang mau tidurpun, istri masih saja diajak begadang oleh suaminya. Dasar suami tak tahu diri, hahahaha.

Jadi wajar banget kalau istri itu lebih mudah stress dari pada suami. Apalagi kalau istrinya juga memiliki kesibukan pekerjaan sendiri di luar rumah.Belum lagi kalau ada konflik masalah keluarga.

Tahu sendiri kan, fase awal pernikahan itu biasanya banyak konflik terjadi. Konflik dengan pasangan, ketidakcocokan dengan keluarga pasangan, belum lagi masalah finansial dan gosip tak sedap dari tetangga yang celometan.

Baca Juga :  Hal-Hal Yang Perlu Dibicarakan Antara Calon Suami Dan Istri Sebelum Hari Pernikahan

Apalagi kalau sudah punya anak. Status istri itu bisa menyandang banyak gelar. Yah jadi istri, jadi menantu, jadi seorang Ibu dan juga seorang karyawan.

Jadi tak salah kalau dia mengatakan menikah itu melelahkan.

Jadi, Apakah Menikah Itu Untuk Jadi Melelahkan?

wedding couple sitting on green grass in front of body of water at sunset
Photo by freestocks.org on Pexels.com

Seharusnya sih tidak. Melelahkan jika mengurus pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci dan menyapu dianggap kewajiban istri semata. Apalagi kalau ditambah mengurusi anak sembari bekerja.

Nah tugas suami apa dong? Cuma memberi nafkah lahir dan batin doang? ENAK DONG

Menikah itu untuk berbahagia BERSAMA. Jadi sepatutnya tugas harian keluarga di tanggung bersama-sama agar menjadi lebih ringan.

Lagian semua pekerjaan rumah bukanlah kewajiban istri saja. Istri memang punya tanggung jawab dalam berumah tangga, namun mengurus rumah dan anak merupakan tugas bersama suami.

Jadi, butuh keterbukaan antara istri dan suami, minimal ada kesepakatan akan tugas apa yang bisa dilakukan masing-masing.

Kalau saya sih biasanya saling berbagi tugas. Kalau istri yang nyuci, saya bagian membilas, kemudian kita sama-sama menjemurnya.

Terkadang istri sibuk mengurusi suatu hal sehingga tidak bisa menyapu, maka saya yang menggantinya menyapu. Begitupun untuk mengurusi anak-anak.

Intinya, kalau dikerjakan sama-sama, hal yang melelahkan itu bisa jadi menyenangkan. Kalau tidak bisa melakukannya sendiri, minta tolonglah kepada pasangan.

Karena sejatinya sebuah pernikahan itu untuk saling melengkapi, bukan untuk saling membebani.

[AI]

Advertisements
Share This :

Yuk tuliskan unek-unek kalian di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.